Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8/2026) berdampak pada ribuan warga di sedikitnya tujuh kabupaten. Kerusakan rumah, jalan, dan fasilitas umum membuat sebagian warga harus meninggalkan rumah dan bertahan di tempat pengungsian.
Wahana Visi Indonesia (WVI) telah menurunkan tim tanggap bencana sejak hari pertama gempa. Organisasi kemanusiaan tersebut menargetkan bantuan bagi 25.000 warga terdampak, termasuk 12.000 anak-anak, selama tiga bulan masa respons bencana.
Disaster Management Manager WVI Fransisco Fernando mengatakan, kondisi di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala, terutama akses menuju wilayah terdampak dan komunikasi.
“Berdasarkan pantauan tim kami yang berada di enam kabupaten, kendala terbesar saat ini adalah akses dan komunikasi,” kata Fransisco kepada Good News From Indonesia.
Enam kabupaten yang menjadi lokasi pemantauan WVI yakni Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, dan Ende. Di sejumlah wilayah, jaringan komunikasi masih terganggu sehingga informasi mengenai kondisi warga tidak selalu dapat diterima dengan cepat.
Rumah Rusak, Warga Butuh Tempat Tinggal Sementara
Kerusakan rumah menjadi salah satu persoalan yang paling dirasakan warga setelah gempa. Sebagian keluarga belum dapat kembali ke rumah karena bangunan mengalami kerusakan dan dinilai belum aman untuk ditempati.
“Banyak rumah mengalami kerusakan sehingga keluarga tidak dapat kembali ke rumah mereka,” ujar Fransisco.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan tempat tinggal sementara menjadi prioritas. Namun, ketersediaan terpal dan material shelter di sejumlah wilayah juga terbatas dan sulit diperoleh di pasar lokal.
WVI telah mendistribusikan 104 paket tenda keluarga di Kabupaten Manggarai, 46 paket di Manggarai Timur, dan 27 paket di Manggarai Barat. Selain itu, 157 paket terpal keluarga disalurkan di Nagekeo dan 17 paket di Manggarai Barat.
Paskalis Jangkar, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Puskesmas di salah satu kecamatan di Manggarai Timur, mengatakan masyarakat masih mengalami ketakutan setelah gempa.
“Masyarakat merasa sangat terguncang dengan gempa yang terjadi. Banyak rumah rubuh atau rusak dan merasa takut,” kata Paskalis.
Menurut dia, bantuan yang datang pada hari yang sama membantu warga mendapatkan tempat tinggal sementara sembari menunggu situasi membaik.
Air Bersih dan Kebutuhan Anak Jadi Perhatian
Selain tempat tinggal, kebutuhan air bersih mulai menjadi perhatian di sejumlah wilayah. WVI telah menyalurkan air bersih di Kabupaten Nagekeo dan Ngada sembari melakukan pemetaan terhadap daerah yang mengalami gangguan akses.
Kebutuhan lain yang masih diperlukan mencakup perlengkapan kebersihan, selimut, kebutuhan rumah tangga dasar, serta perlindungan bagi anak-anak dan kelompok rentan.
“Bantuan sudah mulai bergerak dari pemerintah, organisasi kemanusiaan, komunitas lokal, dan berbagai pihak lainnya. Namun karena luasnya area terdampak, kondisi geografis Flores, serta masih adanya hambatan akses, kebutuhan di lapangan masih lebih besar dibandingkan bantuan yang telah tersedia saat ini,” ujar Fransisco.
WVI juga memberikan dukungan psikososial bagi anak-anak di Manggarai Barat dan Ende. Bantuan tersebut menjadi bagian dari respons karena anak-anak termasuk kelompok yang membutuhkan perhatian khusus dalam situasi bencana.
Ke depan, WVI berencana menyediakan perlengkapan tempat tinggal darurat, perlengkapan kebersihan, air bersih, ruang ramah anak, dukungan psikososial, serta dapur Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA). Bantuan tunai multi guna juga tengah dipertimbangkan untuk mendukung proses pemulihan awal keluarga terdampak.
Akses Jalan Terhambat, Bantuan Terus Dipetakan
Distribusi bantuan tidak selalu dapat dilakukan dengan cepat. Sejumlah jalan mengalami kerusakan, retakan, hingga tertutup longsor. Tim tanggap bencana harus mencari jalur alternatif atau menunggu pembukaan akses oleh pihak berwenang.
Di tengah kondisi tersebut, potensi gempa susulan juga menjadi pertimbangan dalam mobilisasi tim. WVI memastikan keselamatan staf tetap menjadi bagian dari respons di lapangan.
Fransisco mengatakan, asesmen cepat terus dilakukan untuk memastikan bantuan diberikan kepada masyarakat yang paling membutuhkan, termasuk warga di desa terpencil dan wilayah yang berada dekat dengan pusat gempa.
“Karena itu Wahana Visi Indonesia selalu berkoordinasi dengan pemerintah, organisasi kemanusiaan, komunitas lokal, dan masyarakat,” katanya.
Setelah kebutuhan darurat terpenuhi, perhatian akan diarahkan pada pemulihan dan kesiapsiagaan. WVI mendorong penguatan perencanaan evakuasi, kesiapan sekolah dan fasilitas pelayanan masyarakat, serta mekanisme tanggap darurat berbasis komunitas.
“Tujuan akhir pemulihan bukan hanya membantu masyarakat kembali seperti sebelum bencana, tetapi membantu mereka bangkit dengan kondisi yang lebih kuat, lebih aman, dan lebih siap menghadapi risiko di masa depan,” ujar Fransisco.
Untuk saat ini, kebutuhan paling mendesak tetap berada pada hal-hal dasar: tempat tinggal yang aman, air bersih, perlengkapan kebersihan, layanan kesehatan, serta dukungan bagi anak dan keluarga.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


