Aksara Jawa menjadi salah satu bukti warisan leluhur dan kekayaan budaya di tanah Jawa. Aksara ini memiliki keunikan yang membedakannya dari berbagai sistem tulisan di dunia.
Aksara Jawa memiliki pasangan yang kerap membuat bingung ketika dipelajari. Hal ini karena memahami pasangan tidak sekadar menghafalkan bentuk, tetapi juga fungsi dan aturan penggunaannya.
Lantas, bagaimana cara menulis aksara Jawa dan pasangannya? Yuk, simak penjelasannya!
Mengenal Aksara Jawa dan Pasangannya
Aksara Jawa juga dikenal dengan sebutan Hanacaraka atau carakan. Nama Hanacaraka diambil dari lima aksara pertama, yaitu ha, na, ca, ra, dan ka.
Aksara Jawa berkembang dari aksara Kawi yang berakar pada aksara Brahmi dari India. Aksara ini digunakan secara aktif sejak pertengahan abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-20.
Terdapat 20 aksara dasar dalam aksara Jawa yang disebut nglegena atau dentawyanjana. Setiap aksara nglegena memiliki bunyi dasar /a/. Jika ingin menghasilkan bunyi vokal lain, digunakan sandhangan sebagai penanda perubahan bunyi.
Selain sandhangan, terdapat pasangan yang berfungsi menghilangkan bunyi vokal pada aksara sebelumnya. Penulisannya dapat ditempatkan di bawah atau di belakang aksara sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Mengenal Bentuk dan Jenis Pasangan Aksara Jawa
Untuk mengenali pasangan dengan lebih mudah, pahami terlebih dahulu bentuk dasar aksara nglegena. Setiap pasangan memiliki bentuk dan aturan penulisan yang berbeda.
Pasangan digunakan ketika bunyi vokal /a/ pada aksara sebelumnya perlu dihilangkan karena diikuti konsonan lain. Berikut perbandingan bentuk aksara Jawa, aksara nglegena, dan pasangan.
1. Aksara Jawa

Sumber: Kemendikdasmen
2. Pasangan

Sumber: Kemendikdasmen
3. Aksara nglegena

Sumber: Kemendikdasmen
Aturan Penulisan Aksara Jawa dan Pasangannya
Pada dasarnya, setiap aksara Jawa memiliki bunyi vokal bawaan /a/. Ketika sebuah kata memiliki rangkaian konsonan dan bunyi /a/ pada aksara sebelumnya perlu dihilangkan, pasangan digunakan untuk menghubungkan konsonan tersebut. Jadi, pasangan tidak digunakan setiap kali terdapat dua konsonan, tetapi mengikuti kebutuhan dalam penulisan kata.
Terdapat 20 aksara carakan yang masing-masing memiliki pasangan dengan bentuk berbeda. Pasangan umumnya ditulis di bawah aksara utama untuk menghilangkan bunyi /a/ pada aksara sebelumnya. Beberapa pasangan memiliki bentuk dan posisi khusus sehingga perlu dipelajari secara bertahap.
Dalam penulisannya, aksara utama menjadi dasar, sedangkan pasangan digunakan ketika bunyi konsonan berikutnya perlu dirangkai tanpa vokal /a/ pada aksara sebelumnya. Jika terdapat bunyi vokal tertentu, sandhangan dapat ditambahkan sesuai dengan bunyi yang ingin dituliskan.
Pembelajaran dapat dimulai dari mengenali aksara nglegena dan bunyi /a/, kemudian dilanjutkan dengan penggunaan pasangan dan kombinasi pasangan dengan sandhangan.
Contoh Kalimat Aksara Jawa dan Cara Membacanya
Setiap aksara nglegena memiliki bunyi bawaan /a/, sedangkan pasangan digunakan ketika bunyi tersebut perlu dihilangkan karena diikuti konsonan lain.
Salah satu contohnya adalah kata sakti yang dibaca sak-ti, bukan sa-ka-ti. Pada kata tersebut, bunyi /a/ pada ka harus dihilangkan sebelum bertemu dengan ta. Karena itu, digunakan pasangan ta sehingga rangkaian konsonan k dan t dapat dibaca dengan tepat.
Contoh lainnya adalah kata bakso yang dibaca bak-so. Bunyi /a/ pada ka dihilangkan karena setelahnya terdapat konsonan sa. Pasangan sa digunakan agar kata tersebut tidak terbaca ba-ka-so.
Pasangan dapat digunakan pada kata dengan rangkaian konsonan yang lebih kompleks. Sandhangan juga dapat ditambahkan jika diperlukan untuk menghasilkan bunyi vokal tertentu. Beberapa pasangan memiliki bentuk dan posisi khusus sehingga perlu diperhatikan saat menulis.
Kesalahan yang sering dilakukan pemula adalah menggunakan aksara nglegena biasa untuk konsonan berikutnya. Akibatnya, bunyi /a/ pada aksara sebelumnya tetap terdengar sehingga pelafalan kata dapat berubah. Karena itu, penting untuk memperhatikan hubungan antara aksara utama, pasangan, dan sandhangan.
10 Contoh Kalimat dalam Aksara Jawa dan Pasangannya
1. Rina mempunyai dua anak.
Aksara Jawa: ꦫꦶꦤ ꦢꦸꦮꦺ ꦥꦸꦠꦿ ꦭꦺꦴꦫꦺꦴ
2. Pak guru mengajarkan bahasa krama.
Aksara Jawa: ꦥꦏ꧀ ꦒꦸꦫꦸ ꦩꦸꦭꦁ ꦏꦿꦩ
3. Saya memakai baju baru.
Aksara Jawa: ꦲꦏꦸ ꦔꦁꦒꦺꦴ ꦏ꧀ꦭꦩ꧀ꦧꦶ ꦲꦚꦂ
4. Dina membeli baju baru.
Aksara Jawa: ꦢꦶꦤ ꦠꦸꦏꦸ ꦏ꧀ꦭꦩ꧀ꦧꦶ ꦲꦚꦂ
5. Adik suka bermain truk.
Aksara Jawa: ꦲꦢꦶꦏ꧀ ꦱꦼꦤꦼꦁ ꦢꦺꦴꦭꦤꦤ꧀ ꦠꦿꦸꦏ꧀
6. Budi membeli kerupuk.
Aksara Jawa: ꦧꦸꦢꦶ ꦠꦸꦏꦸ ꦏꦿꦸꦥꦸꦏ꧀
7. Siti membaca cerita.
Aksara Jawa: ꦱꦶꦠꦶ ꦩꦕ ꦕꦿꦶꦠ
8. Saya mempunyai teman pramuka.
Aksara Jawa: ꦲꦏꦸ ꦢꦸꦮꦺ ꦏꦚ꧀ꦕ ꦥꦿꦩꦸꦏ
9. Dia membawa jari.
Aksara Jawa: ꦝꦺꦮꦺꦏꦺ ꦔ꧀ꦒꦮ ꦢꦿꦶꦗꦶ
10. Kita harus mencintai budaya Jawa.
Aksara Jawa: ꦏꦶꦠ ꦏꦸꦢꦸ ꦠꦿꦺꦱ꧀ꦤ ꦧꦸꦢꦪ ꦗꦮ
Kesalahan yang Sering Terjadi saat Menulis Pasangan Aksara Jawa
Saat mempelajari pasangan aksara Jawa, pemula sering melakukan beberapa kesalahan, seperti lupa menggunakan pasangan, salah memilih bentuk pasangan, salah menempatkannya, atau menggunakan pangkon sebagai gantinya.
Kesalahan yang paling umum adalah menggunakan aksara nglegena saat seharusnya memakai pasangan. Misalnya, ketika sebuah kata memiliki rangkaian konsonan, penggunaan aksara nglegena biasa dapat membuat bunyi /a/ pada aksara sebelumnya tetap terdengar. Penggunaan pasangan diperlukan agar bunyi kata sesuai dengan pelafalannya.
Kesalahan lain adalah salah memilih dan menempatkan pasangan. Setiap aksara memiliki pasangan masing-masing sehingga bentuk dan posisinya perlu diperhatikan.
Pemula juga sering tertukar antara pasangan dan sandhangan. Pasangan berfungsi menghilangkan bunyi /a/ pada aksara sebelumnya, sedangkan sandhangan digunakan untuk mengubah atau menambahkan bunyi tertentu.
Agar tidak keliru, periksa kembali bentuk, posisi, dan bunyi setelah menulis pasangan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


