"Kuliah itu scam?"
Di balik narasi tersebut terdapat keresahan tentang biaya pendidikan, sulitnya memperoleh pekerjaan setelah lulus, hingga kekhawatiran bahwa gelar sarjana tidak selalu sejalan dengan kehidupan kerja.
Fenomena inilah yang menjadi perhatian dalam penelitian PKM-RSH IPB berjudul “Narasi ‘Kuliah Scam’: Polarisasi Persepsi Generasi Z antara Partisipan Kuliah dan Nonkuliah terhadap Urgensi Pendidikan Tinggi.” Selain melihat persepsi Generasi Z, penelitian ini juga menggali pandangan pihak perguruan tinggi melalui wawancara mendalam.
Dua key informan dari perguruan tinggi memberikan pandangan bahwa persolan “kuliah scam” tidak dapat disederhanakan hanya dengan pertanyaan apakah seseorang mendapatkan pekerjaan setelah lulus.
Media Sosial dan Cara Generasi Z Melihat Pendidikan
Key informan dari Universitas Djuanda menilai perkembangan narasi “kuliah scam” tidak dapat dilepaskan dari cara Generasi Z memperoleh informasi melalui media sosial.
Menurutnya, seseorang dapat melihat satu pengalaman atau informasi tertentu kemudian menjadikannya sebagai gambaran umum. Padahal, suatu fenomena sosial memiliki banyak faktor yang saling berkaitan.
“Literasi digital Indonesia itu masih belum kuat… banyak orang melihat dari satu sisi, padahal dalam satu fenomena sosial itu tidak bisa hanya karena satu sebab, tapi pasti banyak variabel.”
Artinya, pengalaman melihat lulusan perguruan tinggi yang kesulitan mendapatkan pekerjaan memang dapat membentuk keraguan terhadap pendidikan tinggi. Namun, pengalaman tersebut belum tentu dapat menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa kuliah secara keseluruhan tidak penting.
“Kuliah Scam” menjadi Cermin bagi Perguruan Tinggi
Menariknya, key informan Universitas Djuanda juga melihat narasi tersebut sebagai bahan evaluasi bagi perguruan tinggi.
Menurutnya, kampus perlu melihat kembali apakah lulusan memperoleh pekerjaan setelah lulus, apakah pekerjaan tersebut sesuai dengan bidang keilmuannya, serta apakah kurikulum yang diberikan masih relevan dengan kebutuhan industri.
Pendampingan karier mahasiswa juga dinilai penting. Salah satunya melalui Career Development Center atau CDC yang dapat membantu memetakan tujuan mahasiswa, mulai dari bekerja di perusahaan, BUMN/BUMD, berwirausaha, menjadi konten kreator, bekerja di NGO, hingga menjadi guru atau dosen.
Dengan demikian, kritik terhadap pendidikan tinggi dapat menjadi pengingat bagi perguruan tinggi untuk semakin dekat dengan kebutuhan mahasiswa dan dunia kerja.
Kuliah Tidak Hanya tentang Pekerjaan
Pandangan lain datang dari key informan Universitas Terbuka. Menurutnya, persoalan “kuliah scam” perlu dilihat berdasarkan tujuan seseorang ketika memilih pendidikan tinggi.
Ada mahasiswa yang kuliah dengan tujuan memperoleh pekerjaan. Namun, ada pula yang kuliah untuk meningkatkan pengetahuan, memperluas wawasan, mengembangkan kemampuan, maupun meningkatkan kapasitas dalam menjalankan kehidupan dan pekerjaannya.
“Jadi sebenarnya memang kuliah itu masih sangat penting, jadi kuliah itu tidak hanya tentang pekerjaan, tapi bagaimana kita mendapatkan skill-skill juga dari perkuliahan tersebut.”
Karena itu, keberhasilan pendidikan tinggi tidak selalu dapat diukur hanya dari pekerjaan yang diperoleh setelah lulus.
Seorang lulusan mungkin bekerja tidak sesuai dengan jurusannya. Namun, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kuliah tetap dapat digunakan dalam kehidupan profesional maupun sosial.
Ketika Pendidikan Bertemu Dunia Kerja
Kedua key informan juga tidak menutup mata terhadap persoalan yang menjadi kritik utama dalam narasi “kuliah scam”, yaitu ketidaksesuaian antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja.
Narasumber Universitas Djuanda menilai perguruan tinggi perlu meningkatkan pelatihan, sertifikasi, evaluasi kurikulum, serta keterhubungan dengan kebutuhan industri.
“Perguruan tinggi itu adalah untuk mencetak bagaimana kita berpikir kritis, berpikir profesi, bagaimana pembelajaran jangka panjang, dan sebagainya.”
Sementara itu, narasumber Universitas Terbuka menjelaskan bahwa setiap program studi memiliki relevansi yang berbeda terhadap dunia kerja. Karena itu, keputusan seseorang untuk kuliah perlu dikaitkan dengan motivasi dan tujuan awalnya.
Di sinilah persoalan “kuliah scam” menjadi lebih kompleks. Masalahnya bukan semata-mata kuliah atau tidak kuliah, tetapi bagaimana seseorang memilih bidang pendidikan, bagaimana kampus mempersiapkan mahasiswa, dan bagaimana mahasiswa membangun kompetensi selama menjalani pendidikan.
Kuliah Juga tentang Pengalaman
Key informan Universitas Djuanda juga menyoroti pentingnya pengalaman mahasiswa selama berada di kampus.
Menurutnya, mahasiswa yang hanya mengandalkan ijazah tanpa membangun pengalaman, karya, organisasi, prestasi, atau portofolio dapat menghadapi kesulitan ketika memasuki dunia kerja. Sebaliknya, berbagai aktivitas selama kuliah dapat menjadi bagian dari proses membangun portofolio diri.
Organisasi, prestasi, penelitian, dan karya bukan sekadar kegiatan tambahan, tetapi dapat menjadi bagian dari pengalaman yang membentuk kesiapan seseorang menghadapi kehidupan setelah kuliah.
Jadi, Apakah Kuliah Benar-Benar “Scam”?
Dua wawancara tersebut menunjukkan bahwa narasi “kuliah scam” tidak dapat diterima atau ditolak secara hitam-putih.
Ada persoalan nyata yang perlu diperbaiki, seperti lulusan yang kesulitan mendapatkan pekerjaan, ketidaksesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri, biaya pendidikan, serta kurangnya pendampingan karier.
Namun, menjadikan persoalan tersebut sebagai kesimpulan bahwa pendidikan tinggi tidak penting juga terlalu sederhana. Key informan Universitas Djuanda mengingatkan bahwa fenomena sosial tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu penyebab.
Sementara key informan Universitas Terbuka menegaskan bahwa manfaat kuliah tidak semata-mata ditentukan oleh pekerjaan yang diperoleh setelah lulus.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih relevan mungkin bukan “Apakah kuliah scam?”, melainkan: “Pendidikan tinggi seperti apa yang benar-benar dibutuhkan Generasi Z?”
Jika dunia kerja berubah, kurikulum perlu beradaptasi. Jika mahasiswa membutuhkan keterampilan, kampus perlu memperkuat pengalaman praktis dan pendampingan karier.
Jika media sosial membentuk persepsi generasi muda, perguruan tinggi juga perlu hadir dalam ruang digital dengan komunikasi yang mudah dipahami.
Dengan demikian, narasi “kuliah scam” dapat dibaca bukan hanya sebagai penolakan terhadap pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai cermin bagi perguruan tinggi untuk melihat kembali sejauh mana pendidikan tinggi mampu menjawab kebutuhan generasi yang sedang mereka didik.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


