ketika riau pernah menunggu kereta dan penyengat sibuk mencetak kata - News | Good News From Indonesia 2026

Ketika Riau Pernah Menunggu Kereta, dan Penyengat Sibuk Mencetak Kata

Ketika Riau Pernah Menunggu Kereta, dan Penyengat Sibuk Mencetak Kata
images info

Ketika Riau Pernah Menunggu Kereta, dan Penyengat Sibuk Mencetak Kata | Foto: Unsplash


Ada sebuah ironi dalam sejarah Riau dan Kepulauan Riau.

Di satu sisi, pernah ada ribuan orang yang membuka jalan di tengah hutan untuk sebuah kereta api yang hampir tidak sempat menikmati masa depan.

Di sisi lain, di sebuah pulau kecil yang bisa ditempuh dengan perahu dari Tanjungpinang, orang-orang justru sibuk mencetak kata-kata yang bertahan jauh lebih lama daripada bangunan dan kekuasaan.

Dua cerita itu sama-sama berasal dari masa lalu Riau Raya. Namun, keduanya menyimpan nostalgia dengan cara yang berbeda: satu tentang rel yang hilang, satu lagi tentang kata-kata yang tetap hidup.

Pekanbaru dan Kereta yang Datang Terlambat

Hari ini, membayangkan kereta api melintas di Pekanbaru mungkin terasa seperti membayangkan sesuatu yang tidak pernah ada. Padahal, kota ini pernah menjadi ujung sebuah proyek perkeretaapian besar yang menghubungkan Pekanbaru dengan Muaro Sijunjung, Sumatra Barat.

Menurut RiauOnline, jalur tersebut dibangun pada masa pendudukan Jepang dengan panjang sekitar 220 kilometer. Pembangunannya melewati sejumlah wilayah, mulai dari Pekanbaru, Sungai Pagar, Lipat Kain, Petai, Logas Tangko, Muara Lembu hingga Muaro Sijunjung. Jalur tersebut dirancang untuk mengangkut batu bara sekaligus menghubungkan wilayah pedalaman Sumatra dengan pantai timur.

baca juga

Rencana itu sebenarnya bukan sepenuhnya gagasan Jepang. Jauh sebelumnya, Belanda telah merencanakan jaringan yang menghubungkan kawasan penghasil batu bara di Sumatra Barat dengan Pekanbaru. Namun perang mengubah semuanya.

Ketika Jepang menguasai Indonesia, rencana tersebut dihidupkan kembali untuk kepentingan perang. Rel dibangun dengan tergesa-gesa melewati hutan, sungai, dan medan yang sulit. Dan di balik cerita tentang rel tersebut, ada manusia yang nyaris selalu menjadi catatan kaki: para pekerja paksa.

Rel yang Dibangun dengan Keringat dan Nyawa

Pembangunan jalur Muaro Sijunjung–Pekanbaru berlangsung sekitar 1942–1945. Penelitian Gimin Saputra mencatat bahwa Jepang mengerahkan ribuan romusha untuk mengerjakan proyek tersebut.

Kondisi medan yang berat, makanan yang terbatas, penyakit, serta perlakuan keras menyebabkan banyak pekerja meninggal. Karena itulah, nostalgia terhadap kereta api Riau tidak seharusnya hanya berbentuk kekaguman terhadap teknologi masa lalu.

Ada sisi lain yang lebih pahit. Rel sepanjang ratusan kilometer itu menjadi semacam pengingat bahwa sebuah proyek besar bisa meninggalkan dua warisan sekaligus: infrastruktur dan luka.

Menurut PPID Provinsi Riau, jalur yang menghubungkan Pekanbaru dan Muaro Sijunjung akhirnya selesai pada 1945. Namun, Jepang menyerah sebelum proyek tersebut berkembang menjadi jaringan transportasi yang benar-benar berfungsi untuk masyarakat. Jejak rel yang pernah membelah Pekanbaru pun perlahan hilang dari lanskap kota.

Bayangkan sebuah kereta yang dibangun selama perang, tetapi ketika jalurnya selesai, perang justru hampir berakhir. Barangkali itulah salah satu bentuk nostalgia sejarah yang paling ganjil di Riau: sebuah kota pernah memiliki masa depan kereta api sebelum masa depan itu benar-benar sempat dimulai.

Dari Rel yang Hilang, Beralih ke Pulau yang Menyimpan Kata

Jika perjalanan sejarah di Riau membawa kita ke hutan dan bekas jalur rel, maka di Kepulauan Riau kita bisa menyeberang menuju sebuah pulau kecil bernama Penyengat.

Pulau ini hanya sekitar dua kilometer dari pusat Tanjungpinang. Tetapi ukurannya yang kecil tidak pernah sebanding dengan jejak sejarah yang ditinggalkannya.

Kompas.com menyebut Pulau Penyengat sebagai “taman para penulis Melayu”, karena tradisi menulis berkembang kuat di pulau tersebut. Masyarakatnya tidak hanya menulis sastra, tetapi juga ilmu falak, tata bahasa, pemerintahan, sejarah, hingga pengobatan Melayu.

Di sinilah cerita nostalgia berubah arah. Jika Pekanbaru menyimpan kisah tentang jalan yang gagal menjadi masa depan, Penyengat justru menyimpan kisah tentang kata-kata yang berhasil menyeberangi zaman.

Ketika Pulau Kecil jadi Rumah bagi Mesin Cetak

Ada satu hal yang membuat kisah Penyengat menarik untuk dikenang. Pulau kecil tersebut ternyata tidak hanya menjadi tempat orang menulis dengan tangan. Tradisi percetakan juga berkembang di kawasan Riau-Lingga pada abad ke-19.

ANTARA News Kepulauan Riau mencatat bahwa Pulau Penyengat telah memiliki percetakan sejak 1886. Tradisi menulis berkembang pesat dan melibatkan berbagai kalangan, termasuk bangsawan, ulama, serta perempuan. Ratusan manuskrip kemudian menjadi bagian dari warisan intelektual Melayu.

Bagaimana sebuah gagasan bisa disimpan dan diwariskan kepada orang yang hidup setelah kita? Jawabannya saat itu adalah buku, manuskrip, dan percetakan.

Warisan tersebut kemudian ikut memberi fondasi penting bagi perkembangan bahasa Indonesia. Jadi, nostalgia tentang Penyengat sebenarnya bukan sekadar nostalgia tentang masjid tua, makam raja, atau reruntuhan istana.

Lebih dari itu, ia adalah nostalgia tentang sebuah masyarakat yang percaya bahwa tulisan mampu membuat pikiran seseorang hidup lebih lama daripada tubuhnya.

baca juga

Dua Nostalgia, Dua Cara Riau Menyimpan Masa Lalu

Menariknya, Riau dan Kepulauan Riau seperti menyimpan dua jenis nostalgia yang berlawanan. Di Pekanbaru, kita mengenang sesuatu yang tidak bertahan. Relnya hilang. Jalurnya tidak berkembang menjadi jaringan kereta modern. Sebagian besar masyarakat hari ini mungkin bahkan tidak menyadari bahwa pernah ada proyek kereta api besar di kota tersebut.

Di Penyengat, kita justru mengenang sesuatu yang bertahan. Bukan karena bangunannya semuanya masih utuh, tetapi karena gagasannya masih dibaca.

Rel Pekanbaru–Muaro Sijunjung mengingatkan kita bahwa sejarah tidak selalu meninggalkan monumen yang indah. Kadang ia meninggalkan tanah yang pernah digali, jalur yang ditelan hutan, dan nama-nama pekerja yang perlahan menghilang dari ingatan. Sementara Penyengat mengajarkan bahwa sejarah juga dapat bertahan melalui sesuatu yang jauh lebih sederhana: kata.

Dua-duanya sama-sama penting. Sebab nostalgia sejarah bukan hanya tentang merindukan sesuatu yang pernah ada. Nostalgia juga bisa menjadi cara bertanya kepada masa lalu: Apa yang masih kita bawa sampai hari ini, dan apa yang sudah kita biarkan hilang?

Jangan Sampai yang Hilang Bukan Hanya Rel

Mungkin suatu hari, ketika melewati Pekanbaru, kita akan melihat jalan raya yang padat tanpa pernah membayangkan bahwa kawasan itu pernah menjadi bagian dari cerita kereta api. Dan ketika menyeberang menuju Penyengat, mungkin kita akan melihat sebuah pulau kecil tanpa langsung menyadari bahwa dari tempat semacam inilah tradisi intelektual Melayu pernah tumbuh begitu kuat.

Sejarah memang sering bekerja seperti itu. Riau punya rel yang hilang. Penyengat punya kata yang bertahan. Dan keduanya sama-sama sedang menunggu untuk kembali diceritakan.

baca juga

Kalau Kamu Bisa Memutar Waktu...

Jika diberi kesempatan kembali ke masa lalu Riau dan Kepulauan Riau, mana yang paling ingin kamu lihat langsung: kereta api pertama di Pekanbaru, suasana Kesultanan Riau-Lingga di Penyengat, atau kehidupan para penulis Melayu pada abad ke-19? Karena sejarah yang tidak diceritakan ulang, perlahan hanya akan menjadi tempat yang pernah ada.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.