nyalakan mimpi di chow kit mahasiswa kkn t internasional ipb university ajak anak anak bijak bermedia sosial dan berani bermimpi - News | Good News From Indonesia 2026

Nyalakan Mimpi di Chow Kit: Mahasiswa KKN-T Internasional IPB University Ajak Anak-Anak Bijak Bermedia Sosial dan Berani Bermimpi

Nyalakan Mimpi di Chow Kit: Mahasiswa KKN-T Internasional IPB University Ajak Anak-Anak Bijak Bermedia Sosial dan Berani Bermimpi
images info

Kebersamaan mahasiswa KKN-T Internasional IPB University dan anak-anak Buku Jalanan Chow Kit (BJCK) di Kuala Lumpur, Malaysia © Tim KKN-T Internasiona


Kisah Buku Jalanan Chow Kit (BJCK) bermula dari hal sederhana: sesi membaca di pinggir jalan yang digelar pada Agustus 2015, ketika 40 anak pertama kali terdaftar mengikuti kelas yang hanya berlangsung dua malam dalam sepekan.

Sejak Januari 2018, kelas kecil itu tumbuh menjadi sekolah harian yang mula-mula hanya diikuti delapan murid, sebelum akhirnya terus berkembang, direnovasi bertahap sejak 2022, hingga pada 2024 tiga muridnya untuk pertama kali berhasil meraih hasil SPM (setara ujian akhir sekolah menengah) yang membanggakan.

Kini, BJCK bahkan mengelola Kopitiam Chow Kit, sebuah restoran komunitas yang menjadi ruang pemulihan ekonomi bagi para ibu di lingkungan sekitar.

Terdaftar resmi sebagai organisasi berbasis komunitas di Kuala Lumpur (nomor pendaftaran PPM-038-10-18022016), BJCK hadir untuk anak-anak yang kerap luput dari jangkauan sistem: anak-anak dari keluarga urban miskin, anak tanpa kewarganegaraan (stateless), anak tanpa dokumen resmi, hingga anak-anak yang rentan mengalami kelalaian, kekerasan, atau eksklusi sosial.

Ini terjadi bukan karena mereka kekurangan potensi, melainkan karena sistem yang ada belum sepenuhnya menjangkau mereka.

Visi BJCK sederhana tetapi kuat, mewujudkan komunitas di mana setiap anak merasa aman, diakui, memperoleh pendidikan, dan berdaya.

Program ini dijalankan lewat dua pilar utama: Pengembangan Anak dan Program, mencakup akses pendidikan lewat BJCK Education Centre, Kelas Malam, dan Kelas Tilawah, pendampingan status kewarganegaraan melalui Road to Citizenship, serta pemberdayaan anak; dan Pemberdayaan Komunitas, yang memperkuat keluarga serta ekosistem di sekitar anak.

Sepanjang 2025 saja, BJCK tercatat telah mendampingi 145 anak, menyalurkan lebih dari 30 ribu porsi makanan, membantu 94 keluarga mengalami kemajuan berarti, dan mengantarkan tiga anak muda melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas.

Yang menarik, BJCK pernah membantu satu keluarga. Seorang ibu bersama tiga anaknya, untuk memperoleh status kewarganegaraan Malaysia setelah sebelumnya hidup tanpa dokumen resmi.

baca juga

Di ruang belajar milik BJCK itulah, selama masa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Internasional IPB University, mahasiswa Indonesia menitipkan sebagian dari energi dan ilmunya melalui dua program sosialisasi: “Wira Digital: Bijak Bermedia Sosial” dan “University Life”.

Kedua program ini dirancang bukan sekadar mengisi waktu, melainkan menjawab dua kebutuhan mendasar anak-anak BJCK, yang rata-rata duduk di bangku pendidikan dasar (primary) hingga menengah pertama (secondary). Bagaimana bertahan dan bijak di dunia digital yang mereka geluti setiap hari? Bagaimana menumbuhkan keberanian untuk bermimpi jauh melampaui keterbatasan yang mengelilingi mereka?

Wira Digital: Ketika Layar Bisa jadi Sahabat, Bisa Juga jadi Ancaman

Data terbaru Jabatan Perangkaan Malaysia (DOSM) tahun 2025 yang dipaparkan dalam sesi ini menunjukkan gambaran yang mengejutkan sekaligus relevan bagi anak-anak BJCK: hampir seluruh rakyat Malaysia, atau sekitar 97,7 persen, kini memiliki akses internet, dan 99,7 persen dari pengguna internet tersebut aktif di media sosial.

TikTok tercatat sebagai platform yang paling banyak digunakan, dengan hampir 29 juta pengguna aktif. Angka-angka ini menegaskan satu hal sederhana tetapi penting: anak-anak BJCK, seperti kebanyakan generasi muda Malaysia lainnya, tumbuh besar berdampingan dengan layar.

Dalam sesi “Wira Digital”, mahasiswa KKN-T mengajak anak-anak menelaah dua sisi dari dunia yang mereka akrabi itu. Di satu sisi, media sosial dan internet menjadi ruang belajar, tempat mencari ide tugas sekolah, sarana menjalin silaturahmi dengan keluarga yang jauh, sekaligus ruang berekspresi dan menyalurkan hobi.

Namun di sisi lain, dunia digital juga menyimpan risiko nyata: perundungan siber, kecanduan gawai yang menggerus waktu belajar dan istirahat, kebocoran data pribadi, penipuan daring, hingga penyebaran berita bohong.

Fakta bahwa hampir delapan dari sepuluh remaja pernah mengalami perundungan siber turut disampaikan sebagai pengingat bahwa ancaman ini bukan sekadar teori.

Sesi ini tidak berhenti pada menakut-nakuti. Anak-anak diajak memahami langkah konkret jika mengalami perundungan daring, mulai dari tidak membalas provokasi, menyimpan bukti percakapan, memblokir dan melaporkan pelaku, hingga segera meminta bantuan orang dewasa yang dipercaya.

Mereka juga diperkenalkan pada cara sederhana memeriksa kebenaran sebuah berita sebelum ikut menyebarkannya, serta pentingnya mengatur privasi akun, seperti mengunci profil, mematikan berbagi lokasi, dan mengaktifkan verifikasi dua langkah.

Pesan penutup sesi ini disampaikan dengan lugas kepada anak-anak: media sosial hanyalah alat, dan merekalah yang harus menjadi tuan atas alat tersebut, bukan sebaliknya.

baca juga

University Life, Menanam Benih Mimpi Sejak Dini

Jika “Wira Digital” berbicara tentang bagaimana anak-anak menjaga diri hari ini, maka “University Life” mengajak mereka menengok jauh ke depan.

Banyak anak-anak BJCK datang dari lingkungan yang jarang memperkenalkan gambaran dunia perkuliahan, sehingga cita-cita menjadi dokter, insinyur, atau profesi lain yang mereka impikan terasa jauh dan asing. Melalui sesi sharing santai, mahasiswa KKN-T mencoba menjembatani jarak tersebut.

Sesi dibuka dengan pertanyaan sederhana tetapi menggugah: pernahkah anak-anak terpikir ingin menjadi apa ketika besar nanti?

Dari jawaban itu, mahasiswa menjelaskan bahwa profesi seperti dokter, perancang gim, insinyur, hingga kreator konten sama-sama membutuhkan satu hal: keahlian khusus yang dipelajari secara serius, dan perjalanan itu banyak dimulai dari bangku kuliah.

Perbedaan mendasar antara sekolah dan kuliah pun dijelaskan dengan cara yang mudah dicerna: jika di sekolah mereka mempelajari dasar-dasar ilmu dengan jadwal yang ditentukan sekolah, di bangku kuliah mereka akan berfokus penuh pada bidang yang benar-benar mereka minati, sekaligus belajar mengatur waktu dan hidup secara mandiri.

Mahasiswa juga mengingatkan bahwa manfaat kuliah tidak berhenti pada diri sendiri; ia menjalar ke lingkaran yang lebih luas, mulai dari kemampuan membantu dan menjadi teladan bagi keluarga, hingga membuka peluang untuk memberi kontribusi nyata bagi masyarakat luas.

Ketika Dua Negara Berbagi Semangat Belajar

Kehadiran mahasiswa KKN-T Internasional IPB University di BJCK tidak sekadar menjadi ajang berbagi materi, tetapi juga ruang pertukaran semangat antara dua budaya. Anak-anak BJCK, yang datang dari latar belakang sosial ekonomi yang beragam dan sering kali penuh keterbatasan, mendapatkan gambaran nyata bahwa dunia pendidikan tinggi maupun kebiasaan bermedia sosial yang bijak bukanlah sesuatu yang eksklusif atau jauh dari jangkauan mereka.

Sebaliknya, mahasiswa Indonesia turut mendapatkan pengalaman berharga memahami dinamika sosial masyarakat urban Malaysia, sekaligus mengasah kemampuan menyampaikan materi yang kompleks dengan cara yang sederhana dan menyenangkan bagi anak-anak.

baca juga

Program “Wira Digital” dan “University Life” pada akhirnya menjadi dua sisi yang saling melengkapi: satu menjaga anak-anak agar tetap aman dan bijak menghadapi dunia yang serba digital hari ini, satu lagi menuntun mereka untuk berani menatap dan merancang masa depan.

Sebagaimana pesan yang terus digaungkan sepanjang sesi, pendidikan tinggi maupun literasi digital bukan sekadar soal menjadi pintar, melainkan soal keberanian dan kesungguhan usaha untuk terus melangkah, sekecil apa pun langkah itu, mulai dari hari ini.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.