Masa remaja merupakan salah satu tahap perkembangan yang penuh dengan perubahan, baik secara emosional, sosial, maupun kognitif. Pada fase ini, remaja mulai menghadapi berbagai tuntutan dan persoalan, mulai dari tekanan akademik, hubungan pertemanan, keluarga, hingga tuntutan untuk menentukan masa depan.
Berbagai tantangan tersebut dapat memengaruhi cara remaja memandang dirinya sendiri, lingkungan, maupun masalah yang sedang dihadapi. Urgensi perhatian terhadap kesehatan mental remaja juga terlihat dari hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS).
Survei tersebut menunjukkan bahwa sekitar 34,9% atau 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Sementara itu, sekitar 5,5% remaja mengalami gangguan mental dalam periode yang sama.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting untuk diperhatikan karena persoalan kesehatan mental pada remaja tidak hanya berkaitan dengan munculnya emosi negatif, tetapi juga dapat memengaruhi cara mereka berpikir dan mengambil keputusan ketika menghadapi masalah. WHO juga melaporkan adanya peningkatan persentase pelajar Indonesia yang serius mempertimbangkan bunuh diri, dari 5,4% pada 2015 menjadi 8,5% pada 2023.
WHO menekankan pentingnya peningkatan akses terhadap dukungan kesehatan mental dan psikososial bagi remaja. Berangkat dari kondisi tersebut, Tim PKM-RSH Universitas Negeri Malang (UM) menghadirkan kegiatan sosialisasi kesehatan mental bagi siswa di salah satu SMA di Kota Malang.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Tim PKM-RSH UM dalam mengenalkan kesehatan mental secara lebih dekat kepada remaja, khususnya mengenai hubungan antara peristiwa yang dialami, perasaan yang muncul, keputusan yang diambil, serta pola pikir yang dapat memengaruhi cara seseorang menghadapi masalah.
Melalui kegiatan ini, siswa diajak memahami bahwa suatu peristiwa tidak selalu secara langsung menentukan perasaan dan perilaku seseorang. Cara seseorang menafsirkan dan memandang peristiwa tersebut juga memiliki peran penting.
Dengan mengenali pola pikir yang muncul, siswa diharapkan dapat mulai membedakan antara pikiran yang realistis dan pikiran yang justru semakin memperberat masalah. Berdasarkan hasil kajian literatur dan data temuan, diketahui bahwa sejumlah remaja masih mengalami kesulitan dalam menghadapi berbagai permasalahan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi tersebut dapat terlihat melalui lonjakan emosi, kesulitan mengendalikan diri, serta ketidakmampuan mengenali dan menghadapi pikiran yang muncul ketika berada dalam situasi penuh tekanan. Dalam kondisi tertentu, permasalahan tersebut juga dapat berkaitan dengan munculnya indikasi ide untuk mengakhiri hidup maupun perilaku menyakiti diri.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mengenali pikiran, mengelola emosi, dan menghadapi masalah secara lebih realistis menjadi keterampilan yang penting bagi remaja. Oleh karena itu, edukasi kesehatan mental di lingkungan sekolah dapat menjadi salah satu langkah promotif dan preventif untuk membantu siswa memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai dirinya.
Kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan Tim PKM-RSh UM memiliki tiga tujuan utama. Pertama, membantu siswa mengenali pikiran-pikiran negatif yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, mengajak siswa belajar melihat masalah dengan cara yang lebih positif dan realistis. Ketiga, mendorong siswa untuk lebih menerima, menghargai, dan menyayangi diri sendiri dalam proses bertumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh.
Ketiga tujuan tersebut disampaikan dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan siswa. Materi tidak hanya diberikan dalam bentuk penjelasan, tetapi juga dikaitkan dengan situasi yang mungkin mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, siswa dapat memahami bahwa menjaga kesehatan mental tidak selalu dimulai dari hal yang besar, tetapi dapat diawali dengan mengenali apa yang sedang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan secara luring di salah satu SMA di Kota Malang pada 21 Juli 2026 dengan durasi kurang lebih 45 menit.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim PKM-RSH UM yang diketuai oleh Fathan Aflahu Akmal (S1 Bimbingan dan Koseling), dengan anggota Fatimah Mahdiyah (S1 Bimbingan dan Koseling), Nadin Nurma Pitaloka (S1 Bimbingan dan Koseling), Syakira Nabila Azzahrah (S1 Bimbingan dan Koseling), dan Nadia Salsabila (S1 Psikologi)
Kegiatan diawali dengan perkenalan dan sapaan kepada para siswa untuk membangun suasana yang nyaman dan interaktif. Setelah itu, tim menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan agar siswa memahami alasan pentingnya mempelajari kesehatan mental serta pola pikir dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, siswa mendapatkan pemaparan materi yang berjudul "Berteman dengan Diri Sendiri: Membangun Pola Pikir Sehat untuk kepribadian Tangguh."
Penyampaian materi dilakukan secara komunikatif sehingga siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diajak untuk menghubungkan materi dengan pengalaman dan situasi yang mungkin mereka alami. Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan proses refleksi.
Siswa diajak melihat kembali pola pikir yang selama ini mungkin muncul ketika menghadapi masalah serta bagaimana pikiran tersebut dapat memengaruhi perasaan dan tindakan. Melalui refleksi tersebut, siswa diharapkan mulai memiliki kesadaran untuk mengenali pikiran yang kurang realistis dan mencoba memandang suatu permasalahan dengan sudut pandang yang lebih sehat.
Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada pemahaman materi selama sosialisasi, tetapi dapat menjadi langkah awal bagi siswa untuk lebih mengenali dirinya, memahami emosinya, serta mengembangkan cara menghadapi masalah yang lebih adaptif.
Dengan pemahaman tersebut, siswa diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh dan mampu mencari dukungan ketika menghadapi situasi yang dirasakan terlalu berat untuk dihadapi sendiri. Melalui kegiatan ini, Tim PKM-RSH UM berharap edukasi mengenai kesehatan mental dapat semakin dekat dengan kehidupan remaja. Mengenali pikiran, memahami perasaan, dan belajar menerima diri menjadi langkah sederhana yang dapat membantu remaja menghadapi berbagai tantangan dalam proses bertumbuh.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


