Kelompok teater boneka asal Prancis, Compagnie Succursale 101, menghadirkan pertunjukan Little Blue and Little Yellow di Blackbox Theatre, Komunitas Salihara, Jakarta, pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Pertunjukan ini merupakan bagian dari tur Indonesia yang berlangsung pada 7—21 Oktober 2026, dengan mengangkat kisah persahabatan, identitas, perbedaan, dan penerimaan melalui perpaduan teater boneka, pencahayaan, serta visual yang imajinatif.
Pertunjukan tersebut diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Prancis di Indonesia bersama Institut français d’Indonésie (IFI), serta menjadi bagian dari rangkaian Pesta Boneka ke-10 melalui program Pesta Boneka on Wheels. Program ini juga melibatkan Papermoon Puppet Theatre sebagai mitra yang telah lama bekerja sama dalam pengembangan seni teater boneka.
Diadaptasi dari buku bergambar karya penulis dan ilustrator Italia, Léo Lionni, Little Blue and Little Yellow mengisahkan dua sahabat berwarna biru dan kuning yang senang bermain bersama. Suatu hari, ketika keduanya berpelukan erat, warna mereka bercampur menjadi hijau. Namun, saat pulang ke rumah, orang tua masing-masing tidak mengenali mereka karena warna asli mereka telah berubah.
Melalui cerita sederhana tersebut, pertunjukan mengajak penonton memahami bagaimana perbedaan dapat diterima dan bagaimana identitas seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh penampilan luarnya. Dengan durasi sekitar 30 menit dan menggunakan bahasa Indonesia, pertunjukan ini dapat dinikmati oleh anak-anak maupun penonton dewasa.
Berawal dari Buku Cerita Anak

Sesi Wawancara dengan Tim Pertunjukan pertunjukan Little Blue and Little Yellow di Blackbox Theatre, Komunitas Salihara, Jakarta︱Dokumentasi Pribadi
Dalam wawancara, Chiara Collet, salah satu anggota tim pertunjukan yang berprofesi sebagai aktris teater, film, dan pengisi suara, menceritakan bahwa karya ini berawal dari pengalamannya sebagai seorang ibu muda sekitar 20 tahun lalu. Ia terbiasa membacakan buku Little Blue and Little Yellow kepada anaknya setiap malam.
Ketertarikannya terhadap cerita tersebut mendorong Chiara Collet membeli buku itu dan memberikannya kepada Angélique Friant, sutradara pertunjukan. Dari situlah gagasan untuk mengadaptasi buku tersebut menjadi pertunjukan teater boneka mulai berkembang.
Karya ini kemudian diciptakan sekitar 20 tahun lalu dan menjadi pertunjukan pertama kelompok tersebut yang secara khusus ditujukan kepada penonton anak-anak. Proses penciptaannya berlangsung relatif singkat, yakni sekitar 10 hari, dengan mengandalkan improvisasi sebagai bagian penting dalam pengembangan adegan.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pertunjukan teater boneka tidak selalu membutuhkan cerita yang rumit untuk menyampaikan pesan. Melalui bentuk, warna, gerakan, dan interaksi antarelemen panggung, kisah sederhana dapat membuka ruang interpretasi yang luas bagi penonton.
Menghidupkan Benda melalui Cahaya dan Gerak
Salah satu aspek yang menonjol dalam pertunjukan ini adalah penggunaan benda-benda sederhana sebagai bagian dari dunia imajinatif di atas panggung. Teater boneka tidak hanya menghadirkan figur boneka konvensional, tetapi juga memanfaatkan bentuk dan objek untuk membangun karakter serta menyampaikan cerita.
Dalam sesi diskusi setelah pertunjukan, seorang penonton mengungkapkan bahwa pengalaman tersebut memperluas pemahaman anaknya tentang teater boneka.
Boneka, menurut pengalaman yang diceritakan penonton tersebut, tidak harus selalu berupa mainan berbentuk manusia atau hewan. Benda seperti kotak dan bola pun dapat dihidupkan melalui gerakan dan imajinasi.
Penonton juga mengapresiasi perpaduan pencahayaan, video, dan interaksi Chiara Collet di atas panggung. Penggunaan pencahayaan gelap serta efek visual dari penata cahaya Stéphane Bordonaro menciptakan suasana yang membuat objek-objek sederhana tampak seolah-olah memiliki kehidupan dan dunia ceritanya sendiri.
Kombinasi unsur tersebut memperlihatkan bagaimana teater boneka dapat menjadi medium pertunjukan yang mengandalkan eksplorasi visual, bukan hanya dialog verbal. Pengalaman ini sekaligus memperkenalkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam memahami dan menciptakan seni pertunjukan bagi penonton muda.
Pertunjukan dan Transfer Pengetahuan
Selain menampilkan pertunjukan, tur Compagnie Succursale 101 di Indonesia juga menjadi kesempatan untuk berbagi pengetahuan dengan mahasiswa serta seniman pemula. Emily Hannah Evans, salah satu anggota tim, memandu lokakarya mengenai pembuatan dan manipulasi boneka kertas dengan teknik yang terinspirasi dari bunraku, tradisi teater boneka Jepang yang melibatkan beberapa pemain untuk menggerakkan satu boneka.
Lokakarya tersebut dirancang sebagai ruang pertukaran praktik dan eksperimen artistik antara seniman Prancis dan peserta Indonesia. Melalui kegiatan ini, peserta berkesempatan mempelajari teknik penggerakan boneka sekaligus mengeksplorasi penerapannya dalam karya mereka sendiri.
Setelah membuka rangkaian pertunjukannya di Yogyakarta pada 9 Oktober sebagai bagian dari Pesta Boneka ke-10, kelompok ini melanjutkan perjalanan ke Jakarta pada 15 Oktober, kemudian Bandung pada 17 Oktober, dan Surabaya pada 20 Oktober 2026.
Tur ini didukung oleh Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, IFI, serta Programme International de Diffusion Artistique (PIDA) dari Institut français de Paris. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan budaya Prancis dan Indonesia melalui pertunjukan, pendidikan seni, mobilitas seniman, dan pertukaran profesional.
Kehadiran Little Blue and Little Yellow di Komunitas Salihara tidak hanya menawarkan hiburan bagi penonton, tetapi juga memperlihatkan bagaimana seni teater boneka dapat menjadi sarana untuk membicarakan penerimaan, identitas, dan keberagaman.
Melalui bahasa visual yang sederhana dan dapat dipahami lintas usia, pertunjukan ini menghadirkan ruang pertemuan antara imajinasi anak-anak, pengalaman penonton dewasa, dan praktik seni dari dua negara.


