pendiri sariayu berpulang ini perjalanan martha tilaar dari gombong - News | Good News From Indonesia 2026

Pendiri Sariayu Berpulang, Ini Perjalanan Martha Tilaar dari Gombong

Pendiri Sariayu Berpulang, Ini Perjalanan Martha Tilaar dari Gombong
images info

Martha Tilaar saat menyampaikan sambutan dalam peluncuran Ristekdikti-MTIC Award 2017..


Saat rupiah ambruk pada 1998, kosmetik impor dirasa terlalu mahal bagi mayoritas orang Indonesia. Bersamaan dengan krisis itu, lipstik dua warna buatan Martha Tilaar ambil alih untuk tampil dan malah laris manis.

Keunikan dari lipstik ini adalah kehadiran dua warna dalam satu kemasan sehingga memungkinkan penggunanya memilih warna yang dapat disesuaikan dengan berbagai kondisi. Penjualan tren warna Pusako Minang ini naik hampir 400 persen.

Kawan, kabar terbaru, perempuan di balik lipstik itu kini telah berpulang. Pendiri Martha Tilaar Group tersebut meninggal dunia pada Rabu (14/10/2026), di usia 89 tahun. Kabar duka disampaikan lewat Instagram Martha Tilaar Group.

β€œDengan duka cita yang mendalam, keluarga besar Martha Tilaar Group menyampaikan kabar berpulangnya DR. (H.C) Martha Tilaar.”

baca juga

Jenazahnya dimakamkan Jumat (16/10/2026) di pemakaman keluarga, Karawang, Jawa Barat. Kepergiannya membuat banyak orang menengok lagi perjalanannya.

Ternyata, kiprah Martha jauh lebih panjang dari satu lipstik. Siapa sebenarnya perempuan di balik Sariayu ini?

Anak yang Sering Sakit dan Berjualan Mangga

Kawan, Martha Tilaar, pendiri Sariayu Martha bukanlah anak yang berasal dari kota. Ia lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 4 September 1937. Ia putri pertama Yakub Handana dan Herna. Masa kecilnya dihabiskan di Gombong.

Sebagaimana dilansir dari jurnal AVATARA, ibunya sempat sulit makan saat mengandung. Martha kecil sering sakit, dan ada 13 dokter yang merawatnya. Sebab, sang ibu khawatir perkembangannya lambat.

baca juga

Kawan, Martha kecil rupanya sudah dibekali keterampilan berjualan dan menghitung uang. Martha menjual kalung dan gelang dari biji sogok telik dan jali-jali putih ke teman sekolah.

Ia juga disuruh menjual mangga di pintu pagar sepulang sekolah. Ternyata, pengalaman masa kecilnya inilah yang secara tidak langsung turut membentuk namanya di bisnis kecantikan Indonesia.

Nah, tapi, soal nilai akademik, Martha mengaku bukan juaranya. Ia disebut tidak pernah mendapat ranking dan paling kurang menonjol dibanding adik-adiknya. Meski demikian, Martha tetap bisa lulus sarjana Sejarah dari IKIP Jakarta pada 1963.

Dikatai β€œDakocan”, Lalu Jatuh Cinta pada Kecantikan

Cerita awal ketertarikannya pada kecantikan cukup unik. Martha remaja gemar berenang di kolam yang ramai dan kurang bersih. Menurut jurnal yang sama, kulitnya bermasalah dan rambut panjangnya memerah.

Ibunya menegur. Bagaimana mungkin seorang guru berpenampilan seperti itu? Sang ibu bahkan menyebutnya seperti boneka dakocan. Martha lalu dikirim les kecantikan ke Ibu Titi Purwosoenoe, yang kala itu kursusnya terkenal di Jakarta.

baca juga

Dari situ ia melanjutkan belajar di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, Amerika Serikat. Ia mendampingi suaminya, Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, yang sedang tugas belajar. Pendidikannya selesai 1968. Ia sempat bekerja tiga tahun di Campus Beauty Salon, Universitas Indiana.

Krisis yang Dijadikan Peluang dan Kritik yang Membangun

Kembali ke 1998. Menurut jurnal sejarah AVATARA (2014), harga merek kosmetik impor terkemuka melonjak drastis pada akhir 90-an. Rupanya, hal tersebut menjadi kesempatan bagi produk lokal unjuk gigi. Terbukti, pendapatan kosmetik lokal seperti Sariayu pun naik pesat.

Martha meluncurkan tren warna Pusako Minang. Produk andalannya lipstik dua warna yang bisa menghasilkan empat warna berbeda. Lipstik itu meraih The Best National Product 1998 dan Crisis Product Award dari Mark Plus Inc.

Sayangnya, sebelum mencapai prestasi itu, Martha juga sempat mendapat kritik pedas dari instrukturnya di AS saat menyelesaikan karya akhirnya yang mengangkat tren tata rias Geisha Jepang. Kritik itu yang akhirnya menyadarkan Martha agar menggali kekayaan kecantikan bangsanya sendiri.

baca juga

Arah itu makin mantap saat ia ke Eropa. Martha sempat mengira Eropa gandrung hal modern. Ternyata masyarakat di sana justru jenuh dan mendambakan kosmetik berbahan alam. Di Belanda, seorang pakar bernama Dr. Van der Howe menyarankannya pulang dan meneliti jamu Indonesia.

Sepulangnya, Martha mengumpulkan informasi ramuan dari para sesepuh dan dukun beranak. Ia juga belajar kosmetika tradisional dari kalangan keraton, termasuk Puri Mangkunegaran Surakarta dan Keraton Yogyakarta.

Bisnis Berawal dari Garasi 6x4 Meter

Pada 3 Januari 1970, Martha membuka salon di garasi rumah orang tuanya. Ukurannya hanya 6x4 meter. Namanya β€œMartha Salon”, disarankan orang tua angkat dan penasihat akademik suaminya, Prof. Dr. Willis P. Porter dan istrinya, Isabel.

Pelanggannya, tulis jurnal itu, kebanyakan ibu pejabat tinggi dan istri duta besar. Di antaranya Rahmi Hatta dan Nelly Adam Malik.

baca juga

Bahan awalnya sederhana. Saat itu, Martha menggunakan tepung beras, jeruk nipis, dan merang. Usahanya makin moncer.

Pada 1976 ia menggarap jamu rumahan bersama Mooryati Soedibyo, pendiri Mustika Ratu. Sayang, setahun kemudian, Mooryati mengakhiri kemitraan itu. Usaha lalu dikelola bersama keluarga. Sang ayah mengawasi keuangan, adiknya Ratna dan Bernard membantu produksi, dan Bambang membantu pembelian mesin.

Usaha jamu rumahan itu terus tumbuh. Martha butuh wadah yang lebih besar, dan ia mencarinya lewat kemitraan.

Wadah itu bernama PT Martina Berto. Perusahaan inilah yang memproduksi dan memasarkan kosmetik serta jamu berlabel Martha Tilaar, dan sampai sekarang menjadi tulang punggung Martha Tilaar Group.

baca juga

Menurut laman resmi Martha Tilaar Group, Martina Berto berdiri pada 1977 bersama mitra usaha, termasuk pendiri Kalbe Group. Dari kerja sama itu lahir Sariayu, merek kosmetik sekaligus jamu modern.

Permintaan pasar terus naik. Pada 1981, menurut situs yang sama, Martina Berto mendirikan pabrik sendiri di kawasan industri Pulogadung, Jakarta.

Tiga tahun kemudian, peta kepemilikan berubah. Kalbe memegang 51 persen saham Martina Berto. Saat krisis 1998, Kalbe memutuskan menjual bisnis kosmetiknya karena ingin fokus di industri farmasi. Pendapatan Martha Tilaar yang sedang naik membuatnya mampu mengambil alih saham itu pada 1999. Sejak itu, Martina Berto sepenuhnya dimiliki Martha Tilaar Group.

Warna dari Budaya Daerah

Kawan, sejak 1987 Martha menciptakan tren warna kosmetik yang terinspirasi budaya daerah Indonesia, setiap tahun. Tren itu dipublikasikan lewat media. Tujuannya membentuk citra Sariayu sebagai produk Indonesia.

baca juga

Tak heran ia mendapat Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah pada 2016.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.