Empat jam adalah jatah tidur Irwan setiap hari selama kuliah. Padahal, Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan waktu 7-8 jam untuk tidur bagi usia 18-40 tahun.
Jelas bukan untuk bersenang-senang. Sebagian besar waktu Irwan dimanfaatkan untuk kuliah, berjualan nasi goreng, dan melatih renang.
Ya, Irwan punya kemampuan berenang. Sebab, Irwan adalah mahasiswa Pendidikan Jasmasi. Makanya ia gunakan kemampuannya itu untuk melatih renang.
Bahkan, Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani UMPP, Riski Aditya mengatakan bahwa Irwan memiliki kompetensi di bidang wasit renang.
Pada 14 Oktober, Irwan diwisuda sebagai Sarjana Pendidikan Jasmani di Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP). Ia lulus dengan predikat cumlaude, setelah menempuh kuliah selama 3,5 tahun.
Irwan Lakoni Jadwal yang Padat
Kawan, Irwan terpaksa melakukan berbagai aktivitas untuk mengejar pendidikan sekaligus mencari tambahan uang. Makanya, dengan terpaksa, yang harus ia korbankan adalah waktu tidur.
Sebagai gambaran, pagi sampai sore, Irwan harus mengikui jadwal perkuliahan. Menjelang gelap, ia maraton menyiapkan keperluan untuk membuka lapak nasi goreng di depan RS Siti Khodijah, Kota Pekalongan.
Lapak itu buka setelah maghrib dan baru tutup pukul 02.00 atau 03.00 dini hari. Paginya, ia kembali kuliah. Nah, biasanya Irwan bisa beristirahat lebih banyak kalau ada jeda antarjadwal kuliah,
Selain jualan nasi goreng, Irwan juga melatih renang di Kabupaten Batang selama dua sampai tiga tahun. Ia melatih di kolam renang THR Kramat Batang dan kolam renang Disparpora Batang.
Honor dari melatih renang itu digunakan untuk menambal ketika pendapatan nasi goreng sedang tidak menentu.
Berjualan Sejak Kelas 2 SMP
Irwan sudah berjualan nasi goreng sejak kelas 2 SMP. Ia mengambil alih usaha yang tadinya dijalankan bersama ayahnya, yang terkena stroke sekitar delapan tahun lalu.
Sebagai informasi, stroke terjadi ketika pembuluh darah otak tersumbat atau pecah, sehingga sebagian otak tidak mendapat pasokan darah dan oksigen, lalu selnya mati. Akibatnya bisa berupa kelumpuhan sampai kematian.
Kasus seperti ayah Irwan tidak langka. Menurut Kementerian Kesehatan, prevalensi stroke di Indonesia mencapai 8,3 per 1.000 penduduk berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023. Artinya, ada puluhan ribu orang dengan kondisi serupa di antara jutaan penduduk.
βWaktu itu saya berjualan nasi goreng karena terkendala dari orang tua saya sendiri dan ikut bantu,β kata Irwan.
Sebagai pengganti peran ayah, uang dari lapak itu pun tidak hanya untuk kuliahnya. Hasilnya juga dipakai untuk kebutuhan keluarga.
Nyaris Berhenti di Semester Satu
Irwan nyaris menyerah saat baru masuk kuliah. Ia menyebut, dirinya kewalahan menanggung UKT yang ditetapkan kampus.
βAwal-awal semester satu itu sempat mau menyerah karena UKT-nya cukup tinggi,β katanya, sebagaimana dikutip dari laman muhammadiyah.or.id.
Akan tetapi, Irwan akhirnya menemukan jalan lain hingga mampu menuntaskan pendidikannya. Kala itu, ia bertekad tetap melanjutkan kuliah dan memilih mencicil pembayaran UKT.
Belum selesai. Saat skripsi, Irwan tak kalah pontang-panting. Irwan jelas harus membagi waktu antara kerja, kuliah, dan tugas akhir.
Nah, untuk menunjang penyusunan skripsi, ia perlu membeli laptop sendiri.
Ia mengaku mendapat dukungan keluarga. Orang tua dan saudara-saudaranya ikut membantu ketika ia kekurangan biaya atau kebutuhan selama kuliah. Dukungan itu, katanya, menjadi salah satu alasan ia terus melangkah.
Kata Dosen: Rajin, Nilainya Bagus
Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani UMPP, Riski Aditya, mengaku bangga. Ia tahu Irwan berjualan nasi goreng di malam hari setelah kuliah.
βNilai-nilainya untuk Irwan ini cukup rajin dan nilai-nilainya cenderung bagus semuanya,β ujar Riski.
Pihak kampus disebut turut membantu Irwan menyelesaikan pendidikan. Meski begitu, rutinitas padat antara kuliah dan kerja tetap ia jalani sendiri.
Kini, usai wisuda, cita-cita Irwan jelas selinier dengan jurusannya ketika kuliah. Ia ingin menjadi guru olahraga. Apalagi, ia pernah bekerja sebagai guru olahraga di SDN Poncol 2. Pengalaman mengajar dan keterampilan renangnya itu tentu bisa menjadi bekalnya bersaing dengan calon guru lain.


