Stasiun Kutablang adalah stasiun kereta api kelas III yang ada di Desa Gle Putoh, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, Aceh. Stasiun ini berada pada ketinggian 35,6 meter di atas permukaan laut dan beroperasi di bawah PT Kereta Api Indonesia Subdivisi Regional I.1 Aceh.
Stasiun ini berfungsi sebagai titik akhir (terminus) paling barat bagi operasional Kereta Api Perintis Cut Meutia. Stasiun Kutablang mempermudah mobilisasi masyarakat Bireuen ke berbagai wilayah sekitarnya melalui jaringan kereta api yang amat sangat terjangkau.
Stasiun Kereta Api Paling Barat di Indonesia
Jika Stasiun Merak adalah stasiun paling ujung barat di Pulau Jawa, maka Stasiun Kutablang menjadi stasiun kereta api aktif yang berlokasi di titik paling barat Indonesia.
Kereta Api Cut Meutia menempuh rute sepanjang 21,45 kilometer dari Stasiun Krueng Geukueh hingga Stasiun Kutablang. Kementerian Perhubungan memberikan subsidi penuh untuk angkutan perintis ini. Melansir dari situs resmi Pemprov Aceh, tarif naik KA Cut Meutia adalah Rp2.000 per perjalanan.
Lintasan kereta api di wilayah ini menerapkan jalur khusus bertipe standard gauge dengan lebar rel 1.435 milimeter. Uniknya, Dinas Perhubungan Provinsi Aceh menyebut, Aceh menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang mengoperasikan rel standar internasional untuk angkutan penumpang.
PT KAI (Persero) mencatatkan mobilisasi penumpang yang cukup tinggi di wilayah Aceh di tahun 2025. Bulan Januari-Oktober 2025, tercatat ada lebih dari 33 ribu penumpang.
Sejarah Perkeretaapian di Aceh
Merangkum dari situs resmi Dishub Aceh, sejarah perkeretaapian di Tanah Rencong dimulai pada tahun 1874 saat Gubernur Jenderal James Loudon memulai pembangunan jalur Ulee Lheue menuju Kuta Radja. Pemerintah kolonial Belanda merancang lintasan militer Atjeh Tram tersebut demi memperlancar pengangkutan pasukan serta logistik perang.
Pemerintah kolonial mengubah nama pengelola jaringan menjadi Atjeh Staats Spoorwegen pada tahun 1916 seiring perluasan rel yang mencapai 511 kilometer. Namun, persaingan ketat dengan armada transportasi jalan raya akhirnya memaksa seluruh operasional kereta api di Aceh berhenti total pada tahun 1982.
Para Gubernur se-Sumatra membangkitkan kembali impian rel Aceh lewat kesepakatan pengembangan Trans-Sumatra Railway pada tahun 2002. Studi teknis dari konsultan asal Prancis SNCF pada tahun 2005 memberikan rekomendasi untuk membangun lintasan baru di kawasan BireuenβLhokseumawe.
Stasiun Kutablang diresmikan kembali pengoperasiannya di tahun 2023 untuk melayani perjalanan KA Cut Meutia. Akan tetapi, pasca-bencana bajir bandang dan tanah longsor yang melanda berbagai titik di Sumatra pada November 2025 silam, banyak jaringan kereta api di Sumatra masih terpisah atau terputus, sehingga konektivitas antardaerah dengan transportasi ini belum berjalan optimal seperti sebelumnya.
Stasiun Kutablang dianggap sangat membantu mobilisasi masyarakat Aceh dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya untuk masyarakat sekitar, sejumlah sekolah dan komunitas lokal juga biasanya memanfaatkan perjalanan kereta api di sini sebagai sarana wisata edukasi bagi anak-anak muda.
Siswa diajak untuk mempelajari sejarah perjuangan bangsa sekaligus perkembangan teknologi perkeretaapian nasional secara langsung di atas gerbong.


