Memindahkan rumah biasanya identik dengan mengangkut barang-barang menggunakan kendaraan ke tempat tinggal baru. Namun, masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan memiliki cara berbeda melalui tradisi Marakka Bola atau Mappalette Bola. Dalam tradisi ini, rumah panggung dipindahkan secara utuh dengan bantuan banyak orang, tanpa harus membongkar bangunannya terlebih dahulu.
Tradisi ini menjadi salah satu bentuk gotong royong yang masih dikenal dalam kehidupan masyarakat Bugis. Pemindahan rumah tidak hanya melibatkan pemilik dan keluarganya, tetapi juga warga sekitar yang bersama-sama membantu mengangkat bangunan hingga sampai ke lokasi tujuan.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang tradisi ini, yuk, simak pembahasan selengkapnya, Kawan GNFI!
Berawal dari Bentuk Rumah Panggung Masyarakat Bugis
Marakka Bola berasal dari bahasa Bugis. Kata marakka berarti mengangkat, sedangkan bola berarti rumah. Tradisi ini juga dikenal dengan nama Mappalette Bola, yang merujuk pada kegiatan memindahkan rumah ke lokasi lain.
Tradisi ini juga berkaitan dengan bentuk rumah tradisional Bugis yang umumnya menggunakan kayu sebagai bahan bangunan dan memiliki tiang-tiang penyangga. Karena di wilayah pesisir, rumah mereka kebanyakan berupa rumah panggung yang dibuat dengan tujuan menghindari banjir dan binatang buas. Selain itu, konstruksi rumah panggung juga memungkinkan bangunan diangkat sehingga dapat dipindahkan tanpa harus membongkar seluruh bagiannya.
Biasanya pemindahan rumah dilakukan ketika pemilik ingin menempati lokasi baru atau ketika rumah dijual tanpa tanahnya. Dengan cara tersebut, bangunan yang masih digunakan dapat dipertahankan dan ditempatkan di lokasi lain.
Bagaimana Proses Marakka Bola Dilakukan?
Sebelum pemindahan dimulai, pemilik rumah terlebih dahulu membicarakan rencana tersebut bersama keluarga dan masyarakat dan pejabat setempat. Waktu pelaksanaan ditentukan melalui kesepakatan dengan para warga.
Setelah itu, perlengkapan yang dibutuhkan untuk pemindahan rumah disiapkan, antara lain seperti bambu, kayu, dan tali, serta alat seperti parang, gergaji, dan palu. Barang-barang yang mudah pecah, seperti piring dan gelas, dikeluarkan dari rumah untuk menghindari kerusakan. Sementara itu, perabot berukuran besar yang tetap berada di dalam bangunan diikat agar tidak mudah bergeser.
Cara memindahkan rumah juga dapat menyesuaikan jarak lokasi tujuan. Jika rumah yang dipindahkan ke tempat berdekatan dapat didorong setelah bagian bawahnya dipasangi roda atau ban. Sementara itu, jika lokasi tujuan lebih jauh, warga dapat bergotong royong mengangkat rumah menggunakan bambu sebagai pegangan.
Dalam proses pengangkatan, bambu dipasang dan diikat pada bagian tiang rumah agar dapat dipegang oleh warga. Persiapan ini membantu warga menopang bangunan secara bersama-sama.
Sebelum pengangkatan dimulai, warga biasanya berdoa bersama agar proses pemindahan berjalan lancar. Setelah itu, warga berkumpul di bawah rumah dan menunggu aba-aba dari orang yang memimpin proses pemindahan. Dalam sejumlah pelaksanaan, pemimpin tersebut dapat berasal dari tokoh adat atau orang yang dipercaya mengarahkan warga.
Ketika aba-aba diberikan, warga mengangkat rumah secara serempak. Mereka bergerak perlahan sambil menjaga koordinasi agar bangunan tetap stabil selama perjalanan. Warga lain di sekitar lokasi turut membantu sesuai perannya masing-masing.
Ada Jamuan untuk Warga yang Membantu
Selain para laki-laki yang saling bahu membahu mengangkat rumah untuk dipindahkan. Para perempuan, anggota keluarga dan tetangga lainnya juga menyiapkan makanan untuk orang-orang yang ikut membantu.
Makanan di sini disiapkan sebagai ungkapan terima kasih kepada warga yang telah membantu pemindahan rumah. Setelah pekerjaan selesai, warga dapat menikmati hidangan yang telah disediakan oleh pemilik rumah.
Makanan yang disiapkan biasanya berupa makanan ringan terlebih dahulu seperti bella lawo atau utti, yang dijelaskan sebagai kolak, biasanya disuguhkan kepada warga yang hadir. Sementara itu, ada juga seperti kue bandang, barongko, dan suwella, yang disajikan bersama teh hangat atau kopi.
Setelah pemindahan selesai kadang kali disajikan makanan berat, seperti sup saudara dan ikan bandeng dengan saus kacang. Jamuan pada tradisi ini menjadi bagian dari kebersamaan setelah warga menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga. Bantuan yang diberikan tidak hanya dibalas dengan ucapan terima kasih, tetapi juga melalui kesempatan untuk berkumpul dan makan bersama.
Gotong Royong menjadi Bagian Penting Marakka Bola
Marakka Bola tidak hanya bertujuan memindahkan rumah ke lokasi baru, tetapi juga menjadi wujud gotong royong masyarakat Bugis. Melalui tradisi ini, warga saling membantu meringankan pekerjaan pemilik rumah yang sulit dilakukan seorang diri.
Kebersamaan terlihat dari keterlibatan warga dalam berbagai tahap, mulai dari mengangkat rumah hingga menyiapkan makanan bagi orang-orang yang membantu. Setiap orang mengambil peran agar proses pemindahan dapat berjalan dengan lancar. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Bugis menjaga hubungan sosial melalui kebiasaan saling membantu.


