Tahukah Kawan GNFI jika Presiden pertama Indonesia, Soekarno, masuk ke dalam salah satu tokoh yang memecahkan rekor dengan pidato terpanjang di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)? Soekarno tercatat memberikan pidato selama 121 menit atau sekitar dua jam satu menit.
Pidato super panjangnya ini menjadikan Sang Proklamator berada di posisi keempat sebagai pemimpin dunia yang “berkhotbah” paling lama. Soekarno sendiri memberikan pidatonya pada 30 September 1960.
Dalam kesempatan itu, pahlawan yang dimakamkan di Blitar ini menyampaikan gagasannya yang dianggap penting bagi kelangsungan kehidupan berbangsa di dunia. Soekarno menekankan sikap anti-imperialisme dan anti-kolonialisme.
Pidato panjang Soekarno berjudul To Build the New World a New atau Membangun Dunia Kembali. Apa isinya?
Isi pidato To Build the New World a New milik Soekarno di PBB
Melalui Ensiklopedia Kemdikbud, dijelaskan bahwa To Build the New World a New menggambarkan ambisi Soekarno untuk menunjukkan bahwa Indonesia dan negara-negara terjajah—Asia dan Afrika—harus memiliki kedaulatan penuh, selayaknya bangsa Amerika dan Eropa. Soekarno mengkritisi bagaimana bangsa-bangsa di dunia masih melakukan praktik kolonialisme dan imperialisme.
Ia menegaskan perlunya menerapkan hak asasi manusia (HAM). Bahkan, Soekarno dengan gagah dan lantangnya menyoroti ketidakadilan yang dihadapi oleh bangsa-bangsa Asia dan Afrika akibat penjajahan yang dilakukan oleh kolonial barat.
“Kami di Asia tidak pernah mengenal keadaan damai! Setelah perdamaian datang untuk Eropa, kami merasakan akibat bom atom. Kami merasakan revolusi nasional kami sendiri di Indonesia. Kami merasakan penyiksaan Vietnam. Kami menderita penganiayaan Korea. Kami masih senantiasa menderita kepedihan Aljazair. Apakah sekarang ini seharusnya giliran saudara-saudara kita di Afrika? Apakah mereka harus disiksa sedangkan luka-luka kami masih belum sembuh?,” demikian orasinya pada dunia.
Pidatonya ini sukses menggetarkan forum. Soekarno mewakili perasaan bangsa-bangsa terjajah yang belum benar-benar merasakan merdeka.
“Ini saya tegaskan kepada tuan-tuan – dan saya sadar bahwa saya sekarang berbicara untuk saudara-saudara saya di Asia dan Afrika – perjuangan untuk kemerdekaan senantiasa dibenarkan dan senantiasa benar,” tambahnya.
Kawan GNFI, tidak hanya soal kedaulatan negara Asia-Afrika, Bung Karno juga menyinggung masalah Irian Barat. Ia menyebut Indonesia telah melakukan usaha terbaiknya untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Presiden yang menjabat selama lebih dari 20 tahun ini turut menaruh perhatiannya terhadap negara-negara lain, seperti Kongo dan Aljazair, yang berjuang untuk merdeka. Ia mendesak seluruh pihak untuk menyelesaikan persoalan itu.
Tidak berhenti di situ, Soekarno bahkan memamerkan ideologi Indonesia, Pancasila, sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, Pancasila menjadi pedoman praktis untuk bertindak.
Pidato Bung Karno ditetapkan sebagai Memori Dunia UNESCO
Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan atau UNESCO resmi menetapkan arsip pidato Bung Karno sebagai Memory of the World (MoW) atau Memori Kolektif Dunia. Hal ini diputuskan pada Mei 2023 silam.
Saat ini Indonesia memiliki tiga arsip penting yang disebut Tiga Tinta Emas Abad 20. Arsip tersebut berisi tiga pidato Presiden Soekarno, termasuk To Build the New World a New yang sudah diakui UNESCO.
Dua pidato lain yang termasuk dalam Tiga Tinta Emas Abad 20 lainnya adalah Arsip Konferensi Asia Afrika (KAA) Bandung tahun 1955 dan Arsip Gerakan Non-Blok (GNB) I di Beogard tahun 1961. Arsip-arsip bersejarah ini diharapkan dapat memperkuat pelestarian dan promosi kekayaan budaya dan sejarah Indonesia di kancah nasional maupun dunia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


