Dongeng, Ilusi Bahagia, dan Kesadaran Palsu—mengapa manusia sering bertahan dalam penderitaan yang sama, tanpa benar-benar melawannya?
Pertanyaan inilah yang secara halus, tetapi terus-menerus mengemuka dalam drama-drama Arifin C. Noer.
Dunia yang ia bangun tampak bergerak, penuh harapan, bahkan menjanjikan kebahagiaan. Namun, jika dicermati lebih dalam, dunia itu sejatinya tidak pernah berubah. Harapan hanya berputar, penderitaan tetap tinggal.
Dua naskah penting Arifin, Kapai-Kapai dan Sumur Tanpa Dasar, menghadirkan potret manusiayanghidup dari janji-janji kebahagiaan, keselamatan, dan makna, yang ternyata hanyalah ilusi. Manusia bertahan bukan karena bebas, melainkan karena diyakinkan untuk percaya.
Membaca kedua drama ini secara berdampingan menjadi penting, bukan untuk menilai mana yang lebih unggul, melainkan untuk memahami bagaimana ilusi bekerja dalam konteks sosial yang berbeda.
Cara baca tersebut sejalan dengan gagasan Susan Bassnett dalam sastra bandingan, yang menekankan bahwa perbandingan bukan soal pengaruh atau hierarki karya, melainkan upaya membaca relasi teks dengan realitas sosial serta fungsi ideologisnya.
Dalam konteks ini, Arifin C. Noer tampak sedang membedah mekanisme ideologi yang menyusup ke dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam Kapai-Kapai, dongeng menjadi perangkat utama. Tokoh Emak berulang kali mengisahkan cerita tentang Pangeran dan Putri yang “hidup bahagia selama-lamanya”. Kalimat ini terdengar polos, menenangkan, bahkan penuh harapan. Namun, justru di situlah kekuatannya.
Dongeng tersebut berfungsi sebagai obat penenang bagi Abu, buruh miskin yang hidup dalam kemiskinan struktural. Dongeng tidak membebaskannya dari penderitaan, tetapi membuatnya mampu bertahan tanpa mempertanyakan sumber penindasan itu sendiri.
Abu tidak pernah dipaksa secara fisik untuk patuh. Ia tidak diancam, tidak disiksa. Namun, ia diyakinkan bahwa kebahagiaan akan datang suatu hari nanti. Keyakinan itulah yang membuat ketidakadilan terasa wajar.
Dalam konteks ini, konsep kesadaran palsu dari Louis Althusser menjadi sangat relevan. Ideologi bekerja bukan melalui kekerasan, melainkan melalui representasi, melalui cerita, simbol, dan keyakinan yang tampak manusiawi.
Cermin Tipu Daya dalam Kapai-Kapai menjadi metafora kuat bagaimana ideologi memantulkan realitas yang telah dipoles. Abu melihat dirinya bukan sebagai korban sistem, melainkan sebagai manusia yang “sedang menunggu giliran bahagia”. Di sinilah tragedinya, dongeng tidak menghapus penderitaan, tetapi membuat penderitaan bisa diterima.
Sementara itu, Sumur Tanpa Dasar memperlihatkan wajah ideologi dari kelas sosial yang berbeda. Jumena Martawangsa bukan buruh miskin. Ia kaya, berkuasa, rasional, dan terbiasa mengendalikan angka serta aset.
Namun, justru di sanalah ia terjebak dalam ilusi lain, keyakinan bahwa rasionalitas, kekuasaan ekonomi, dan perhitungan matematis dapat menutup kekosongan batin, kegelisahan iman, dan ketakutan akan kematian.
Jika Abu hidup dalam dongeng, Jumena hidup dalam ideologi rasionalitas dan materialisme. Keduanya sama-sama terperangkap. Melalui pembacaan bandingan ala Bassnett, tampak jelas bahwa Arifin sedang menunjukkan dua wajah ideologi yang berbeda, tetapi bekerja dengan tujuan yang sama, mereproduksi kepasrahan.
Rakyat kecil dipasrahkan melalui dongeng, sementara kelas berkuasa dipasrahkan melalui keyakinan bahwa mereka mampu mengendalikan segalanya.
Dengan demikian, Arifin C. Noer tidak sekadar menampilkan penderitaan manusia, melainkan mengungkap bagaimana penderitaan itu diwariskan, dinormalisasi, dan bahkan dirawat oleh sistem keyakinan tertentu.
Dunia dalam drama-dramanya bukan dunia tanpa harapan, melainkan dunia yang penuh janji palsu. Dan justru di situlah tragedinya, manusia tidak hancur karena tidak bahagia, tetapi karena terlalu lama diyakinkan bahwa kebahagiaan akan datang asal mereka terus patuh dan percaya.
Dalam konteks sastra Indonesia, kegelisahan semacam ini juga menemukan gaungnya pada karya-karya Arifin C. Noer yang membongkar ilusi melalui metafora dramatik. Membaca Arifin C. Noer memperlihatkan satu benang merah, sastra bukan hanya cermin penderitaan, tetapi juga alat untuk membongkar ilusi yang membuat penderitaan terus berlangsung.
Dongeng dan rasionalitas bisa menjadi alat penindasan jika tidak disertai kesadaran kritis.
Membaca Arifin C. Noer hari ini terasa semakin relevan. Dongeng tentang kebahagiaan, narasi sukses, dan janji masa depan yang gemilang masih terus diproduksi dalam berbagai bentuk, dari wacana pembangunan, meritokrasi, hingga keberhasilan individual.
Di sisi lain, keyakinan bahwa segalanya bisa dikendalikan melalui angka, sistem, dan teknologi juga terus dipertahankan, meskipun kegelisahan manusia modern semakin nyata. Dan di sinilah kekuatan drama Arifin C. Noer.
Ia tidak menawarkan solusi sederhana, tetapi mengajak pembaca untuk bercermin. Apakah kita Abu yang bertahan dengan dongeng, atau Jumena yang berlindung di balik rasionalitas dan kekuasaan? Atau jangan-jangan, kita berada di antara keduanya.
Pada akhirnya, Kapai-Kapai dan Sumur Tanpa Dasar bukan hanya relevan sebagai teks sastra, tetapi juga sebagai bacaan reflektif bagi dunia hari ini. Di tengah banjir narasi optimisme, motivasi instan, dan janji kebahagiaan, drama Arifin C. Noer mengingatkan kita untuk bertanya: kebahagiaan versi siapa yang sedang kita percayai?
Selamat membaca, menafsirkan, dan merenungkan. Sebab sastra, seperti yang ditunjukkan Arifin C. Noer, bukan sekadar hiburan, ia adalah ajakan untuk sadar, bahkan ketika kesadaran itu terasa tidak nyaman.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


