industri kulit garut - News | Good News From Indonesia 2026

Industri Kulit Garut dari Zaman Kolonial sampai Sekarang

Industri Kulit Garut dari Zaman Kolonial sampai Sekarang
images info

Industri Kulit Garut dari Zaman Kolonial sampai Sekarang


Perjalanan penulis ke Garut pada akhir tahun 2025 kali ini terasa berbeda sejak kaki menginjak tanah kota berhawa dingin itu. Udara menusuk, tetapi ramah. Garut seperti menyapa pelan, menawarkan cerita lain selain dodol.

Saya langsung menuju Sukaregang, kawasan yang sering disebut sebagai jantung industri kulit Garut. Di sepanjang jalan, deretan toko berdiri rapat, memamerkan jaket, tas, dan sepatu kulit.

Bau khas kulit tercium kuat, seperti penanda bahwa saya telah tiba di wilayah para perajin. Sukaregang bukan sekadar tempat belanja, melainkan ruang hidup yang menyimpan sejarah panjang dan kerja keras lintas generasi.

Kerajinan kulit Sukaregang dari Kabupaten Garut resmi ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Jawa Barat tahun 2025.

Penetapan ini diumumkan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat pada 9 Januari 2025, setelah melalui serangkaian pengkajian dan sidang penetapan pada Desember 2024.

baca juga

Pengakuan tersebut menjadi bentuk penghargaan terhadap nilai budaya, sejarah, dan kontribusi ekonomi kerajinan kulit Sukaregang bagi masyarakat setempat serta identitas budaya Garut dan Jawa Barat

Sejarah Sukaregang membawa saya mundur ke awal abad ke-20, masa kolonial Belanda. Berdasarkan keterangan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut yang disampaikan Luna Aviantrini (2025) dalam “Kerajinan Kulit Sukaregang sebagai Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat”, industri kulit di kawasan ini telah berkembang sejak tahun 1920-an.

Saat itu, kulit digunakan untuk kebutuhan transportasi seperti jok delman dan pelana sepeda. Kebutuhan akan bahan kuat dan tahan dingin membuat kulit menjadi pilihan utama. Dari sinilah keterampilan menyamak mulai tumbuh dan mengakar.

Kerajinan kulit (Foto: Dokumen penulis)
info gambar

Kerajinan kulit (Foto: Dokumen penulis)


Tokoh-tokoh lokal memegang peran penting dalam menghidupkan industri kulit Sukaregang. Nama Haji Muhtar dan Haji Usman sering disebut warga sebagai perintis usaha penyamakan kulit pascakemerdekaan. Mereka mengelola usaha secara mandiri dengan alat sederhana.

Menurut Luna Aviantrini dalam publikasi tersebut, estafet usaha kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya seperti Haji Ayub dan Haji Ujang Solihin.

Para tokoh ini tidak hanya memproduksi barang, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi warga. Sukaregang perlahan tumbuh menjadi sentra kerajinan kulit yang dikenal luas.

Keterampilan membuat kerajinan kulit di Sukaregang tidak lahir dari pendidikan formal. Ilmu itu diwariskan melalui pengalaman sehari-hari. Anak-anak belajar dengan cara melihat dan membantu orang tuanya. Mereka mengenali tekstur kulit sejak usia dini.

Menurut Wawan Ridwan (2024) dalam “Dinamika Industri Jaket Kulit Garut di Era Modern”, keahlian perajin Sukaregang terbentuk dari kebiasaan panjang, bukan dari buku teks. Bahkan, beberapa alat penyamakan peninggalan Belanda masih digunakan hingga sekarang. Tradisi lama tetap bertahan di tengah modernisasi.

baca juga

Pada masa kolonial, produk kulit Sukaregang bersifat fungsional dan terbatas. Namun, setelah Indonesia merdeka, arah industri mulai berubah. Jaket kulit menjadi produk unggulan. Kondisi geografis Garut yang dingin membuat jaket kulit sangat relevan.

Dalam laporan Hakim Ghani (2024) berjudul “Piazza Firenze dan Kebangkitan Industri Kulit Garut, disebutkan bahwa jaket kulit Garut berkembang karena kebutuhan akan pakaian hangat dan tahan lama.

Lambat laun, fungsi bergeser menjadi gaya. Kulit tidak hanya melindungi tubuh, tetapi juga membentuk identitas.

Saat ini, produk kulit Sukaregang sangat beragam. Jaket tetap menjadi primadona, tetapi bukan satu-satunya. Tas, sepatu, dompet, sabuk, hingga gantungan kunci juga diproduksi. Setiap produk dibuat dengan pertimbangan jenis kulit.

Menurut Wawan Ridwan (2024), kulit domba Garut dikenal paling lembut dan ideal untuk jaket. Kulit sapi dan kerbau lebih keras dan cocok untuk sepatu atau tas.

Para perajin memahami karakter bahan dengan sangat baik. Mereka memperlakukan kulit seperti sahabat kerja.

Bahan baku kulit sebagian besar berasal dari Garut dan wilayah sekitarnya. Garut dikenal sebagai sentra peternakan domba Priangan. Kulit mentah kemudian dikirim ke tempat penyamakan. Proses penyamakan menjadi inti industri ini.

Luna Aviantrini dalam publikasinya menjelaskan bahwa penyamakan kulit melibatkan perendaman, pengapuran, pengerokan, pencelupan, hingga pengeringan. Prosesnya panjang dan memerlukan ketelitian tinggi. Kulit seolah menjalani perjalanan panjang sebelum siap dipakai. Dari bahan mentah, ia berubah menjadi karya bernilai tinggi.

Sistem produksi di Sukaregang hingga kini masih didominasi skala rumahan. Satu bengkel bisa melibatkan seluruh anggota keluarga. Mesin memang digunakan, tetapi peran manusia tetap dominan.

Menurut Wawan Ridwan (2024), satu kesalahan kecil dalam proses bisa merusak seluruh lembar kulit. Karena itu, pengalaman menjadi modal utama. Produksi dilakukan dengan perasaan dan kehati-hatian. Inilah yang membuat produk Sukaregang memiliki karakter kuat.

baca juga

Perubahan zaman turut memengaruhi cara penjualan produk kulit. Dulu, transaksi berlangsung langsung di toko. Pembeli datang, menawar, dan berbincang akrab. Jalan Ahmad Yani dan Gagak Lumayung menjadi pusat keramaian.

Namun, era digital membawa tantangan baru. Dalam laporan Hakim Ghani tahun 2024, disebutkan bahwa toko online membuat persaingan semakin ketat. Harga murah dan produksi massal menjadi ancaman. Pedagang pasar harus beradaptasi dengan kebiasaan belanja baru.

Kerajinan kulit

Kendala terbesar bagi perajin Sukaregang saat ini adalah konsistensi produksi dan pemasaran digital. Skala rumahan membuat mereka sulit memenuhi pesanan besar. Selain itu, tidak semua perajin memahami teknologi.

Menurut Wawan Ridwan dalam tulisannya (2024), banyak perajin mulai belajar menggunakan media sosial. Mereka juga membangun kolaborasi antarperajin. Pemerintah daerah ikut mendorong inovasi. Dukungan ini penting agar Sukaregang tetap bertahan di tengah arus global.

Secara geografis, sentra kulit Sukaregang sangat mudah dijangkau. Kawasan ini berada di Kecamatan Garut Kota. Menurut Hakim Ghani dalam laporannya, gapura besar menjadi penanda utama kawasan.

Dari pusat kota, jaraknya hanya beberapa menit. Dari Bandung, perjalanan sekitar tiga jam. Jalan sepanjang lima ratus meter dipenuhi toko kulit. Sukaregang terasa seperti lorong mode lokal yang ramai. Setiap toko menyimpan cerita dan harapan.

Sukaregang lebih dari sekadar destinasi belanja. Ia adalah simbol ketekunan, kreativitas, dan identitas Garut. Di tengah gempuran digital, Sukaregang terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

Kisah ini membuktikan bahwa karya lokal bisa bertahan dan mendunia. Selain dodol, inilah ikon Garut yang lainnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.