“Sangat menikmati sampai sekarang,” kata Brilian.
Brilian Syah Putra, pemuda 23 tahun asal Desa Bangsri, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora ini menjalani hidup sebagai ilustrator profesional. Karyanya menyasar pasar internasional dan telah beredar di Amerika, Eropa, hingga Selandia Baru.
Brilian tidak pernah merencanakan masa depan menjadi seorang ilustrator internasional. Semua berawal dari unggahan gambar isengnya di Facebook. Ia hanya membagikan coretan visual tanpa target pasar.
“Kalau awalnya sebenarnya ya dari ketidaksengajaan. Pertama kali itu mempostingnya di Facebook. Ya, cuma gambar-gambar aja,” ujarnya.
Dari unggahan itu, tanggapan dari luar negeri datang melalui fitur komentar. Percakapan kemudian berlanjut. Seorang klien asal Amerika meminta ilustrasi untuk band miliknya. Hal tersebut menjadi titik awal proyeknya.
“Pertama kali 2019 kayaknya tuh 50 dolar,” kata Brilian.
Pendapatannya berkisar Rp7–10 juta per bulan. Biasanya, Brilian bekerja pukul 00.00 hingga 05.00 WIB.
Darah Seni dari Rumah Sendiri
Sebenarnya, bakat Brilian tidak tumbuh tiba-tiba. Fondasi dasar bakatnya ini terbentuk melalui lingkungan keluarganya.
Almarhum kakeknya, seorang kepala sekolah, terbiasa menggambar realis alam di depan rumah pada sore hari. Ayahnya mengajarkan sketsa wajah dan anatomi tubuh manusia.

Brilian Syah Putra © Aria Rusta/Kompas
“Kalau almarhum kakek, beliau tuh ngajarinnya tentang realis alam, dan almarhum bapak tuh yang ke sketsa wajah dan bagian-bagian tubuh manusia,” jelas Brilian.
Istilah realis merujuk pada teknik menggambar objek sesuai bentuk aslinya. Sementara anatomi membantu ilustrator memahami proporsi tubuh agar gambar terlihat hidup.
Modal dasar ini kelak menjadi penting ketika Brilian masuk ke ranah ilustrasi digital.
Dark Art, Pasar yang Tidak Ramai tapi Menjanjikan
Berbeda dengan kakek dan ayah, Brilian memilih fokus pada dark art dan logotype. Dark art merujuk pada ilustrasi dengan nuansa gelap, kontras tinggi, dan tema emosional kuat.
Biasanya dark art menyasar pasar band metal, hardcore, hingga skena underground.
“Fokusnya ke situ,” kata Brilian.
Karyanya digunakan untuk kaos, hoodie, jaket, hingga tumbler. Menurutnya, pasar ini tidak besar, tetapi cukup menjanjikan.
Brilian memasarkan karyanya lewat Facebook dan Instagram @briliansyah.art. Mayoritas klien berasal dari Amerika, Eropa, Kanada, hingga Ukraina.
“Kalau buat ekonomi, perputaran ekonomi pasti kita ngincernya market luar,” ujarnya.
Harga ilustrasinya berkisar Rp500 ribu hingga Rp4,5 juta per proyek. Klien luar negeri bahkan memberi tip tambahan hingga Rp1–2 juta.
“Ngontaknya lewat email itu benar-benar serius,” kata Brilian.
Tiga Tahun Latihan, Baru Pecah di Tahun Keempat
Brilian mulai serius berlatih sejak 2016. Namun hasilnya jelas tidak instan.
“Latihan tuh 2016 sampai 2019. Pecahnya di 2019,” ungkapnya.
Selama periode itu, ia belajar ritme kerja. Ia memahami permintaan klien serta menyesuaikan gaya visual.
Baru pada 2022–2025, Brilian menemukan flow kerja yang nyaman. Pendapatan mulai stabil dan ia meng-upgrade peralatan kerja.
Awalnya Brilian menggambar lewat ponsel. Sejak banjir pesanan, ia berpindah ke laptop, pen tablet, hingga iPad.
“Bisa upgrade alat dari HP sampai ke laptop, pen tab, sampai beli iPad, juga software aplikasi yang lebih proper,” ujarnya.
Ilustrator dan AI: Bukan Ancaman Mutlak
Brilian tidak menolak Artificial Intelligence. Ia justru memanfaatkannya sebagai referensi.
“Kalau AI ada bagusnya juga buat referensi,” katanya.
AI digunakan untuk eksplorasi ide, bukan menggantikan kreativitas. Keputusan akhir tetap di tangan manusia.
Bagi Brilian, ilustrasi bukan hanya sebuah fase, tetapi juga adalah pilihan hidup.
“Pengen jadi ilustrator dan hidup yang seru kayak gini,” ucapnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


