Dahulu kala, jauh sebelum istilah mitigasi bencana santer terdengar di telinga, leluhur kita sudah lebih dulu belajar membaca bahasa alam. Mereka menghafal irama angin, mengamati gerak laut, mengenali tanda-tanda anomali alam.
Dari situlah lahir cerita, petuah, dan kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai kearifan lokal yang terbukti membantu masyarakat bertahan menghadapi marabahaya alam.
Waktu berlalu, teknologi berkembang, desa tumbuh menjadi kota, dan manusia merasa semakin mampu mengendalikan alam. Namun perubahan iklim menunjukkan bahwa relasi itu tidak pernah sepihak. Pola cuaca kian tak menentu, bencana datang di luar kebiasaan lama, dan upaya adaptasi tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan reaktif semata.
Disitulah kearifan lokal menemukan kembali relevansinya. Tradisi, aturan adat, dan kebiasaan lama yang lahir dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan alam sejatinya adalah bentuk awal dari adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana.
Bukan sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai pengetahuan yang telah diuji oleh waktu, dan kini justru kita butuhkan kembali untuk membangun masa depan yang lebih tangguh.
Rumah panggung sebagai arsitektur tahan gempa. | Foto: Dokumentasi Pribadi
Smong, Legenda Tsunami Penyelamat Nyawa
Di Pulau Simeulue, Aceh, masyarakat mewarisi cerita turun-temurun tentang Smong (istilah lokal untuk tsunami) yang mengajarkan jika gempa besar terjadi dan air laut tiba-tiba surut, segera lari ke tempat tinggi. Ketika tsunami dahsyat 26 Desember 2004 melanda Aceh, penduduk Simeulue sigap berlari ke perbukitan berbekal ingatan akan pesan Smong. Akibatnya, korban jiwa di Simeulue sangat minim dibanding daerah lain yang terdampak.
Penelitian oleh Rahman dkk. (2017) mengonfirmasi bahwa tradisi lisan Smong secara efektif mengingatkan masyarakat Simeulue akan bahaya tsunami 2004. McAdoo dkk. (2006) menyatakan bahwa hanya sedikit orang di Simeulue yang tewas pada tsunami 2004, meskipun pulau ini sangat dekat dengan sumber gempa.
Hal ini menunjukkan bagaimana pengetahuan tradisional mampu menjadi sistem peringatan dini alami yang ampuh, bahkan sebelum munculnya teknologi modern. Di era peringatan dini berteknologi tinggi sekali pun, tradisi lisan ini tetap menjadi alarm alami yang sangat efektif.
Pelajaran dari Smong jelas, pengetahuan lokal jangan dipandang remeh, melainkan perlu digabungkan dengan teknologi modern demi menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Sistem Subak di Bali
Subak adalah sistem irigasi persawahan di Bali. Penelitian oleh Windia & Dewi, (2011) dan Lansing, (2006) mengungkapkan bahwa sistem Subak juga berperan sebagai benteng alami terhadap bencana hidrometeorologi.
Pola terasering sistem Subak menahan aliran air tidak langsung meluncur deras ke hilir, serta berfungsi layaknya drainase alami yang menyerap, serta menyalurkan air berlebih secara bertahap ke sungai atau laut, sehingga mengurangi potensi erosi, longsor, maupun banjir bandang.
Subak membuktikan bahwa pengelolaan lingkungan berbasis kearifan lokal dapat meningkatkan ketangguhan terhadap cuaca ekstrem, serta menjadi sebuah contoh hubungan antara manusia dan alam yang harmonis di era perubahan iklim.
Budaya Sasi, Menjaga Alam dengan Pantang Larang
Sasi adalah tradisi adat Maluku berupa larangan mengambil hasil alam (di laut maupun darat) selama jangka waktu tertentu agar alam memiliki waktu untuk pulih. Misalnya, suatu desa pesisir menutup wilayah lautnya dari penangkapan ikan selama beberapa bulan.
Setelah sumber daya dirasa cukup pulih, larangan dicabut lewat upacara adat dan masyarakat boleh memanen lagi. Jeda panen ini memberi kesempatan populasi ikan, kerang, ataupun hasil hutan untuk regenerasi, sehingga panen berikutnya tetap berlimpah dan berkelanjutan.
Dalam bukunya berjudul, An institutional analysis of Sasi Laut in Maluku, Indonesia, Novaczek dkk. (2001) menunjukkan kearifan sasi laut membawa manfaat nyata bagi pengelolaan sumber daya pesisir. Sasi terbukti dapat menjadi dasar pembentukan lembaga pengelolaan lokal yang efektif karena aturan adat ini meningkatkan kepatuhan warga dan menjaga keberlanjutan ekosistem.
Dengan menjaga ekosistem tetap lestari, tradisi sasi memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim. Lingkungan alam yang sehat berfungsi sebagai penyangga alami sehingga kerusakan lingkungan bisa dicegah dan ketersediaan pangan pun tetap terjamin.
Arsitektur Tahan Gempa ala Suku Baduy
Di tanah Banten, suku Baduy menyimpan kearifan dalam hal arsitektur rumah. Komunitas Baduy, yang hidup menyatu dengan alam, memiliki desain rumah adat tradisional yang terbukti tangguh menghadapi guncangan gempa.
Rumah adat Baduy berbentuk rumah panggung dari bambu dan kayu, tanpa menggunakan paku sama sekali. Sebagai gantinya, struktur rumah diikat dengan tali rotan yang lentur. Prinsipnya, bangunan dibuat ‘tidak kaku’ sehingga dapat bergerak fleksibel saat diguncang gempa. Selain itu, material yang digunakan sengaja dipilih yang ringan (bambu, kayu, atap rumbia) agar jika pun roboh tidak sampai menimbulkan korban jiwa.
Penelitian oleh Pratama dkk. (2024) mengemukakan bahwa rumah adat Baduy memanfaatkan pengetahuan lokal dan bahan alami lokal sehingga sangat tahan gempa dan ramah lingkungan. Struktur panggungnya yang elastis mampu menyerap getaran, sebuah konsep alami yang selaras dengan prinsip rekayasa modern.
Bisa dibayangkan betapa berharganya pengetahuan ini untuk diterapkan lebih luas. Di daerah yang rawan gempa, menggabungkan teknik konstruksi rumah anti-gempa ala Baduy dengan standar bangunan modern bisa menghasilkan hunian yang jauh lebih aman.
Merajut Kearifan Lokal dan Sains Modern
Beberapa contoh di atas hanyalah segelintir dari khazanah kearifan lokal Indonesia untuk berdamai dengan bencana. Masih banyak tradisi bijak di berbagai daerah yang berakar pada prinsip hidup selaras dengan alam.
Tentu, ini bukan berarti kita menolak sains modern dan kembali sepenuhnya ke cara lama. Sebaliknya, ini soal sinergi. Bayangkan jika kearifan lokal digandengkan dengan teknologi modern. Sinergi ini jelas akan melipatgandakan efektivitas pengurangan risiko bencana.
Pada tingkat nasional, sudah saatnya suara komunitas lokal lebih didengar dalam perumusan kebijakan kebencanaan dan lingkungan. Melibatkan tetua adat dan pemuka masyarakat akan memperkaya perspektif.
Sains modern dan kearifan lokal tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi demi tujuan yang sama, yaitu kehidupan yang aman, lestari, dan sejahtera. Sinergi antara sains modern dan kearifan lokal inilah yang akan menjadi pondasi Indonesia yang lebih tangguh menghadapi krisis iklim dan bencana di masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

