Jembatan Renville adalah sebuah jembatan kereta api bersejarah yang terletak di Panjer, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Membentang sepanjang 100 meter, Jembatan Renville berada tepat di atas Sungai Luk Ulo dan memiliki kode BH 1751.
Nama jembatan ini diambil dari salah satu peristiwa paling bersejarah bangsa Indonesia, yakni Perjanjian Renville. Bukan tanpa sebab, para pejuang kemerdekaan kala itu memang sengaja menamai jembatan ini dengan nama Jembatan Renville untuk mengenang perjanjian tersebut di tahun 1947.
Jembatan Renville yang Bersejarah
Kawan GNFI, sebagai informasi sekaligus pengingat pada sejarah, Perjanjian Renville adalah perundingan antara Indonesia dan Belanda yang terjadi pada 8 Desember 1947-17 Januari 1948. Dinamakan Renville karena perjanjian itu dilakukan di atas kapal perang Amerika Serikat; USS Renville.
Mengutip dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), perundingan ini terjadi setelah Belanda melancarkan Agresi Militer I pada Juli 1947. Hal ini membuat kondisi politik dan keamanan Indonesia saat itu menjadi kacau.
Perjanjian Renville bertujuan untuk menghentikan konflik bersenjata antara Indonesia dan Belanda. Namun, pada dasarnya perjanjian ini justru merugikan Indonesia karena mempersempit cakupan wilayah Republik Indonesia akibat Garis Van Mook.
Secara de facto, wilayah RI yang diakui hanya terbatas di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatra. Akibatnya, pasukan TNI harus ditarik dari wilayah yang dikuasai Belanda.
Setelah disepakati, Belanda melanggar perjanjian dan melacarkan Agresi Militer II. Salah satu tujuannya adalah unutk menguasai Yogyakarta.
Jembatan Renville menjadi saksi bisu karena saat itu Kebumen adalah salah satu akses masuk Belanda untuk menyerang Yogyakarta. Di sisi lain, satu-satunya akses penghubung Sungai Luk Ulo kala itu adalah Jembatan Tembana.
Pejuang yang berada di Kebumen pun akhirnya berinisiatif untuk menghancurkan Jembatan Tembana untuk menghalau masuk Belanda. Akibatnya, jembatan rusak dan Belanda memutuskan masuk ke Kebumen melalui Jembatan Renville.
Bahkan, mengutip dari @potretlawaskebumen, Jembatan Renville dipasangi balok agar truk dan tank Belanda bisa masuk. Walhasil, Belanda sukses menguasai Yogyakarta pada Desember 1948.
Untuk mengenang peristiwa kelam itu, dibangunlah sebuah tugu di dekat jembatan Renville. Tugu itu juga dinamai Tugu Renville untuk mengenang perjuangan pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Jembatan Renville Generasi 2
Jembatan Renville yang Kawan GNFI lihat saat ini merupakan versi anyar atau generasi kedua dari jembatan lawas yang dibangun Belanda. Jembatan Renville lama yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1889.
Saat itu, jembatan tersebut dibangun dengan pasangan batu kali dan fondasi langsung. Melalui akun media sosial @kai121_ milik PT KAI (Persero), pilar penyangganya sempat ambrol dan miring karena beberapa faktor.
Jembatan itu berdiri di atas sungai yang berkelok-kelok. Selain itu, aktivitas penambangan pasir dan erosi dasar sungai juga membuat pilarnya ambles. Pada tahun 1993, pemerintah Indonesia akhirnya mengganti pilarnya menjadi jenis pilar portal besi bertulang dengan tiang pancang bulat.
Lalu, di tahun 2018, saat pemerintah menggarap jalur ganda relasi Kroya-Kutoarjo, Jembatan Renville lama yang dibangun Belanda dibongkar dan digantikan dengan dua jembatan baru. Pembangunannya selesai pada Desember 2019.
Jembatan baru ini berjenis rangka baja tipe Welded Trough Truss (WTT) dengan bentang span sepanjang 100 meter tanpa pilar. Bentang span Jembatan Renville merupakan yang terpanjang di Indonesia.
Ada yang pernah melewati Jembatan Renville saar bepergian dengan kereta?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


