Usia belum genap 15 tahun tapi SMA Unggul Del sudah pernah menembus posisi ketiga sekolah terbaik nasional berdasarkan nilai UTBK, mengalahkan ribuan SMA lain yang usianya jauh lebih tua. Bahkan, delapan siswanya pernah mengirim eksperimen sains ke luar angkasa lewat roket SpaceX.
Ya, SMA Unggul Del memang baru berdiri pada 2011. Kala itu, Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan memutuskan mendirikan sekolah unggulan di desa terpencil tempat ia dibesarkan. Lokasinya di Desa Sitoluama, sebuah kampung kecil di Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba. Keputusan itu resmi tertuang dalam Surat Keputusan Operasional Bupati Toba Samosir Nomor 198 Tahun 2011, dan sekolah mulai beroperasi setahun kemudian, tepatnya 1 Juni 2012.
Kenapa membangun sekolah di sana? Menurut penuturan Luhut, banyak remaja desa yang sebenarnya mampu secara akademik, tapi tak punya akses ke perguruan tinggi bereputasi di Jawa. Ia ingin memperbaiki keadaan itu. Ia bahkan menaruh mimpi besar bahwa suatu hari nanti akan ada alumni atau dosen dari sekolah binaannya yang meraih penghargaan sekelas Nobel.
Yayasan ini awalnya bernama Yayasan Simargala, diambil dari nama desa kelahiran Luhut di Huta Namora, Kecamatan Silaen, Toba Samosir. Nama itu lalu diganti menjadi "Del", yang berarti pemimpin yang selalu selangkah lebih maju.
Filosofi yang dipegang sekolah ini adalah "MarTuhan, Marroha, Marbisuk". Tiga frasa berbahasa Batak ini berarti percaya kepada Tuhan (marTuhan), berhati nurani luhur (marroha), dan bijaksana (marbisuk). Filosofi ini digariskan langsung oleh Pembina dan Pengurus Yayasan Del sebagai dasar pendidikan karakter.
Nah, untuk memaksimalkan pendidikan akademik dan pendidikan karakter, sekolah ini menyediakan gedung asrama putra dan putri. Asrama ini terdiri dari dua lantai, dengan kamar berisi enam siswa lengkap dengan bunkbed, kasur, dan lemari pribadi.
Yang menarik, pembina asrama di sana tidak disebut pengawas atau wali asrama seperti umumnya sekolah berasrama lain. Mereka dipanggil Bapak Asrama, Ibu Asrama, Abang Asrama, dan Kakak Asrama—sebutan yang sengaja meniru struktur keluarga. Bagi remaja usia SMA yang harus jauh dari orang tua, panggilan itu diharapkan berpengaruh terhadap psikologis siswa untuk mengurangi rasa asing di tempat baru.
Baru Delapan Tahun Sudah Mengantongi Banyak Prestasi
Baru delapan tahun beroperasi, sekolah ini langsung mencuri perhatian nasional. Pada 2020, berdasarkan data Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), SMA Unggul Del menempati posisi ketiga terbaik nasional dan pertama di Sumatera Utara, dengan nilai rata-rata UTBK 598,523.
Setahun berikutnya, capaian ini justru melonjak. Pada UTBK 2021, rata-rata nilai siswa Unggul Del naik jadi 654,285, dengan nilai tertinggi 720,57. Namun pada 2022, posisinya bergeser ke peringkat 12 nasional meski tetap jadi yang terbaik di Sumatera, dengan rerata 628,100.
Yang paling baru, berdasarkan dokumen internal sekolah, SMA Unggul Del masuk jajaran 30 besar SMA dengan rata-rata nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) tertinggi secara nasional pada 2025, tepatnya di posisi ketujuh.
Eksperimen Tempe yang Terbang ke Luar Angkasa
Meski dikenal berkat prestasi akademiknya di UTBK, SMA Unggul Del juga memiliki rekam jejak riset yang tidak kalah menarik. Pada Juni 2017, tim riset yang terdiri atas delapan siswa SMA Unggul Del dan dua mahasiswa Institut Teknologi Del berhasil mengirim eksperimen ilmiah ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Eksperimen berjudul The Fermentation of Soybeans in Microgravity Experiment itu diterbangkan menggunakan wahana Dragon dalam misi Commercial Resupply Services (CRS)-11 NASA yang diluncurkan dengan roket Falcon 9 milik SpaceX dari Kennedy Space Center, Florida.
Riset tersebut ingin membuktikan bahwa apakah manusia bisa memproduksi makanan hasil fermentasi ketika harus hidup jauh dari Bumi dalam waktu lama? Untuk itu, tim meneliti bagaimana proses fermentasi kedelai berlangsung di lingkungan mikrogravitasi.
Menariknya, kedelai yang digunakan bukan berasal dari Indonesia. Demi memenuhi standar keamanan dan prosedur ilmiah NASA, tim menggunakan kedelai dari produsen di California yang telah memiliki dokumentasi kualitas dan riwayat pengujian lengkap. Langkah ini dipilih agar proses verifikasi bahan penelitian berjalan lebih efisien.
Penelitian tersebut merupakan kelanjutan dari proyek sebelumnya. Pada 2016, tim yang sama lebih dulu mengirim eksperimen mengenai pertumbuhan ragi (yeast) ke ISS untuk mengetahui apakah mikroorganisme tersebut tetap dapat berkembang di lingkungan mikrogravitasi. Setelah memperoleh hasil awal, penelitian kemudian ditingkatkan dengan menggunakan biji kedelai utuh sebagai media fermentasi.
Guru pembimbing penelitian, Eka Trisno Samosir, menjelaskan bahwa tujuan eksperimen ini adalah mempelajari pengaruh mikrogravitasi terhadap proses fermentasi kedelai menggunakan ragi tempe. Tim mengajukan hipotesis bahwa kondisi mikrogravitasi dapat memengaruhi cara enzim dan mikroorganisme bekerja sehingga laju fermentasi berpotensi berbeda dibandingkan di Bumi. Jika di Bumi proses pembuatan tempe umumnya memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga hari, penelitian ini ingin mengetahui apakah proses tersebut dapat berlangsung lebih cepat di luar angkasa.
Keberhasilan eksperimen ini menjadi salah satu pencapaian penting bagi dunia pendidikan Indonesia. Tidak hanya menunjukkan kemampuan siswa SMA dalam melakukan riset berstandar internasional, tetapi juga membuktikan bahwa gagasan ilmiah dari Indonesia mampu lolos seleksi dan mendapat kesempatan untuk diuji di laboratorium paling unik di dunia, yakni Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Bukan Sekolah Eksklusif untuk Orang Kaya
Sejak awal berdiri, Unggul Del berkomitmen menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak dari masyarakat sekitar sekolah yang kurang mampu secara ekonomi. Ini bagian dari visi dan misi Yayasan Del sejak sekolah ini pertama kali dibuka.
Sekolah ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi pendidikan yang cenderung kurang berpihak pada masyarakat berpenghasilan rendah, akibat tingginya biaya pendidikan berkualitas. Mereka punya beasiswa internal untuk mendukung pendidikan masyarakat yang kurang m mampu. Nah, selain menyediakan beasiswa internal untuk siswa kurang mampu, sekolah juga rutin mengirim dua siswa setiap tahun mengikuti program beasiswa Yayasan Pestalozzi di Sussex, Inggris.
Prestasi sekolah baru ini juga terlihat dari ke mana para alumninya melangkah. Hingga 2025, alumni Unggul Del paling banyak melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung untuk jalur perguruan tinggi negeri, University of Sydney untuk jalur luar negeri, dan Politeknik Keuangan Negara STAN untuk sekolah kedinasan.
Berdasarkan data yang dipublikasikan SMA Unggul Del, sekitar 98% lulusan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, 23% di antaranya ke universitas luar negeri. Sekolah juga mencatat 70% lulusan memilih bidang STEM dan sekitar 25% diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Kerja sama pendidikan sekolah ini juga tidak main-main. Selain NASA, pengembangan konten matematika dan sains dibantu tim dosen ITB, sementara peningkatan kemampuan mengajar guru dibantu Universitas Pendidikan Indonesia.
Capaian ini akhirnya mendapat pengakuan resmi dari pemerintah pusat. SMA Unggul Del menjadi satu dari 12 sekolah penerima program SMA Unggul Garuda Transformasi dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi—program yang menyasar sekolah dengan kualitas pendidikan unggulan untuk dijadikan model transformasi pendidikan nasional.
Usia belasan tahun sebenarnya sangat muda untuk ukuran institusi pendidikan tapi sekolah ini sudah menembus tiga besar nasional, mengirim eksperimen ke luar angkasa, dan mengantar lulusannya ke kampus-kampus top dunia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


