Tahukah Kawan, tingkat hipertensi di Indonesia pada tahun 2025 mencapai ±65 juta orang. Hal ini disebabkan karena pola makan yang tinggi garam/ gula/ lemak, kurangnya aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok.
Untuk menghadapi tantangan itu, pada 3 Juli 2026, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ners STIKES Widyagama Husada Malang melaksanakan program pengabdian masyarakat melalui kegiatan KKN, dengan tajuk “Sahabat Hipertensi” di Dusun Sumber Jambe, Desa Srigonco, Kabupaten Malang.
Program ini menjadi bagian dari upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3, yaitu “Good Health and Well-Being” atau kehidupan sehat dan sejahtera bagi seluruh masyarakat.
Kegiatan tersebut juga sejalan dengan agenda pembangunan nasional dalam Asta Cita, khususnya pada penguatan sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berdaya saing melalui peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
Program Sahabat Hipertensi diprakarsai oleh mahasiswa dengan penanggung jawab kegiatan Tirta, Alvi, dan Widya, di bawah supervisi dosen Ahmad Guntur Alfianto.
Kegiatan ini berfokus pada upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya hipertensi, yang hingga saat ini masih menjadi salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi di Indonesia. Sementara, hasil survei dan pengkajian awal di dusun sumber jambe 11 RT dengan 102 KK dengan usia produktif dan lansia memiliki prevalensi 57,5% hipertensi.
Keunikan program ini terletak pada pendekatan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal dan pangan lokal. Dusun Sumber Jambe memiliki komoditas unggulan berupa pisang, yang dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif pangan sehat karena mengandung kalium yang berperan dalam membantu menjaga kestabilan tekanan darah.
Jenis pisang yang digunakan adalah pisang kepok sesuai dengan komodoti pisang di desa tersebut. Jenis ini dipilih karna sangat banyak dan mudah ditemukan. Kandungan pisang ini tinggi kalium rendah natrium dibandingkan jenis lainnya.
Berbagai kegiatan dilaksanakan dalam program ini, meliputi skrining tekanan darah, edukasi mengenai faktor risiko hipertensi, pendampingan masyarakat dalam menerapkan gaya hidup sehat, serta promosi konsumsi pangan lokal berbasis pisang sebagai bagian dari upaya pencegahan hipertensi.
Hasil pelaksanaan program menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan hipertensi dan pentingnya pemeriksaan tekanan darah secara berkala. Masyarakat juga menunjukkan antusiasme dalam memanfaatkan potensi pangan lokal sebagai bagian dari perilaku hidup sehat dan berkomitmen untuk melanjutkan gerakan Sahabat Hipertensi secara berkelanjutan.
Masyarakat hampir 90% yang mengikuti program tersebut mampu memahami konsep pencegahan hipertensi melalui pangan lokal dan pengolahan menjadi puding sangat muda. Kader Posyandu ILP di bulan betikutnya menambahkan resep tersebut sebagai bentuk makanan tambahan pencegahan hipertensi pada lansia di Dusun Sumber Jambe.
Menurut Ahmad Guntur Alfianto, keberhasilan program ini menunjukkan bahwa penguatan kesehatan masyarakat dapat dilakukan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dengan memanfaatkan potensi lokal yang dimiliki desa.
“Pencegahan hipertensi tidak hanya dilakukan melalui pendekatan medis, tetapi juga melalui pemberdayaan masyarakat dan optimalisasi sumber daya lokal. Ketika masyarakat mampu mengenali potensi desanya dan menggunakannya untuk mendukung kesehatan, maka upaya pembangunan kesehatan berkelanjutan akan lebih mudah tercapai,” ujarnya.
Melalui program ini, mahasiswa Program Studi Pendidikan Ners STIKES Widyagama Husada Malang berharap dapat mendorong terciptanya masyarakat yang lebih sadar kesehatan, mandiri, dan mampu mengembangkan inovasi kesehatan berbasis potensi lokal sebagai kontribusi nyata dalam mewujudkan desa sehat dan pencapaian SDGs di Indonesia. Kawan, mari ciptakan lingkungan yang sehat dan bebas hipertensi dari sekarang!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


