perubahan iklim bikin ikan mandul tapi peneliti ipb ini mengakalinya supayan bertelur sepanjang tahun - News | Good News From Indonesia 2026

Perubahan Iklim Bikin Ikan Mandul, Tapi Peneliti IPB Ini Mengakalinya Supaya Bertelur Sepanjang Tahun

Perubahan Iklim Bikin Ikan Mandul, Tapi Peneliti IPB Ini Mengakalinya Supaya Bertelur Sepanjang Tahun
images info

Foto oleh Jakub Kapusnak di Unsplash


Dampak nyata perubahan iklim global merembet dan mengancam kelangsungan sektor perikanan budi daya di tanah air. Fenomena kenaikan suhu udara yang diikuti dengan menghangatnya temperatur air kolam terbukti tidak hanya memperlambat laju pertumbuhan fisik fauna akuatik.

Lebih dari itu, perubahan kondisi alam ini mulai merusak sistem reproduksi alami ikan, yang menjadi pilar utama penyediaan stok pangan protein bagi masyarakat luas.

Secara biologis, siklus perkembangbiakan ikan tropis sangat sensitif terhadap pergerakan kondisi lingkungan di sekitarnya. Ketika suhu air melonjak melewati batas normal, sinyal tubuh induk ikan akan terganggu sehingga menghambat pelepasan hormon reproduksi alami di dalam tubuh mereka.

Dampak fatalnya, induk ikan akan gagal mencapai tahap kematangan gonad dan tidak mampu melakukan proses pemijahan atau peneluran secara optimal di dalam kolam.

Ancaman kegagalan reproduksi massal ini bukan sekadar teori di atas kertas. Kasus nyata pernah melanda dunia perikanan domestik pada tahun 2017 silam, di mana gelombang kemarau panjang yang melanda wilayah Indonesia membuat mayoritas induk ikan di pusat pembenihan (hatchery) mogok bertelur karena gagal matang gonad. Peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa respons hormonal ikan sangat bergantung pada kestabilan iklim mikro di habitatnya.

"Padahal, semua pengaruh lingkungan pada akhirnya akan diterjemahkan dan direspons oleh hormon di dalam tubuh ikan," ujar Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof Agus Oman Sudrajat.

 

Modifikasi Hormon sebagai Solusi Pembenihan Sepanjang Tahun

Guna memutus ketergantungan para peternak terhadap faktor cuaca, teknologi manipulasi atau kontrol hormonal kini mulai diterapkan sebagai langkah penyelamatan taktis.

Melalui intervensi suntikan hormon, hambatan biologis akibat stres lingkungan bisa diredam. Hasilnya, induk ikan tetap memiliki kemampuan untuk matang gonad dan bereproduksi secara normal meskipun kondisi cuaca di luar ruangan sedang tidak menentu.

Penerapan inovasi ini otomatis mengubah peta kerja bisnis pembenihan tradisional di tingkat lokal. Selama ini, sebagian besar jenis ikan tropis hanya mau memijah secara alami ketika memasuki musim penghujan saja.

Dengan adanya rekayasa hormon buatan, para pengusaha hatchery kini bisa memproduksi benih ikan secara konsisten setiap bulan tanpa perlu lagi menunggu datangnya musim hujan.

Menariknya, pemanfaatan teknologi kedokteran hewan ini tidak lagi menjadi monopoli perusahaan perikanan berskala raksasa yang bermodal besar."Produk hasil inovasi tersebut sudah dapat diakses oleh masyarakat luas melalui platform perdagangan daring, sehingga pembudi daya skala kecil pun dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas usaha," kata Agus Oman Sudrajat.

 

Lonjakan Tonase Panen dan Misi Penyelamatan Spesies Langka

Kemudahan akses pembelian bahan baku hormon di toko daring komersial diharapkan mampu mempercepat digitalisasi dan modernisasi tambak-tambak rakyat di penjuru daerah.

Jika teknologi pemuliaan ini diadopsi secara massal, peta jalan industri akuakultur nasional diproyeksikan bakal mengalami lonjakan kinerja yang sangat signifikan dalam satu hingga dua dekade ke depan.

Target ambisius pun dipatok, di mana angka produksi ikan budi daya domestik diperkirakan mampu meroket setidaknya dua kali lipat dari catatan saat ini berkat sistem reproduksi yang aktif sepanjang tahun.

Di samping mendongkrak omzet para petambak, stabilitas pasokan benih yang melimpah juga membuka peluang besar bagi para peneliti untuk menjajaki budi daya spesies fauna air baru yang selama ini dinilai sulit dijinakkan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.