Kawan GNFI, di setiap upacara 17 Agustus, ada satu momen yang selalu membuat bulu kuduk merinding: detik-detik pengibaran bendera Merah Putih.
Namun tahukah Kawan, bendera pertama yang berkibar pada 17 Agustus 1945 itu bukan dibuat oleh mesin pabrik atau penjahit profesional, melainkan dijahit dengan tangan oleh seorang perempuan muda berusia 21 tahun, dua minggu sebelum ia melahirkan anak pertamanya.
Perempuan itu adalah Fatmawati, istri Sukarno, yang kelak dikenal sebagai Ibu Negara pertama Republik Indonesia.
Dijahit dengan Tangan, Bukan dengan Mesin
Fatmawati mulai menjahit bendera itu pada Oktober 1944, hampir setahun sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Ia menjahit sendiri dengan tangan karena dokter melarangnya menggunakan mesin jahit kaki, mengingat kondisinya yang sedang hamil tua.
Bahan kainnya sendiri didapat dari seorang perwira Jepang bernama Hitoshi Shimizu, yang datang langsung ke rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur mengantarkan dua blok kain katun, masing-masing berwarna merah dan putih.
Bayangkan, Kawan: seorang perempuan yang sedang mengandung, menjahit dengan tangannya sendiri, helai demi helai, kain yang kelak akan menjadi simbol paling sakral bagi sebuah bangsa yang baru akan lahir. Ia bahkan belum tahu pasti kapan bendera itu akan digunakan. Namun, dirinya menjahitnya dengan penuh harap dan keyakinan bahwa hari kemerdekaan itu akan tiba.
Pagi yang Menegangkan di Pegangsaan Timur
Pada pagi hari 17 Agustus 1945, suasana di rumah Sukarno sudah dipadati massa yang mendesak agar proklamasi segera dibacakan. Sekitar 500 orang berdiri di depan beranda rumah, tetapi Sukarno bersikeras menunggu. "Hatta belum datang. Aku tak mau membacakan proklamasi tanpa Hatta," begitu jawabannya kepada massa yang semakin tidak sabar.
Lima menit sebelum pukul 10.00, Mohammad Hatta akhirnya tiba. Ia bertemu Sukarno di kamarnya, ditemani Fatmawati yang sudah menyelesaikan jahitan benderanya. Keduanya keluar kamar mengenakan pakaian putih, siap menghadapi momen yang akan mengubah sejarah bangsa selamanya.
Setelah Sukarno membacakan teks proklamasi didampingi Hatta, upacara dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih yang telah dijahit Fatmawati. Ada detail kecil yang penuh makna dalam prosesi ini: pada awalnya, S.K. Trimurti diminta untuk menaikkan bendera. Namun, ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit.
Karena itulah, tugas mulia ini akhirnya jatuh kepada Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Suhud. Pengibaran itu diiringi lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan seluruh hadirin yang berkumpul di halaman rumah sederhana itu.
Warna yang Diwarisi dari Majapahit
Kawan GNFI, warna merah dan putih yang kita kenal sebagai identitas bangsa hari ini ternyata memiliki akar sejarah yang jauh lebih tua dari kemerdekaan Indonesia itu sendiri. Catatan sejarah mengungkapkan bahwa warna merah dan putih terinspirasi dari warna panji atau pataka bendera Kerajaan Majapahit pada abad ke-13. Dalam Kitab Pararaton, dijelaskan bahwa kombinasi warna ini dianggap sebagai lambang kebesaran kerajaan.
Warna merah dan putih bukan hanya milik Majapahit. Kombinasi ini juga digunakan sebagai bendera perang oleh Sisingamangaraja di Sumatera Utara, dan Kerajaan Bone di Sulawesi Selatan pun menjadikan bendera merah putih yang disebut Woromporong sebagai simbol kekuasaan dan kebesaran kerajaan mereka.
Merah bermakna keberanian, putih bermakna kesucian, sepasang nilai yang telah mengakar dalam berbagai tradisi kerajaan Nusantara jauh sebelum konsep negara-bangsa modern Indonesia lahir.
Bahkan dalam tradisi Jawa, merah dan putih dilambangkan sebagai gula merah dan nasi putih, dua bahan makanan pokok masyarakat yang menyiratkan bahwa warna kebangsaan ini begitu dekat dan akrab dengan keseharian rakyat, bukan simbol yang jauh dan abstrak.
Perjalanan Panjang Sang Saka Melintasi Revolusi
Perjalanan Bendera Pusaka tidak berhenti di Pegangsaan Timur. Selama tahun pertama Revolusi Nasional Indonesia, bendera ini dikibarkan siang dan malam sebagai simbol perlawanan yang tak pernah padam.
Ketika Belanda menguasai Jakarta pada 1946, Bendera Pusaka dibawa ke Yogyakarta di dalam tas kerja Sukarno sendiri, sebuah tindakan yang menegaskan betapa berharganya benda ini bagi kelangsungan perjuangan bangsa.
Momen paling menegangkan terjadi saat Agresi Militer Belanda II atau yang dikenal sebagai Operatie Kraai. Bendera Pusaka bahkan sempat dipotong menjadi dua bagian dan dititipkan kepada komponis Husein Mutahar untuk diselamatkan, sebuah langkah darurat demi memastikan simbol kemerdekaan ini tidak jatuh ke tangan penjajah.
Sejak 1968, Bendera Pusaka asli tidak lagi dikibarkan dalam upacara peringatan kemerdekaan setiap tahunnya. Keputusan ini diambil untuk menjaga kondisi fisik bendera yang semakin rapuh dimakan usia, dan sejak saat itu, yang dikibarkan dalam upacara detik-detik proklamasi setiap 17 Agustus adalah duplikatnya. Bendera pusaka yang asli kini berstatus sebagai Cagar Budaya Nasional dan disimpan dengan sangat hati-hati.
Di Usia 81 Tahun, Sebuah Pengingat yang Tak Boleh Pudar
Kawan GNFI, ketika Kawan menyaksikan pengibaran bendera dalam upacara 17 Agustus tahun ini, mungkin ada baiknya sejenak mengingat kembali kisah di balik kain merah putih itu.
Bukan sekadar simbol kenegaraan yang diproduksi massal dan mudah dibeli di toko, melainkan warisan yang lahir dari tangan seorang perempuan yang menjahitnya dengan penuh harap, di tengah ketidakpastian besar tentang masa depan bangsanya sendiri.
Sang Saka Merah Putih bukan hanya sekumpulan benang yang dirajut menjadi kain. Ia adalah simbol negara yang harus terpatri kokoh dalam jiwa setiap warga negaranya, sebuah warisan yang diperjuangkan dengan darah dan nyawa oleh generasi yang mendahului kita.
Di usia kemerdekaan yang ke-81 tahun ini, tugas kita adalah memastikan bendera itu tetap berkibar, bukan hanya di ujung tiang tertinggi Indonesia, tetapi juga dalam semangat dan jiwa generasi yang akan datang.
Selamat Hari Kemerdekaan ke-81, Kawan. Merdeka!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


