Sejak pukul sembilan pagi, kursi-kursi di Gedung Persekutuan KUWETA, Kampung Werianggi, Teluk Wondama, Papua Barat, telah terisi dari depan hingga belakang. Orang tua dan anak muda duduk bersama, menyimak materi, mengajukan pertanyaan, dan berdiskusi tentang sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka sendiri, yaitu kebudayaan.
Pada Rabu (14/10/2026), lebih dari 60 calon fasilitator dari Kampung Werianggi dan Werabur mengikuti Pelatihan Fasilitator Sekolah Budaya Papua di Gedung Persekutuan KUWETA. Mereka berkumpul untuk mempersiapkan pelaksanaan Sekolah Budaya Papua yang direncanakan berlangsung pada November 2026.
Ekspedisi Patriot merupakan program nasional di bawah Kementerian Transmigrasi yang bekerja sama dengan sepuluh perguruan tinggi di Indonesia. Program ini dirancang untuk tidak berhenti pada evaluasi kawasan, melainkan turun tangan langsung memberikan dampak nyata. Di Kampung Werianggi, Teluk Wondama, misi tersebut salah satunya diterjemahkan melalui kerja sama dengan para aktor lokal untuk mengembangkan community-based cultural tourism.
Di bawah kepemimpinan Dr. Rias Antho Rahmi Suharjo, S.S., S.Pd., M.A., CertDA, dari Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial UI (DPIS UI), Tim Ekspedisi PATRIOT UI terdiri atas Devita Putri Hanjari, S.Hum., Maharani Arfila, S.Hum., Sausan Fajar Alamislami, S.Sos., Pendiron Indra Enumbi, S.Pol., dan Arya Agung Siregar, S.Ag. Tim berfokus pada pengembangan Rumah Budaya Papua sebagai Pusat Aktualisasi Kebudayaan dan Ekosistem Pariwisata Berkelanjutan.

Peserta sedang mengikuti Pelatihan Fasilitator Sekolah Budaya di Gedung Persekutuan KUWETA | Dokumentasi Pribadi
Pelatihan ini bukan tentang mengajari para pemilik budaya bagaimana menjalani tradisi mereka. Sebaliknya, kegiatan ini menjadi ruang untuk membantu masyarakat mengemas pengetahuan yang telah mereka miliki agar dapat dibagikan kepada peserta Sekolah Budaya maupun pengunjung yang ingin mengenal kehidupan masyarakat setempat.
“Pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan keterampilan dan pemahaman dalam memfasilitasi Sekolah Budaya. Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang untuk belajar, berdiskusi, dan berkolaborasi, sehingga ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat nyata bagi peserta dan masyarakat,” ujar Devita Putri Hanjari, anggota Tim 9 Ekspedisi PATRIOT UI.
Tim 9 Ekspedisi PATRIOT UI menghadirkan dua narasumber untuk mendampingi proses tersebut, yakni Bapak Bram Urus, Trainer Kepemanduan Papua Barat dan pemandu ekowisata tersertifikasi, serta Bapak Yakob Donald Kabiay, S.Sos., M.Si., dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Teluk Wondama.
Bapak Bram membawakan tiga materi utama, yaitu teknik komunikasi, cara memandu wisatawan, serta pelayanan dan pengembangan wisata lokal. Ketiganya menjadi bekal dasar bagi calon fasilitator yang kelak berhadapan dengan pengunjung dan terlibat langsung dalam kegiatan ekowisata.

Peserta sedang bermain peran dengan anggota Tim Patriot dalam rangka praktik pengaplikasian materi cara memandu wisatawan | Dokumentasi Pribadi
Materi tidak berhenti pada penyampaian teori. Para peserta juga diajak bermain peran sebagai pemandu dan wisatawan. Melalui simulasi tersebut, mereka berlatih membayangkan situasi yang mungkin muncul selama kegiatan berlangsung dan menentukan cara meresponsnya.
Sementara itu, Bapak Donald membantu peserta mengenali potensi wisata budaya yang dapat dikembangkan di Kampung Werianggi. Pembahasan ini memperluas cakrawala peserta, kegiatan yang sehari-hari mereka lakukan dan pengetahuan yang telah akrab bagi mereka dapat memiliki nilai pembelajaran bagi orang lain.

Bapak Donald sedang membawakan materi mengidentifikasi potensi wisata melalui Objek Pemajuan Kebudayaan | Dokumentasi Pribadi
Namun, mengubah pengetahuan sehari-hari menjadi pengalaman belajar bagi pengunjung bukanlah perkara otomatis. Sesuatu yang terasa biasa bagi masyarakat setempat mungkin justru menjadi hal baru bagi orang yang datang dari luar. Calon fasilitator perlu mengenali apa yang menarik untuk dibagikan, bagaimana menjelaskannya, serta bagaimana memastikan kegiatan berlangsung dengan baik.
Di sinilah pelatihan mengambil peran. Bukan untuk menggantikan pengetahuan masyarakat dengan pandangan dari luar, melainkan membantu mereka menemukan cara untuk memperkenalkan pengetahuan tersebut sekaligus mengenali kemungkinan pengembangan wisata budaya lainnya.
Pelatihan berlangsung dari pukul 09.00 hingga 15.00 WIT. Meski rangkaian materi berlangsung sepanjang hari, peserta tetap mengikuti kegiatan hingga selesai. Bahkan setelah jadwal pelatihan berakhir, sejumlah peserta masih ingin melanjutkan diskusi mengenai rencana dan potensi kampung mereka.
Antusiasme itu memperlihatkan bahwa persiapan Sekolah Budaya tidak hanya berlangsung di dalam modul atau ruang pelatihan. Ia juga tumbuh melalui pertanyaan, percakapan, dan keinginan warga untuk ikut menentukan apa yang dapat mereka kembangkan bersama.
Pengetahuan yang dibagikan dalam pelatihan ini diharapkan tidak berhenti ketika Sekolah Budaya selesai dilaksanakan. Dengan bekal yang diperoleh, masyarakat dapat terus mengidentifikasi potensi budaya, menyusun pengalaman belajar, dan mengembangkan gagasan wisata sesuai kebutuhan kampung.
Sekolah Budaya mungkin akan berlangsung pada November nanti, tetapi upaya untuk mengenali dan membagikan pengetahuan lokal telah dimulai lebih awal oleh masyarakat yang kelak akan menjadi pemandu bagi orang lain untuk mengenal mereka.


