AIESEC in Untan sukses menyelenggarakan Global Village Summer Peak 2026, acara pertukaran budaya yang memperkenalkan keberagaman dunia kepada anak muda Pontianak dengan tema Green Cultures, Global Future. Acara ini digelar pada Minggu, 26 Juli 2026, di Balai Serumpun, Pontianak, dan mempertemukan peserta lokal, Exchange Participants (EP) dari berbagai negara.
Global Village hadir untuk menunjukkan bahwa merayakan budaya dan peduli lingkungan bisa berjalan beriringan. Peserta diajak belajar dari perbedaan, mendengar langsung kisah EP yang menjalani proyek Global Volunteer di Pontianak.Β
Acara ini diselenggarakan oleh panitia pelaksana yang dipimpin Dafa Zia Nandra selaku Organizing Committee President, dengan dukungan divisi program, keuangan dan logistik, pemasaran, layanan delegasi, serta kemitraan. Dalam sambutannya, Dafa mengajak peserta untuk tidak sekadar menjadi penonton. βPengalaman yang Anda bawa pulang hari ini tidak hanya datang dari apa yang terlihat di panggung, tetapi juga dari orang-orang yang Anda temui dan cerita yang Anda bagikan,β ujarnya. Menurutnya, perbedaan bukan alasan untuk terpisah, melainkan peluang untuk belajar dan bertumbuh bersama.
Suasana langsung hangat ketika MC yaitu Syafika Nadhira dan Ahmad Hariyanto mengajak peserta menguji energi ruangan lewat yel khas AIESEC, Hoy, AIESEC! Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama, sambutan disampaikan oleh Wakil Rektor III Universitas Tanjungpura, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta perwakilan mitra kolaborasi utama.
Usai sesi foto bersama dan roll dance yang mengajak seluruh peserta berdiri dan bergerak, sesi Expectation Setting & Check In meminta peserta memegang tiga pegangan yaitu Be Active, Be Mindful, dan Be Present. Suasana budaya lokal lalu hadir lewat tarian tradisional Kalimantan Barat dari Ikanmas.
Pada sesi iGV Report, Alfariza Yulianto selaku Local Committee Vice President of Incoming Global Volunteer (iGV) memaparkan proyek Local Volunteer bernama Green Leaders yang berfokus pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 13 tentang penanganan perubahan iklim. Hasilnya, 15 materi edukasi iklim tersusun, 57 pohon tertanam, 188 pelajar terlibat, dan 2.769 orang terjangkau lewat kampanye. Para EP, yaitu Urooj, Shmael, Sadia, Nidhal, Rose, dan Nalan, menerima apresiasi lalu tampil di sesi EP Runway bersama EP Buddies untuk memperkenalkan budaya negara masing-masing.
Sorotan acara hadir lewat talk show The Khatulistiwa Expedition: Global Voices, Local Memories yang di moderatori oleh Mutiara Dhita. Dua EP peserta proyek Green Leaders berbagi kisah mereka. Sadia berasal dari Karachi, Pakistan, mahasiswa studi lingkungan di The Aga Khan University, sedangkan Nalan berasal dari Jerman, berlatar belakang Turki, dan menempuh studi ilmu politik di University of Marburg.
Soal kesan pertama, Sadia menyebut Pontianak hijau, penuh warna, dan sering hujan, sedangkan Nalan terpikat pada matahari terbenam, pepohonan, dan banyaknya sepeda motor. Sadia bergabung karena ingin terlibat dalam proyek konservasi iklim sekaligus merasakan pertukaran budaya, sementara Nalan termotivasi oleh kecintaannya pada anak-anak. Mereka mengisi hari dengan menanam pohon dan mengedukasi anak-anak tentang perubahan iklim, sementara bagi Sadia, enam pekan itu adalah perjalanan internasional pertamanya.
Soal kejutan budaya, Sadia mengaku hampir setiap hidangan berupa nasi dan senang melihat perempuan mengendarai sepeda motor dengan bebas, hal yang tidak umum di Pakistan. Untuk urusan bahasa, ia mengandalkan Google Translate sambil belajar kata seperti terima kasih, maaf, dan permisi, sedangkan Nalan lebih banyak memakai gestur, bahkan sempat mendapat diskon di mal. Menurut Nalan, nilai-nilai universal tidak memerlukan terjemahan.
Menutup sesi, Sadia mengajak anak muda menyuarakan isu iklim dengan cara yang lebih kreatif. βClimate awareness doesnβt have to be boring. We can use passion, like art and music, to teach climate change too,β ujarnya. Nalan menambahkan bahwa perubahan iklim tidak boleh dianggap remeh dan investasi pada generasi muda sangat penting.
Saat waktu istirahat, peserta menjelajahi booth mitra lewat sesi Games for Booth dan berburu kupon dengan menyelesaikan misi, mulai dari berbelanja di booth hingga berfoto bersama perwakilan mitra. Acara dilanjutkan dengan talk show kedua bersama Andri Septian Cahyadi, peserta program Global Volunteer di Tiongkok pada 2019, yang dimoderatori Muhammad Azril Adhika Putera. Sesi ini menegaskan bahwa AIESEC tidak hanya menerima EP, tetapi juga memberangkatkan pemuda ke luar negeri.
Peserta kemudian mengikuti dua workshop. Dalam workshop Eco Print bersama mitra kolaborasi utama, Dewan Kerja Daerah, peserta menghias tas kain dengan daun dan bunga sambil belajar mengurangi penggunaan plastik. Pada workshop yang dipandu EP dari tiga negara, peserta bergabung sesuai warna pita pilihan mereka untuk mengenal budaya dan pengalaman para EP secara langsung.
Memasuki penghujung acara, sesi Reward & Recognition memberi apresiasi kepada peserta di kategori Enjoying Participation Participant, The Mindful Individual, dan The Most Curious Participant, serta kepada para pemenang permainan. Setelah penampilan penutup dari Ikanmas dan pengisian survei kepuasan, sesi check-out mengajak peserta meneriakkan hal paling menyenangkan hari itu, sebelum acara ditutup dengan foto bersama.
AIESEC in Untan mengucapkan terima kasih kepada seluruh mitra, pendukung, tamu undangan, dan peserta yang telah mensukseskan acara ini. Melalui Global Village Summer Peak 2026, AIESEC in Untan berharap anak muda Pontianak semakin terbuka terhadap perbedaan, peduli lingkungan, dan berani mencoba pengalaman global.


