AIESEC in UPN Veteran Jakarta menunjukkan komitmennya dalam mendukung target SDG 4.7 melalui pengiriman mahasiswa sebagai relawan dalam program Global Volunteer di Vietnam, yang berfokus pada pendidikan berkualitas dan pembangunan berkelanjutan melalui proyek Global Classroom di Hanoi.
Program ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan jiwa kepemimpinan dan kemandirian, sekaligus memberikan dampak sosial di kancah internasional. Proyek Global Classroom yang dirancang untuk membuka akses pendidikan inklusif dan interaktif bagi anak-anak dari berbagai latar belakang ini secara khusus berkontribusi terhadap target 4.6 SDGs yang berfokus pada peningkatan literasi dan numerasi, dengan kegiatan edukatif seperti Book Club dan GlobeLingo yang memperkuat pemahaman siswa dalam bahasa Inggris dan cara berpikir.
Di balik kegiatan mengajar tersebut, terdapat proses transformasi diri yang mendalam bagi para relawan, di mana mereka tidak hanya menyampaikan materi pengetahuan dasar, tetapi juga mengenalkan budaya asalnya, menciptakan ruang pertukaran lintas budaya yang bermakna sekaligus mengasah berbagai aspek pengembangan diri, mulai dari kepemimpinan adaptif, kemampuan bertahan di lingkungan asing, hingga kemandirian dalam mengambil keputusan kritis.
Aspek pengembangan diri yang paling terasah dalam program ini adalah leadership, di mana relawan dituntut mengambil inisiatif merancang metode pengajaran efektif, menyesuaikan diri dengan dinamika kelas yang berubah setiap hari, dan menjadi panutan bagi para siswa.
Kepemimpinan di sini bukanlah tentang memberi perintah, melainkan tentang kemampuan menginspirasi, beradaptasi, dan membawa perubahan positif meskipun dalam keterbatasan, termasuk menghadapi siswa yang belum menguasai bahasa Inggris dengan baik sehingga relawan belajar berkomunikasi melalui gestur, gambar, dan bahasa tubuh yang sederhana tapi bermakna.
Rentang usia siswa yang luas menuntut relawan untuk mengubah cara mengajar hampir setiap hari, yang perlahan mengasah kepekaan dalam membaca kebutuhan setiap anak. Di luar jam kelas, relawan juga menemukan ruang bernama Book Club bersama para siswa, di mana mereka membaca bersama sekaligus melatih keberanian siswa berbicara dalam bahasa Inggris, dan pengalaman ini mengajarkan makna tanggung jawab yang sesungguhnya, di mana jarak antara relawan dan siswa semakin terasa tipis seiring berjalannya waktu.

Selain kepemimpinan, program ini juga menjadi ajang membangun networking yang luas dan berharga, di mana relawan berinteraksi tidak hanya dengan sesama relawan dari berbagai negara, tetapi juga dengan guru-guru lokal, staf sekolah, dan masyarakat setempat.
Jaringan ini tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi di masa depan, sekaligus mengajarkan pentingnya komunikasi antarbudaya dan empati. Relawan belajar bahwa meskipun perbedaan tampak mencolok, ada nilai-nilai universal yang dapat menyatukan, seperti semangat belajar dan keinginan untuk memberikan dampak positif.
Kemampuan bertahan juga menjadi pelajaran tak terduga yang didapatkan para relawan, mulai dari mengatur keuangan pribadi, memasak makanan sendiri, menggunakan transportasi umum di kota asing, hingga mengatasi rasa homesick, yang semuanya memaksa mereka keluar dari zona nyaman dan belajar menghadapi ketidakpastian, mengelola stres, serta mencari solusi kreatif di tengah keterbatasan, yang pada akhirnya membentuk pribadi yang lebih tangguh dan percaya diri.
Sementara itu, aspek kemandirian juga sangat terasakan, di mana jauh dari keluarga dan lingkungan familiar, relawan dipaksa mengambil tanggung jawab penuh atas dirinya sendiri, mengatur jadwal harian, mengelola kebutuhan hidup, dan membuat keputusan penting tanpa bimbingan langsung dari orang tua atau teman dekat, dan kepercayaan diri mereka tumbuh seiring dengan semakin banyaknya tanggung jawab yang berhasil mereka emban.
"Saya melihat langsung bagaimana sistem pendidikan di Vietnam berkembang dan belajar dari praktik yang diterapkan di sana. Namun, yang paling saya dapatkan dari program ini sebenarnya adalah perubahan dalam diri saya sendiri, bagaimana saya menjadi lebih berani mengambil risiko dan lebih percaya diri dalam menghadapi situasi baru," ungkap salah satu peserta Global Volunteer saat menceritakan pengalamannya.
Ia juga menambahkan bahwa program ini mendorong para peserta untuk keluar dari zona nyaman dan belajar beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda, yang pada akhirnya membentuk karakter kepemimpinan yang tangguh dan berwawasan global, dengan pengalaman tiga bulan di negeri orang benar-benar mengubah cara pandangnya terhadap diri sendiri bahwa selama ini ia meragukan kemampuannya padahal sebenarnya ia memiliki lebih banyak kekuatan daripada yang ia kira.
Program Global Volunteer AIESEC in UPNVJ di Vietnam juga menjadi sarana pertukaran budaya yang mempererat hubungan antara Indonesia dan Vietnam, di mana relawan berperan sebagai duta budaya yang memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat setempat, termasuk melalui penampilan tarian tradisional dan pembagian makanan khas Indonesia yang mendapat sambutan hangat.
AIESEC in UPNVJ berkomitmen untuk terus mendukung pencapaian SDGs melalui program pengembangan kepemimpinan pemuda, membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademis tetapi juga memiliki kepedulian global serta kemampuan adaptasi yang tinggi dalam menghadapi dinamika lintas budaya, membuktikan bahwa pertumbuhan diri dan dampak sosial dapat berjalan beriringan dan bahwa pemuda memiliki peran sentral dalam menciptakan masa depan yang lebih baik.


