pohon jabon si cepat tumbuh yang berpotensi bantu pemulihan lahan - News | Good News From Indonesia 2026

Pohon Jabon, Si Cepat Tumbuh yang Berpotensi Bantu Pemulihan Lahan

Pohon Jabon, Si Cepat Tumbuh yang Berpotensi Bantu Pemulihan Lahan
images info

Pohon Jabon, Si Cepat Tumbuh yang Berpotensi Bantu Pemulihan Lahan | Wikimedia Commons | J.M. Garg


Pohon jabon dikenal sebagai salah satu tanaman hutan yang memiliki pertumbuhan relatif cepat dan kayu dengan beragam kegunaan. Tanaman ini banyak dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan industri perkayuan, mulai dari kayu lapis hingga furnitur. Selain memiliki nilai ekonomi, jabon juga berpotensi dimanfaatkan dalam kegiatan penghijauan dan rehabilitasi lahan.

Kemampuannya tumbuh di area terbuka membuat jabon menarik untuk dikembangkan pada lokasi yang sesuai. Namun, pemanfaatannya tetap perlu mempertimbangkan kondisi tanah, ketersediaan air, dan karakteristik lingkungan, terutama ketika tanaman ini hendak digunakan untuk mendukung pemulihan lahan bekas kebakaran.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pohon jabon, yuk, simak pembahasan berikut ini!

Mengenal Pohon Jabon beserta Ciri-cirinya

Jabon merupakan pohon tropis dari famili Rubiaceae yang memiliki nama ilmiah Neolamarckia cadamba. Tanaman ini juga dikenal dengan nama Anthocephalus cadamba. Di Indonesia, jabon memiliki beberapa nama lokal, seperti jabun dan kelampayan.

Mengutip artikel LindungiHutan, jabon dapat tumbuh hingga mencapai tinggi sekitar 45 meter dengan diameter batang hingga 160 sentimeter. Batangnya cenderung lurus dan berbentuk silindris, dengan cabang yang tumbuh mendatar serta tajuk yang relatif tinggi.

Kulit batang jabon muda berwarna putih kehijauan dan relatif halus. Seiring pertambahan usia, warnanya berubah menjadi kelabu kecokelatan hingga cokelat. Daunnya berbentuk tunggal dengan ukuran cukup besar, sedangkan bunganya tersusun dalam kelompok berbentuk bulat. Jabon juga menghasilkan buah bulat yang terdiri atas banyak bagian kecil berisi biji.

Salah satu karakteristik yang membuat jabon banyak dibudidayakan adalah pertumbuhannya yang relatif cepat. Pertambahan tinggi jabon disebut dapat mencapai sekitar 3 meter per tahun, dengan pertambahan diameter batang sekitar 7 sentimeter per tahun dalam kondisi budidaya yang baik. 

Pertambahan volume kayu jabon dapat mencapai lebih dari 20–25 meter kubik per hektare per tahun selama enam hingga delapan tahun pertama.

Angka ini menggambarkan potensi produktivitas jabon dalam budidaya, bukan hasil yang pasti yang akan diperoleh pada setiap lokasi. Pertumbuhan tersebut tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor.

baca juga

Habitat Pohon Jabon dan Kondisi yang Mendukung Pertumbuhannya

Jabon tumbuh secara alami di kawasan tropis Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Menurut LindungiHutan, tanaman ini dapat ditemukan pada ketinggian sekitar 0–1.300 meter di atas permukaan laut. Habitatnya mencakup hutan tropis, tanah aluvial yang lembap di tepi sungai, serta sejumlah lokasi dengan karakteristik tanah yang beragam.

Jabon dapat tumbuh pada tanah liat, lempung, hingga tanah berbatu. Tanaman ini juga ditemukan di beberapa kawasan yang mengalami genangan air secara berkala. Meski demikian, kemampuan beradaptasi pada beragam jenis tanah tidak berarti jabon dapat tumbuh optimal dalam semua kondisi.

Faktor cahaya menjadi salah satu hal penting dalam pertumbuhan jabon. Tanaman ini membutuhkan banyak sinar matahari dan cenderung kurang toleran terhadap naungan yang rapat. Oleh karena itu, area terbuka dengan pencahayaan cukup dapat menjadi lokasi yang sesuai untuk penanamannya, selama kondisi tanah dan air juga mendukung.

Jabon dapat dibudidayakan pada beragam kondisi tanah, tetapi pemilihan lokasi tetap memengaruhi pertumbuhannya. Penanaman pohon ini disarankan pada tanah yang subur dengan drainase baik.

Kesesuaian habitat menjadi pertimbangan penting ketika jabon dimanfaatkan untuk penghijauan. Pada lahan yang mengalami kerusakan, penilaian terhadap kondisi tanah, ketersediaan air, dan tingkat erosi perlu dilakukan sebelum penanaman.

Langkah tersebut membantu menentukan apakah jabon sesuai untuk lokasi yang akan dipulihkan atau apakah diperlukan jenis tanaman lain.

Dari Kayu hingga Habitat Satwa, Beragam Manfaat Pohon Jabon

Manfaat utama pohon jabon berasal dari kayunya. Kayu jabon yang relatif ringan dan memiliki batang lurus dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kayu lapis, furnitur, pulp untuk pembuatan kertas, peti buah, papan, dan sejumlah produk perkayuan lainnya.

Budidaya jabon dapat membantu menyediakan sumber bahan baku kayu sekaligus membuka peluang pendapatan bagi masyarakat. Pengembangan tersebut tetap perlu disertai pengelolaan yang baik agar pemanfaatan kayu tidak mengabaikan kelestarian lingkungan.

Dokumen dari UN-REDD juga menguraikan peluang ekonomi dari budidaya jabon, termasuk usaha pembibitan dan pemanfaatan lahan melalui sistem tumpang sari. Tanaman pertanian tertentu dapat dibudidayakan di antara pohon jabon selama pengelolaannya tidak mengganggu pertumbuhan pohon utama.

Selain kayu, jabon memiliki fungsi ekologis. Artikel LindungiHutan menyebutkan bahwa daun muda jabon dapat dimanfaatkan sebagai pakan satwa, termasuk rusa dan banteng. Informasi ini menunjukkan bahwa jabon dapat memiliki hubungan dengan satwa pemakan tumbuhan di habitat tertentu.

Potensi Pohon Jabon untuk Memulihkan Vegetasi Pascakebakaran

Kebakaran hutan dan lahan dapat merusak vegetasi serta mengubah kondisi tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman. Karena itu, pemulihan kawasan terdampak kebakaran memerlukan pemilihan jenis pohon yang sesuai dengan kondisi lahan. Salah satu jenis yang berpotensi dipertimbangkan adalah jabon, pohon yang dikenal memiliki pertumbuhan relatif cepat dan membutuhkan banyak cahaya matahari.

Potensi tersebut didukung oleh penelitian Arin Annisa Fathia, Iwan Hilwan, dan Cahyo Wibowo yang diterbitkan dalam jurnal Media Konservasi pada 2019. Penelitian berjudul Rehabilitasi Lahan pada Areal Bekas Terbakar ini menguji pertumbuhan beberapa jenis tanaman kehutanan, termasuk jabon putih (Anthocephalus cadamba), di lahan bekas terbakar di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Peneliti membandingkan pertumbuhan tanaman pada jenis tanah dan perlakuan yang berbeda, termasuk pemberian dolomit, biochar, kompos, serta pupuk NPK.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman di lahan bekas terbakar dipengaruhi oleh kondisi tanah dan perlakuan yang diberikan. Temuan ini menjadi pengingat bahwa pemilihan jabon untuk rehabilitasi perlu disertai pengelolaan lahan yang sesuai. Kecepatan tumbuhnya dapat menjadi pertimbangan, tetapi tidak otomatis menjamin keberhasilan penanaman di semua lokasi.

baca juga

Oleh karena itu, penanaman jabon sebaiknya didahului dengan penilaian kondisi tanah, ketersediaan air, dan tingkat kerusakan lahan. 

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Amanda Jingga Rambadani lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Amanda Jingga Rambadani.

AJ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.