Ibu-ibu di Ketapang, Kalimantan Barat turut andil berhadapan langsung dengan api yang melalap sejumlah lahan sepanjang musim kemarau 2026.
Reuters mencatat, lebih dari 140 perempuan di Ketapang, Kalimantan Barat yang turun langsung menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Mereka tergabung dalam The Power of Mama, kelompok relawan perempuan dari berbagai latar belakang, mulai dari petani hingga ibu rumah tangga, yang berpatroli di desa-desa rawan kebakaran.
Mereka biasanya melakukan pemetaan titik api hingga membantu memadamkan api di lahan gambut.
Dengan mengendarai sepeda motor dan membawa peralatan pemadam, para perempuan ini menyusuri wilayah yang mulai mengering. Mereka mengenakan pakaian pelindung merah, membawa selang dan pompa air, lalu bergerak ketika menemukan kebakaran.
Di sela-sela patroli, mereka juga mengingatkan warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Mereka paham betul bahwa persoalan karhutla ini bukan hanya tentang hutan yang terbakar. Lebih dari itu, asapnya bisa masuk ke rumah, mengganggu aktivitas anak-anak, hingga memicu gangguan pernapasan.
Dampak itulah yang membuat Elly Marlina, salah satu anggota The Power of Mama, memilih terlibat langsung dalam upaya pencegahan kebakaran. Ia mengaku pernah mengalami sendiri dampak karhutla ketika anaknya terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada 2019.
βSaya merasa akhirnya punya wadah untuk menyuarakan kekhawatiran yang selama ini saya pendam,β ujar Elly, sebagaimana dikutip dari tulisan Reuters pada 30 Agustus 2026, dalam bahasa Indonesia.
Lebih dari 140 Perempuan Berpatroli di Wilayah Rawan Karhutla
Kawan, Ketapang, Kalimantan Barat, dipenuhi kawasan gambut yang membuat wilayah ini rentan terhadap kebakaran.
βLahan kami paling rentan terhadap kebakaran,β kata Irma kepada Reuters.
Memasuki 2026, kondisinya semakin mengkhawatirkan. Musim kemarau membuat lahan mengering dan persediaan air menyusut, sementara gambut yang kering lebih mudah terbakar dan memungkinkan api merambat hingga ke bawah permukaan tanah.
Situasi itu membuat karhutla di Ketapang sulit ditangani hanya dengan memadamkan api yang terlihat. Sebab, pada beberapa kasus, bara masih bisa bertahan di dalam gambut.
Makanya, The Power of Mama tidak ambil diam. Mereka juga membantu menangani masalah ini.
Meski demikian, The Power of Mama tidak menangani semua jenis kebakaran. YIARI, organisasi yang mendampingi kelompok ini, tidak mengizinkan para anggotanya menangani kebakaran besar. Mereka berfokus pada patroli, pencegahan, pemantauan, serta penanganan api sesuai kemampuan dan tingkat keselamatan.
The Power of Mama Berawal dari Inisiatif Perempuan Desa
Sebelum dikenal sebagai kelompok relawan, sejumlah perempuan di desa-desa Ketapang sebenarnya sudah berinisiatif memantau kondisi lingkungan dan membantu memadamkan kebakaran di sekitar tempat tinggal mereka.
Mita Anggraini, supervisor The Power of Mama, menjelaskan bahwa YIARI melihat inisiatif tersebut sebagai peluang untuk membangun gerakan yang lebih terorganisasi.
Pada 2022, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mulai menghimpun perempuan dari empat desa di wilayah Ketapang dan memberikan pelatihan penanganan kebakaran. Inisiatif itu kemudian berkembang menjadi The Power of Mama.
βBahkan sebelum The Power of Mama dibentuk, ibu-ibu ini sudah mengambil tindakan,β ujar Mita.
Mereka tidak hanya memantau kondisi lahan, tetapi juga membantu memadamkan api di desa masing-masing.
Setelah bertemu dan bekerja bersama YIARI, kegiatan tersebut dikembangkan menjadi kelompok masyarakat dengan fokus yang lebih terarah. Para anggota memperoleh pendampingan dan pelatihan untuk memperkuat kemampuan mereka dalam menghadapi risiko karhutla.
YIARI juga menyediakan telepon seluler untuk mendukung pekerjaan para relawan serta uang makan. Dukungan ini membantu mereka menjalankan patroli dan melaporkan kondisi di lapangan.
Β


