Ada sebuah cerita rakyat dari Kalimantan Timur yang berkisah tentang legenda asal usul daerah Nenang. Daerah Nenang merupakan salah satu desa yang berada di kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Legenda terkait asal usul daerah Nenang ini berasal dari dua versi berbeda. Kedua versi ini memiliki cerita yang berbeda terkait asal usul penamaan daerah tersebut dulunya.
Bagaimana kisah lengkap dari legenda asal usul daerah Nenang tersebut?
Legenda Asal Usul Daerah Nenang, Cerita Rakyat dari Kalimantan Timur
Dinukil GNFI dari buku Serpihan Cerita Rakyat Kalimantan Timur, ada dua versi cerita berbeda yang menceritakan tentang legenda asal usul daerah Nenang. 2 versi cerita ini berasal dari kalangan masyarakat Bugis dan Paser.
Legenda Asal Usul Daerah Nenang Versi Masyarakat Bugis
Alkisah pada awal abad ke-20, daerah nenang dulunya masih berupa genangan air. Belum ada manusia yang menghuni dan menetap di daerah tersebut.
Pada waktu itu, datanglah masyarakat Bugis ke daerah tersebut. Kedatangan masyarakat Bugis ini adalah dengan niatan untuk menetap dan membuat pemukiman di sana.
Namun daerah yang mereka datangi masih digenangi oleh air. Bahkan air yang menggenangi daerah tersebut sampai seukuran pinggang orang dewasa.
Pada awalnya masyarakat Bugis yang datang sempat kebingungan dengan situasi tersebut. Sebab mereka tentu tidak bisa langsung tinggal dan membuat pemukiman di daerah itu.
Walau begitu, mereka tidak menyerah begitu saja. Masyarakat Bugis saling berdiskusi untuk mencari cara agar tempat tersebut bisa mereka tinggali bersama.
Di antara rombongan tersebut, ada seorang tokoh masyarakat yang bernama Haji Ginja. Dirinya kemudian menyarankan agar masyarakat saling bergotong royong membuat parit ke laut.
Dengan demikian air yang menggenangi daerah itu bisa dikuras dari sana. Masyarakat pun setuju dengan ide tersebut.
Semua masyarakat Bugis kemudian saling bekerja sama untuk membuat parit. Mereka saling bahu membahu agar bisa mencapai tujuan untuk menetap di sana.
Siang dan malam masyarakat Bugis tersebut selalu bekerja keras tanpa hentinya. Setelah semua usaha yang mereka lakukan, akhirnya genangan air tersebut berhasil terkuras, sehingga masyarakat Bugis bisa menetap di sana.
Seiring berjalannya waktu, daerah tersebut kemudian dikenal dengan nama Nenang. Nama ini diambil dari bahasa Bugis yang berarti berenang atau jalan di air yang menggenangi sebuah daerah.
Legenda Asal Usul Daerah Nenang Versi Masyarakat Paser
Versi kedua dari legenda asal usul daerah Nenang berasal dari kalangan masyarakat Paser. Menurut ceritanya, daerah Nenang dulunya sering menjadi rujukan masyarakat untuk menangkap ikan.
Sungai-sungai yang ada di daerah tersebut dikenal kaya akan ikan-ikannya. Tidak heran, banyak masyarakat yang mendatangi daerah tersebut untuk menangkap ikan di sana.
Cara yang digunakan untuk menangkap ikan pun memiliki namanya tersendiri. Cara menangkap ikan yang digunakan oleh masyarakat Paser tersebut dikenal dengan nama "betenangan."
Dalam praktiknya, cara menangkap ikan ini menggunakan buluh-buluh bambu yang dibawa masyarakat sebagai alat perangkap ikan. Buluh-buluh bambu ini digunakan untuk membendung air pasang.
Dengan adanya buluh bambu ini, maka ikan-ikan akan terjebak saat air kembali surut nantinya. Dari cara inilah masyarakat berhasil menangkap ikan-ikan yang ada di daerah tersebut.
Dari kebiasaan masyarakat inilah, daerah itu kemudian dikenal dengan nama Nenang. Nama ini diambil dari salah satu suku kata "betenangan" yang menjadi cara masyarakat Paser saat menangkap ikan di daerah tersebut dulunya.


