cara membaca kualitas udara saat karhutla - News | Good News From Indonesia 2026

Cara Membaca Kualitas Udara saat Karhutla, Bukan Sekadar Melihat Kabut

Cara Membaca Kualitas Udara saat Karhutla, Bukan Sekadar Melihat Kabut
images info

Ilustrasi kualitas udara yang tidak sehat akibat karhutla | Foto: Unsplash/kyle lvpc


Masyarakat perlu memantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dan konsentrasi PM2,5 untuk mengetahui tingkat pencemaran saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), bukan hanya mengandalkan kabut atau bau asap.

Informasi tersebut membantu masyarakat menentukan langkah perlindungan, seperti membatasi aktivitas di luar ruangan dan mengurangi paparan asap, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan dan jantung.

Pemantauan kualitas udara menjadi penting ketika kebakaran hutan dan lahan menghasilkan asap yang menyebar hingga permukiman.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersama Kementerian Kesehatan juga mendorong pemanfaatan informasi kualitas udara melalui integrasi data ke platform SatuSehat pada September 2026.

baca juga

Masyarakat dapat memeriksa kondisi udara melalui portal resmi ISPU KLH/BPLH. Dengan memahami informasi yang tersedia, masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas berdasarkan kondisi udara dan mengurangi risiko kesehatan akibat paparan asap.

Cara Membaca ISPU untuk Mengetahui Kualitas Udara

Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) merupakan angka tanpa satuan yang digunakan untuk menggambarkan tingkat pencemaran udara dan potensi dampaknya terhadap kesehatan.

Indeks ini dihitung berdasarkan sejumlah parameter pencemar, termasuk PM2,5, PM10, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan ozon.

Berdasarkan kategori ISPU yang digunakan di Indonesia, nilai indeks dibagi menjadi lima kelompok berikut.

baca juga

Tabel Kualitas Udara | Sumber: KLH/BPLH
info gambar

Tabel Kualitas Udara | Sumber: KLH/BPLH


Masyarakat dapat menggunakan kategori tersebut sebagai panduan awal untuk menyesuaikan aktivitas. Sebagai contoh, ketika ISPU mencapai 150, kualitas udara masuk kategori tidak sehat.

Masyarakat, terutama kelompok rentan, perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memperhatikan munculnya gejala gangguan pernapasan.

Ketika ISPU meningkat ke kategori sangat tidak sehat atau berbahaya, masyarakat perlu lebih ketat mengurangi paparan dan mengikuti arahan otoritas kesehatan setempat.

Meski demikian, angka ISPU perlu dibaca bersama lokasi stasiun pemantauan, waktu pembaruan, dan parameter pencemar yang tercatat.

baca juga

Nilai dari satu stasiun tidak selalu menggambarkan kondisi seluruh wilayah karena pencemaran dapat berbeda menurut lokasi dan arah angin.

Perbedaan ISPU dan PM2,5 yang Perlu Diketahui

ISPU dan PM2,5 sering muncul dalam pembahasan kualitas udara, tetapi keduanya memiliki pengertian berbeda.

ISPU merupakan indeks yang menyederhanakan informasi pencemaran udara, sedangkan PM2,5 adalah salah satu jenis partikel pencemar yang diukur konsentrasinya.

PM2,5 menjadi perhatian saat karhutla karena partikel halus ini dapat masuk ke saluran pernapasan bagian dalam. Konsentrasinya biasanya dinyatakan dalam mikrogram per meter kubik udara (ยตg/mยณ).

baca juga

Sementara itu, nilai ISPU tidak dinyatakan dalam satuan konsentrasi. Indeks tersebut membantu masyarakat memahami tingkat pencemaran dan potensi dampaknya melalui kategori yang lebih mudah dibaca.

Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan jenis informasi yang ditampilkan ketika menggunakan aplikasi atau situs pemantauan kualitas udara.

Angka AQI pada aplikasi internasional juga tidak selalu dapat dibandingkan langsung dengan ISPU Indonesia karena metode perhitungan dan kategorinya dapat berbeda.

Langkah Memantau Kualitas Udara saat Karhutla

Masyarakat dapat melakukan beberapa langkah untuk mengetahui kondisi udara sebelum beraktivitas di luar rumah.

baca juga

Pertama, buka portal resmi ISPU KLH/BPLH dan periksa hasil pemantauan dari stasiun terdekat yang tersedia. Masyarakat juga dapat mengikuti informasi kualitas udara yang disediakan pemerintah daerah atau instansi kesehatan.

Kedua, perhatikan lokasi dan waktu pembaruan data. Kualitas udara dapat berubah akibat perkembangan kebakaran, arah angin, dan kondisi atmosfer. Informasi yang sudah lama diperbarui belum tentu menggambarkan keadaan saat ini.

Ketiga, periksa nilai indeks dan parameter pencemar. Jangan hanya berpatokan pada satu angka tanpa memahami kategori dan lokasi pengukurannya.

Keempat, sesuaikan kegiatan berdasarkan tingkat pencemaran. Ketika kualitas udara memburuk, kurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan.

baca juga

Kelompok rentan perlu mendapat perlindungan lebih besar, termasuk dengan membatasi paparan dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan.

Cara Melindungi Diri dari Paparan Asap Karhutla

Pemantauan kualitas udara perlu disertai tindakan pencegahan. Ketika asap menyebar ke permukiman, masyarakat dapat mengurangi kegiatan di luar ruangan dan menghindari olahraga berat di tempat terbuka.

Di dalam rumah, tutup pintu dan jendela ketika udara luar tercemar, sepanjang kondisi ruangan tetap aman dan tidak terdapat sumber polusi berbahaya di dalamnya.

Jika tersedia, gunakan pembersih udara dengan penyaring partikel yang sesuai untuk membantu mengurangi PM2,5.

baca juga

Ketika harus berada di luar ruangan, respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat dapat membantu menyaring partikel halus.

Namun, respirator tersebut tidak melindungi dari seluruh gas berbahaya dan tidak menggantikan upaya menghindari paparan.

Masyarakat juga perlu memperhatikan gejala setelah terpapar asap, seperti batuk yang memburuk, sesak napas, nyeri dada, atau iritasi berat. Jika mengalami kesulitan bernapas atau gejala serius lainnya, segera cari pertolongan medis.

Panduan pencegahan dan informasi kesehatan selama karhutla dapat diperiksa melalui Kementerian Kesehatan RI dan WHO mengenai dampak polusi udara.

baca juga

Pentingnya Memahami Kualitas Udara

Karhutla tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga menghadirkan risiko kesehatan bagi masyarakat yang terpapar asap.

Karena itu, pemantauan kualitas udara perlu menjadi bagian dari kesiapsiagaan menghadapi bencana, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan.

Masyarakat tidak sebaiknya menunggu kabut semakin tebal atau bau asap semakin menyengat untuk mulai melindungi diri. Memeriksa ISPU, memahami konsentrasi PM2,5, serta mengikuti informasi dari sumber resmi dapat membantu masyarakat mengambil keputusan berdasarkan data.

Pada akhirnya, informasi kualitas udara bukan sekadar angka di layar. Informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk menyesuaikan aktivitas, melindungi kelompok rentan, dan mengurangi paparan polutan selama karhutla.

baca juga

Dengan memahami cara membaca kualitas udara secara benar, masyarakat dapat lebih siap menghadapi dampak asap kebakaran tanpa bergantung hanya pada apa yang terlihat oleh mata.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

๐Ÿšซ AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.