Masjid Al Ikhlas di Dusun Betok, Desa Sukamenak, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, terlihat lagi setelah sekitar 11 tahun terendam Waduk Jatigede. Bangunan itu muncul karena surutnya air akibat kemarau panjang yang lebih dari lima bulan.
Kemunculannya membuat orang-orang penasaran. Bangunan yang sudah lama tak terlihat sejak 2015 ini punya cerita tentang kampung yang dulunya ramai oleh rumah warga, tempat ibadah, dan kegiatan sehari-hari.
Waduk Jatigede Surut hingga 24 Meter
Menurut informasi yang beredar, air menyusut lumayan dalam dibanding biasanya. Elevasi air Waduk Jatigede kini berada di kisaran 236 meter di atas permukaan laut (mdpl), padahal kondisi normalnya sekitar 260 mdpl.
Hal ini membuat sejumlah kawasan yang selama ini tertutup air perlahan muncul ke permukaan. Penurunan itu sekitar 24 meter dari elevasi normal selama kemarau.
Masjid ini ramai dibicarakan setelah videonya beredar di media sosial. Dalam rekaman itu bangunan masjid tampak masih berdiri meski atapnya sudah tidak ada.

Masjid Al-Ikhlas di Desa Sukamenak, Sumedang yang muncul lagi setelah 11 tahun terendam waduk | Foto: Screenshoot youtube MetroTV
Warga setempat bernama Anwar Hidayat mengatakan bahwa air waduk memang surut hampir setiap tahun. Namun, penurunan kali ini terasa ekstrem dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ia menyampaikannya kepada wartawan pada Rabu, 7 Oktober 2026.
βSetiap tahun memang air surut, tetapi tahun ini surutnya paling parah,β katanya.
Dinding Masjid Al Ikhlas Masih Kokoh
Melihat dari video yang tersebar di media sosial, dinding masjid masih terlihat kokoh. Atapnya memang sudah hilang, tetapi bentuk bangunannya masih mudah dikenali.
Di bagian dinding atas, ornamen lafaz Allah dan Muhammad masih tampak jelas. Laporan Metro TV dan Trans TV menyebut kaligrafi itu utuh, begitu pula dinding dan pilar utama yang bertahan sejak 2015.
Bagian yang paling terdampak adalah atap, yang dilaporkan sudah hancur. Meski begitu, masjid itu masih menunjukkan wujud aslinya setelah lebih dari satu dekade terendam. Masjid ini dulu berdiri di tengah permukiman warga Dusun Betok.
Tanah yang dulunya terendam kini mengering dan retak, dengan banyak kerang mati di beberapa titik. Pemandangan ini menunjukkan kalau area yang kini menjadi dasar waduk pernah menjadi tempat tinggal masyarakat.
Jejak Permukiman Dusun Betok Ikut Terlihat
Selain masjid, sisa tembok rumah dan akses jalan juga mulai tampak. Laporan dari media yang sama menyebut kompleks pemakaman leluhur ikut terlihat di kawasan yang dulunya permukiman.
Anwar menceritakan bahwa kawasan itu dahulu merupakan permukiman warga yang punya jalan tembus menuju Darmaraja.

βDulu ini permukiman, ada jalan tembusan ke Darmaraja,β ujarnya.
Rumput yang tumbuh di sini juga membawa manfaat bagi sebagian warga. Anwar yang bekerja sebagai tukang ngarit atau pencari rumput untuk ternak merasa terbantu. Ia teringat para pemilik rumah lama yang kini tinggal di tempat berbeda-beda.
βBagi saya yang tukang ngarit, alhamdulillah. Namun, kasihan juga sama yang punya rumah dahulu. Mereka sudah pindah ke mana-mana,β tuturnya.
Galapos.id memandang kemunculan masjid ini sebagai arsip fisik yang kembali terlihat. Kawasan tersebut dahulu berisi rumah warga, tempat ibadah, dan aktivitas sehari-hari masyarakat sebelum tergenang. Tiap meter air yang surut ikut memperlihatkan ruang hidup lamanya. Saat ini, masjid itu menjadi penanda dari kampung yang pernah ada di kawasan Waduk Jatigede.


