eksplorasi kurkumin pada kunyit mahasiswa ugm bidik kandidat baru antidepresan - News | Good News From Indonesia 2026

Bukan Cuma Buat Bikin Nasi Kuning, Kunyit Bisa Jadi Obat Penangkal Depresi

Bukan Cuma Buat Bikin Nasi Kuning, Kunyit Bisa Jadi Obat Penangkal Depresi
images info

Kunyit, Turmeric (Curcuma longa): fresh rhizome and powder | Karya: Simon A. Eugster


Kunyit selama ini dikenal sebagai bumbu masakan dan bahan jamu. Kini, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) meneliti kandungan kurkumin dalam kunyit untuk melihat potensinya sebagai bahan pengembangan obat depresi.

Tim dari Hibah Kreativitas Mahasiswa Psikologi UGM ini beranggotakan empat mahasiswa angkatan 2024 dari Psikologi, Biologi, Farmasi, dan Teknologi Industri Pertanian. Hasil awal penelitian disampaikan dalam keterangan resmi pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Penelitian ini digali karena antidepresan konvensional kerap menimbulkan efek samping seperti disfungsi seksual dan perubahan berat badan.

Tim menelusuri kaitan depresi dengan mikrobioma usus, kumpulan mikroorganisme di saluran pencernaan yang bisa berkomunikasi dengan sistem saraf pusat. Zat yang dihasilkan mikrobiota usus, termasuk short-chain fatty acids (SCFA), diketahui berperan dalam fungsi saraf.

Curcuma Longa | Herusutimbul
info gambar

Kunyit, Curcuma Longa | Karya: Herusutimbul


Calista Gracianauli, anggota tim dari Psikologi, menjelaskan tiga pertimbangan memilih kurkumin: manfaatnya bagi otak, kepopulerannya secara budaya, dan dukungan data pasar.

β€œKombinasi antara bukti manfaat bagi kesehatan otak, kepopuleran budaya yang tinggi, dan dukungan data pasar yang kuat jadi dasar utama untuk meneliti kurkumin dan potensinya dalam perawatan depresi lebih lanjut,” ujarnya.

Kurkumin dan Reseptor Serotonin

Peneliti memakai pendekatan in silico atau simulasi berbasis komputer, lewat metode network pharmacology dan molecular docking. Tim menghubungkan antara kurkumin, zat dari mikrobiota usus, dan gen terkait depresi, lalu menganalisis jaringan proteinnya dengan perangkat lunak STRING dan Cytoscape.

baca juga

Reseptor serotonin 5-HT2C atau protein yang berperan mengatur suasana hati, muncul sebagai target potensial kurkumin. Pada simulasi molecular docking, kurkumin mencatat skor βˆ’7,26 kcal/mol, lebih negatif dibanding amitriptilin, salah satu antidepresan konvensional, yang mendapat βˆ’6,08 kcal/mol, dan serotonin sebesar βˆ’5,02 kcal/mol.

Skor yang lebih negatif lebih menguntungkan menurut perhitungan komputer. Namun, tim menegaskan angka itu cuma memprediksi posisi dan interaksi molekul dengan protein, bukan mengukur efektivitas pengobatan pada manusia.

Reseptor Serotonin

Tim mengakui masih ada tugas meneliti bagaimana cara kurkumin bekerja pada reseptor tersebut.

β€œMetode ini belum dapat menentukan apakah kurkumin bekerja sebagai pengaktif (agonis) atau penghambat (antagonis) reseptor, sehingga efek farmakologisnya masih perlu dibuktikan melalui pengujian laboratorium,” jelas Calista.

baca juga

Hasil Uji Klinis Kurkumin untuk Depresi

Sebelum simulasi komputer, kurkumin pernah diuji pada manusia. Tim Sanmukhani, dalam studi di jurnal Phytotherapy Research, melibatkan 60 pasien gangguan depresi mayor. Mereka diacak ke tiga kelompok selama enam minggu: obat antidepresan fluoxetine 20 mg, kurkumin 1.000 mg, dan kombinasi keduanya.

Hasilnya, tingkat respons pada skala depresi HAM-D17 mencapai 77,8% di kelompok kombinasi, 64,7% di kelompok fluoxetine, dan 62,5% di kelompok kurkumin. Selisih itu tidak signifikan secara statistik (nilai P 0,58). Kurkumin ditoleransi dengan baik oleh semua pasien.

Studi Lopresti dan rekan di Journal of Affective Disorders (2014) memakai metode double-blind, yakni peserta dan peneliti tidak tahu siapa menerima apa. Sebanyak 56 penderita depresi mayor mengonsumsi kurkumin 500 mg dua kali sehari atau plasebo selama delapan minggu. Mulai minggu keempat, kurkumin secara signifikan lebih unggul daripada plasebo dalam memperbaiki suasana hati.

Manfaat kurkumin baru terlihat sebagian, yakni empat sampai delapan minggu setelah pengobatan.

β€œAda dukungan parsial untuk efek antidepresan kurkumin pada penderita gangguan depresi mayor, yang dibuktikan dengan manfaat yang muncul 4 hingga 8 minggu setelah pengobatan,” tulis mereka.

baca juga

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

US
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.