karhutla di lahan gambut - News | Good News From Indonesia 2026

Karhutla di Lahan Gambut, Kebakaran yang Bisa Bertahan Meski Api Tak Terlihat

Karhutla di Lahan Gambut, Kebakaran yang Bisa Bertahan Meski Api Tak Terlihat
images info

karhutla di lahan gambut | Sumber: pexels


Kebakaran lahan gambut di Kalimantan kembali menjadi sorotan nasional hingga internasional akibat dampak ekologis dan polusi asap yang ditimbulkannya. Bencana alam dan lingkungan ini tidak hanya merusak vegetasi lokal, tetapi juga melepaskan emisi karbon dalam jumlah masif ke atmosfer. Penanganan musibah ini memerlukan pemahaman mendalam mengenai karakteristik fisik tanah gambut agar langkah penanggulangan dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan.

Karhutla Kalimantan yang melibatkan ekosistem gambut membutuhkan pendekatan khusus dibandingkan kebakaran hutan tanah mineral. Karakteristik lahan gambut yang kaya akan bahan organik menjadikan area ini sangat rentan terbakar jika kering, terutama saat musim kemarau panjang atau ketika terjadi penurunan muka air tanah.

Kawan GNFI perlu memahami bahaya ekologis jika lahan gamnbut terbakar. Yuk! Simak informasinya berikut ini. 

Apa itu Tanah Gambut dan Ciri-cirinya?

tanah gambut, karhutla kalimantan, lahan gambut, kebakaran gambut,
info gambar

Rawa Gambut TN Sebangau Palangka Raya | Sumber: Wikimedia Commons


Tanah gambut merupakan material organik yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa vegetasi yang melapuk secara tidak sempurna. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14/Permentan/PL.110/2009, Kementerian Pertanian gambut didefinisikan sebagai tanah hasil akumulasi timbunan bahan organik dengan komposisi lebih dari 65%.

Lahan ini terbentuk secara alami dalam jangka waktu ratusan hingga ribuan tahun dari lapukan vegetasi di atasnya, di mana proses dekomposisi terhambat oleh kondisi lingkungan yang basah dan anaerob (miskin oksigen).

Karakteristik utama lahan gambut adalah daya serap airnya yang sangat tinggi menyerupai spons. Namun, ketika ekosistem ini mengalami pengeringan ekstrem, bahan organik kering tersebut berubah menjadi bahan bakar yang cukup reaktif saat terpantik api ditambah fakor alami seperti ketika terjadi kekeringan yang cukup lama.

Api Bisa Menjalar di Bawah Permukaan Tanah

Bisa Kawan GNFI! kebakaran api di lahan gambur bara apinya dapat menyerap ke bawah tanah. Dikutip dari laman resmi IPB University, kebakaran lahan gambut memiliki karakteristik unik yang dikenal sebagai kebakaran bawah permukaan (subsurface fire).

Api tidak hanya merambat di atas tanah, melainkan menyusup dan membara ke dalam lapisan tanag dengan material organik yang tebal, kering, telebih jika masih menyisakan material yang belum terbakar, hal ini menyebabkan nyala api tersimpan lebih lama.

Kondisi inilah yang membuat api sangat sulit ditemukan dan dipadamkan hingga tuntas. Beberapa alasan utama mengapa kebakaran bawah permukaan gambut begitu berbahaya dan tangguh di antaranya:

Sifat kebakaran yang tersembunyi di bawah permukaan ini menegaskan bahwa pemadaman permukaan saja tidak pernah cukup. Tanpa pembasahan total hingga seluruh lapisan gambut jenuh air kembali, bara api akan terus menjalar dan sewaktu-waktu dapat memicu kebakaran baru yang lebih besar.

Mengapa Kebakaran di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan hingga Tuntas?

karhutla kalimantan, lahan gambut, kebakaran tanah gambut
info gambar

Kebakaran Hutan | Sumber: Pexels


Apakah tanah gambut bisa terbakar? Jawabannya adalah "Bisa!", tanah gambut bisa terbakar dan dampak kebakarannya jauh lebih kompleks dibandingkan kebakaran tanah biasa.

Berikut adalah alasan mengapa kebarakan tanah gambut sangat sulit dipadamkan hingga tuntas:

1.Sifat Kebakaran Bawah Permukaan (Smoldering/Ground Fire): Dikutip dari laman resmi IPB University, kebakaran hutan pada lahan gambut bukan sekadar menghentikan api pada permukaannya saja. Bara api menyebar dan menjalar di bawah permukaan tanah (subsurface fire), sehingga nyala atau bara api tetap bertahan tersembunyi walau bagian atas tampak padam.

2. Asap Tebal yang Terus Mengepul: Karena proses pembakaran berlangsung secara tidak sempurna di bawah tanah, asap kebakaran akan tetap mengepul baik dari permukaan maupun dari bagian bawah lahan gambut yang terbakar.

3. Kebutuhan Air Pemadaman yang Melimpah: Untuk memadamkan bara api di bawah tanah, diperlukan penyiraman air dalam volume yang sangat besar hingga tanah benar-benar jenuh air kembali seperti hujan yang sangat deras atau penggunaan nozzle tanam memang menjadi salah satu solusi yang ada saat ini untuk memadamkan bara api di bawah permukaan gambut.

Kendati demikian, proses ini memerlukan waktu lama dan keterlibatan fisik secara langsung. Situasi tersebut kian berisiko bagi keselamatan petugas maupun relawan karena bahaya paparan asap beracun dan suhu panas ekstrem di lokasi kebakaran.

baca juga

Pengeringan Gambut dan Aktivitas Manusia Meningkatkan Risiko Kebakaran

Secara alami, lahan gambut sebenarnya basah dan berfungsi layaknya spons yang menyerap serta mengikat air dalam jumlah besar. Pada dasarnya, tanah gambut yang alami sukar terbakar hanya karena cuaca panas.

Namun, aktivitas manusia dapat memicu tingginya risiko kebakaran hutan pada tanah gambut dengan membuat kanal atau parit-parit buatan di sekitar area gambut.Pembuatan kanal ini bertujuan mengeluarkan air dari dalam tanah agar lahan menjadi kering. Ketika lahan gambut kering maka akan lebih mudah dibakar atau terbakar. 

Padahal, jika dikelola secara bijak, parit pada lahan gambut difungsikan untuk menjaga agar gambut tetap basah di musim kemarau atau menampung kelebihan air tanah saat musim hujan.

Pemerintah Indonesia sendiri telah menetapkan batas tinggi muka air tanah gambut maksimal 40 cm agar lahan tetap lembap, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 71 Tahun 2014.

Di mana Saja Lahan Gambut di Indonesia?

Indonesia memiliki kekayaan ekosistem gambut yang sangat berharga. Dikutip dari laman resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia memiliki lahan gambut tropis terbesar ketiga di dunia dan terbesar di Asia.

Pada artikel publikasi BRIN tahun 2024 mencatat bahwa Indonesia memiliki lahan gambut seluas 13,4 juta hektar, sebuah angka yang terus diperbarui seiring berjalannya waktu.
Sebagian besar lahan gambut ini tersebar di enam provinsi utama, yaitu:

  1. Kalimantan Tengah
  2. Riau
  3. Kalimantan Barat
  4. Sumatera Selatan
  5. Papua
  6. Papua Barat
baca juga

Mencegah Karhutla Gambut dengan Menjaga Lahan Tetap Basah

Upaya pencegahan Karhutla Kalimantan yang efektif berfokus pada pengelolaan air dan pemeliharaan kelembapan gambut agar risiko kebakaran dapat ditekan sebelum api muncul.

Beberapa langkah strategis yang dapat diterapkan meliputi:

1.Penyekatan dan Pengelolaan Kanal (Canal Blocking): Pembuatan sekat di area kanal bertujuan menahan air agar kelembapan tanah gambut tetap terjaga dan tidak mudah mengering.

2. Penanaman Tumbuhan Asli Gambut: Melakukan reintroduksi dan penanaman spesies tanaman asli yang adaptif dengan kondisi tanah tergenang air.

3. Pemberdayaan Masyarakat Lokal: Membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk memberikan edukasi serta mendeteksi potensi kebakaran secara dini.

4. Integrasi Tata Air dan Pengawasan Ketat: Memperketat pengawasan terhadap konsesi perusahaan pengelola lahan agar tunduk pada regulasi batas tinggi muka air supaya lahan gambut tidak kering dan tetap lembab.

baca juga

Kesadaran Bersama Menjaga Ekosistem Gambut

Kebakaran tanah gambut memberi pelajaran berharga bahwa bencana ini tidak hanya merugikan aktivitas manusia saja, tetapi juga merenggut hak hidup hewan dan tumbuhan yang menghuni ekosistem tersebut.

Pada dasarnya, semua hewan dan tumbuhan di dalam hutan memiliki keinginan dan hak yang sama untuk hidup berdampingan secara damai di bumi ini.

Menjaga keberlanjutan hutan tropis Indonesia berarti merawat warisan ancient forest yang membutuhkan waktu jutaan tahun untuk terbentuk, sebuah ekosistem alami yang tidak akan pernah bisa digantikan begitu saja oleh perkebunan monokultur seperti kebun sawit.

Upaya mencegah karhutla Kalimantan dan memahami penyebab kebakaran gambut sulit dipadamkan harus menjadi kesadaran kolektif kita bersama. Tanpa komitmen menjaga dan melestarikan lingkungan, masa depan keanekaragaman hayati kita akan terus terancam.

Mari jaga hutan dan ekosistem alam sekitar kita!

Anda dapat membaca informasi menarik, edukatif, inspiratif, dan berita terkini positif lainnya seputar Indonesia hanya di Good News From Indonesia (GNFI)!

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Evita Damayanti lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Evita Damayanti.

ED
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.