karhutla manyala indonesia pantang diam saja - News | Good News From Indonesia 2026
1/4

Karhutla Menyala, Indonesia Pantang Diam Saja!

Karhutla Menyala, Indonesia Pantang Diam Saja!
images info

Karhutla | Kemenhut


Agustus hingga September 2026 tak ubahnya mimpi buruk bagi masyarakat Kalimantan dan beberapa wilayah di Sumatra. Di sana, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di banyak titik di pulau tersebut. Dari api yang menyala, rentetan masalah ikut muncul di sana.

Hutan hujan tropis yang tadinya berwarna hijau nan sejuk berubah menjadi merah akibat kobaran api. Berdasarkan data yang dicatat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dari Sistem Informasi Pemantauan Kebakaran Hutan (SiPongi) Kementerian Kehutanan, total indikasi luas lahan terbakar di enam provinsi Indonesia mencapai 85.765,57 hektare per 14 September 2026. Adapun indikasi lahan terbakar sendiri adalah tanda, petunjuk, atau gejala yang menunjukkan bahwa suatu area lahan sedang, telah, atau berpotensi mengalami kebakaran.

Kalimantan Barat menjadi provinsi yang mengalami karhutla paling parah. Indikasi lahan terbakar di sana mencapai 38.310,89 hektare atau setara 44,67% dari total di Indonesia. Efeknya, Kalimantan diselimuti kabut asap yang berbahaya bagi pernapasan manusia.

Kemarau berkepanjangan akibat El Nino jadi hal yang memantik karhutla. El Nino yang merupakan fenomena alam berupa pemanasan suhu permukaan air laut di atas normal di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur membuat curah hujan menurun drastis, sehingga cuaca jadi lebih panas dan kering yang mempercepat penyebaran api. Meskipunn demikian, perlu diingat bahwa faktor utama terjadinya karhutla tetaplah aktivitas manusia.

Pakar Kebijakan Lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rijal Ramdani, menjelaskan bahwa salah satu contoh aktivitas manusia yang bisa memicu karhutla adalah pembukaan lahan untuk dijadikan perkebunan atau bercocok tanam dengan metode pembakaran.

"Kalau tidak ada El Nino, sebenarnya praktik membakar untuk bercocok tanam bisa dikendalikan. Tetapi, karena kondisi kering dan angin kencang, api menjadi sulit dikendalikan," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Rijal juga mengingatkan adanya aktivitas yang tanpa disadari berpotensi memantik api. Misalnya saja, penggunaan asap untuk mengusir lebah agar bisa diambil madunya, atau membuang puntung rokok sembarangan juga perlu diwaspadai. Saat hal semacam itu dilakukan di kawasan gambut yang mengering, jadilah api yang awalnya kecil bisa membesar hingga menjadi kebakaran.

"Serbuk-serbuk kecil dari gambut yang kering juga bisa terbakar," ungkap Rijal.

Efek karhutla di Kalimantan bahkan turut dirasakan negara tetangga. Wilayah di Sarawak dan Singapura mencatat tingkat kualitas udara tidak sehat akibat asap yang terbawa angin dari Kalimantan dan Sumatra. Di Sarawak, Malaysia, bahkan ratusan sekolah terpaksa ditutup sementara demi kesehatan siswa.

Tentu saja Indonesia tidak tinggal diam. Berbagai pihak, mulai dari TNI, Polri, hingga BNPB dan BPBD, turun langsung untuk memadamkan karhutla. Berbagai upaya pun dijalankan demi menghentikan si jago merah. Selama beberapa pekan, pemberitaan tentang aneka "jurus" pun mewarnai media massa. Tentu saja, masyarakat juga berharap "jurus" tersebut membuahkan hasil agar api padam dan kehidupan bisa berjalan normal seperti sedia kala.

Tak ketinggalan, ada pula hujan kritik terhadap langkah yang dilakukan pemerintah untuk menangani karhutla. Misalnya saja, terdapat kepala daerah yang absen dalam rapat penting penanganan darurat karhutla. Penegakan hukum juga dikhawatirkan dapat mengkriminalisasi masyarakat adat atau rakyat kecilβ€”tetapi tumpul terhadap perusahaan besar yang memegang izin lahan yang operasionalnya merusak lingkungan. Ada pula sorotan saat kedatangan Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) di Kalbar dalam rangka membantu pemadaman karhutla justru disambut dengan seremoni resmi, hal yang dianggap tidak penting untuk dilakukan.

Kali ini, GNFI akan membahas sejumlah langkah yang telah dilakukan Indonesia untuk menangani karhutla, serta bagaimana itu dilakukan. Namun, perlu diingat, pada akhirnya yang paling dibutuhkan adalah aksi pencegahan dengan menjaga lingkungan, khususnya lahan gambut, agar alam tetap lestari.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.

AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.