edukasi literasi kualitas udara cara bagimana membaca ispu dan aqi saat kabut asap aiesec in untan - News | Good News From Indonesia 2026

AIESEC in Untan Edukasi Literasi Kualitas Udara: Cara Membaca ISPU dan AQI Saat Kabut Asap

AIESEC in Untan Edukasi Literasi Kualitas Udara: Cara Membaca ISPU dan AQI Saat Kabut Asap
images info

Sumber: Wikimedia Commons - OttaEl


Pernah scroll aplikasi cuaca, lalu kaget melihat angka kualitas udara yang tiba-tiba melonjak? Kamu tidak sendirian. Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada 11 Oktober 2026 tercatat 414, dan itu sudah masuk kategori berbahaya.

Masalahnya, banyak dari kita hanya melirik angkanya, lalu lanjut beraktivitas seperti biasa. Padahal, angka itu bukan hiasan layar. Nah, AIESEC in Untan ingin mengajak kamu berkenalan dengan ISPU dan Air Quality Index (AQI) supaya kita bisa tau kualitas udara kita saat ini.

Kabut Asap Belum Mau Pamit

Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah menyelimuti Palangka Raya sejak akhir Juli 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahkan memprakirakan konsentrasi PM10 di sana bisa menyentuh 756,3 ยตg/mยณ pada 19โ€“20 Oktober, jauh di atas baku mutu udara nasional. Kalimantan Barat juga pernah merasakannya.

Pada 27 Agustus, Pontianak sempat masuk kategori berbahaya dengan ISPU 328. Kabar baiknya, BMKG memperkirakan musim hujan mulai masuk bertahap pada November-Desember 2026. Sampai hujan itu datang, kita perlu pintar-pintar menjaga diri.

baca juga

Kenalan dengan ISPU, Rapor Udara Kita

Sekarang, sebenarnya ISPU itu apa? Anggap saja ISPU sebagai rapor udara. Makin besar nilainya, makin buruk kualitas udaranya. Nilai ini dihitung dari tujuh pencemar, yaitu PM10, PM2.5, NOโ‚‚, SOโ‚‚, CO, Oโ‚ƒ, dan HC. Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 14 Tahun 2020, kategorinya berjenjang dari yang paling aman sampai yang paling gawat.

Angka 0-50 berarti baik, 51-100 sedang, dan 101-200 tidak sehat. Naik lagi ke 201-300, udara masuk kategori sangat tidak sehat, dan di atas 300 statusnya berbahaya. Jadi, ISPU 414 di Palangka Raya itu bukan sekadar "tinggi", melainkan sudah jauh melewati batas paling gawat.

AQI dan ISPU: Mirip, tapi Tidak Sama

Lalu, bagaimana dengan AQI? Ini indeks serupa yang dipakai negara atau platform lain, termasuk aplikasi pemantau seperti IQAir. Sebagai contoh, pada 16 Oktober 2026 pukul 12.00 WIB, AQI Amerika Serikat untuk Jakarta di IQAir tercatat 169 dan masuk kategori tidak sehat.

Karena sistem dan metodenya berbeda, angka ISPU dan AQI tidak bisa langsung disamakan, seperti membandingkan nilai ujian dari dua sekolah yang cara menilainya tidak sama. ISPU adalah indeks resmi Indonesia, sedangkan AQI bergantung pada negara atau platform yang menerbitkannya. Jadi, kalau dua angka berbeda, tidak perlu panik apalagi saling menyalahkan.

baca juga

Cukup perhatikan kategori, lokasi pemantauan, jam pengukuran, dan sumber datanya. Untuk keputusan penting, BMKG mengimbau kita mengacu pada hasil pengukuran resmi.

Angka Sudah Terbaca: Kapan Aman Keluar Rumah dan Perlu Bermasker?

Oke, angkanya sudah terbaca. Lalu, kapan sebenarnya aman keluar rumah? Jawabannya bukan jam di dinding, melainkan angka di layar. Kementerian Kesehatan menganjurkan kita mengecek indeks kualitas udara lewat aplikasi resmi sebelum beraktivitas di luar rumah, dan pastikan angkanya yang terbaru karena kondisi udara bisa berubah dari jam ke jam.

Saat asap menyelimuti Pontianak pada akhir Maret 2026, Wali Kota menyebut udara terutama pada malam hari menjadi sangat tidak sehat. Intinya, makin tinggi kategorinya, makin perlu kita mengurangi paparan. Patokan praktis dari kami ketika di kategori baik atau sedang, aktivitas luar ruangan umumnya masih aman, meski penderita asma tetap perlu waspada. Mulai kategori tidak sehat (101 ke atas), kurangi waktu di luar. Di atas 300, tetap di dalam ruangan kecuali ada urusan mendesak.

Lalu, kapan masker wajib ikut serta? Begitu udara memburuk, BMKG dan Kementerian Kesehatan sama-sama menyarankan kita memakai masker saat berada di luar dan mengurangi aktivitas di luar rumah.

baca juga

Kalau terpaksa keluar, idealnya pilih masker N95 jika tersedia, karena masker bedah kurang efektif menyaring partikel halus, dan pastikan masker pas di wajah. Kacamata dan pakaian lengan panjang juga membantu melindungi mata dan kulit, lalu bersihkan diri sepulang dari luar. Di rumah, cegah asap masuk ke ruangan, batasi aktivitas fisik berat, dan cukupi minum air putih.

Kelompok yang paling rentan, yaitu bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta penderita penyakit paru, jantung, atau asma, sebaiknya lebih banyak di rumah, sementara kebutuhan sehari-hari bisa dibelikan anggota keluarga yang sehat. Asap karhutla memang bisa memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Jadi, jangan menunggu sesak dulu baru peduli. Jika muncul batuk, mata perih, atau kulit gatal berkepanjangan, segera periksa ke puskesmas terdekat.

Dompet Pun Ikut Terpukul

Dampaknya juga tidak berhenti di paru-paru, lho. Dompet pun ikut terpukul. Center for Economic and Law Studies (CELIOS) memperkirakan kerugian ekonomi dan biaya kesehatan akibat karhutla pada Januari-Agustus 2026 berkisar Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun, tergantung cakupan perhitungan dampak kesehatannya.

Kementerian Perhubungan juga mencatat 1.813 penerbangan terdampak sejak 11 Agustus hingga 12 Oktober 2026, dan sebagian besar di antaranya dibatalkan. Dalam ilmu ekonomi, ini disebut eksternalitas negatif: biayanya ditanggung banyak orang, padahal tidak semuanya ikut menyalakan api.

baca juga

Mulai dari Kebiasaan Kecil

Ada beberapa kebiasaan kecil yang bisa kamu mulai hari ini. Cek ISPU dari sumber resmi sebelum keluar rumah, sama seperti kamu mengecek cuaca sebelum memutuskan membawa payung. Kalau mau memantau kualitas udara (PM2.5) di sekitarmu, kamu bisa langsung buka website BMKG.

Jangan membakar sampah atau lahan walaupun terlihat sepele. Ingatkan keluarga dan teman yang punya gangguan pernapasan. Dan kalau ingin membagikan informasi kualitas udara di media sosial, sertakan lokasi dan jam datanya supaya tidak menyesatkan

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

๐Ÿšซ AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.