mengapa api di lahan gambut sulit padam - News | Good News From Indonesia 2026

Mengapa Api di Lahan Gambut Sulit Padam Meski Tidak Terlihat Menyala?

Mengapa Api di Lahan Gambut Sulit Padam Meski Tidak Terlihat Menyala?
images info

Ilustrasi lahan gambut kering yang terbakar | Foto:AI


Kebakaran di lahan gambut dapat terus berlangsung meski api di permukaan tanah sudah tidak terlihat. Penyebabnya, bara dapat merambat di lapisan gambut bawah permukaan, sementara kondisi tanah yang mengering membuat air sulit meresap hingga ke titik pembakaran. Akibatnya, api bisa bertahan lama, meluas tanpa terlihat jelas, dan kembali muncul setelah proses pemadaman.

Kondisi tersebut berkaitan erat dengan karakteristik gambut yang menyimpan bahan organik dalam jumlah besar serta perubahan tata air akibat kemarau dan aktivitas manusia. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Agricultural and Forest Meteorology pada 2022 menunjukkan bahwa risiko kebakaran gambut meningkat ketika muka air tanah turun.

Dalam penelitian di dua wilayah gambut Indonesia, risiko kebakaran tinggi banyak ditemukan saat muka air tanah berada lebih dari 40 sentimeter di bawah permukaan, sedangkan area terbakar teramati ketika muka air turun lebih dalam dari 60 sentimeter. Angka tersebut merupakan hasil penelitian pada lokasi yang dikaji, bukan batas mutlak untuk seluruh lahan gambut.

Api Dapat Menjalar di Bawah Permukaan Tanah

Berbeda dengan kebakaran vegetasi yang menghasilkan kobaran api tinggi, kebakaran gambut dapat berlangsung melalui proses pembaraan atau smoldering. Proses ini terjadi ketika bahan organik terbakar perlahan tanpa selalu menghasilkan nyala api yang terlihat.

baca juga

Gambut terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan yang mengalami pelapukan tidak sempurna dalam kondisi basah. Ketika mengering, bahan organik tersebut dapat menjadi bahan bakar. Api kemudian merambat melalui lapisan gambut, baik secara horizontal maupun vertikal, mengikuti kondisi kelembapan, kerapatan, dan struktur tanah.

Itulah sebabnya, permukaan yang tampak padam belum tentu menandakan kebakaran benar-benar selesai. Bara dapat bertahan di bagian dalam tanah dan kembali memicu kebakaran ketika memperoleh kondisi yang mendukung. Tinjauan ilmiah mengenai kebakaran membara di lahan gambut juga menjelaskan bahwa api bawah permukaan dapat bertahan dalam waktu lama dan sulit dideteksi karena panas yang muncul di permukaan relatif terbatas.

Mengapa Gambut yang Kering Sulit Menyerap Air?

Salah satu faktor penting dalam kebakaran gambut adalah perubahan hubungan antara tanah dan air. Ketika muka air tanah turun, lapisan gambut di atasnya kehilangan kelembapan. Pada materi edukasi yang menjadi acuan pembahasan ini, permukaan gambut mulai mengering ketika muka air berada sekitar 40 sentimeter di bawah permukaan. Namun, kondisi sebenarnya dapat berbeda bergantung pada jenis, ketebalan, dan tingkat pelapukan gambut.

Penurunan muka air dapat dipengaruhi oleh kemarau berkepanjangan serta kanal atau saluran drainase. Kanal umumnya dibuat untuk mengalirkan air dan menurunkan muka air agar lahan lebih mudah dimanfaatkan untuk kegiatan tertentu. Akan tetapi, apabila tata air tidak dikelola dengan baik, pengeringan gambut dapat meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran.

baca juga

Masalahnya, air tidak selalu mampu bergerak naik dari lapisan bawah untuk membasahi permukaan. Proses naiknya air melalui pori-pori tanah disebut kapilaritas. Pada pori-pori yang kecil, air dapat merambat lebih tinggi. Sebaliknya, pada pori yang lebih besar, kenaikan air cenderung lebih terbatas.

Bayangkan selembar tisu yang menyerap air hingga merambat ke bagian atas. Proses tersebut menggambarkan kapilaritas. Namun, gambut memiliki struktur pori yang beragam sehingga kemampuan air menjangkau permukaannya tidak selalu sama. Ketika muka air tanah turun terlalu dalam, lapisan permukaan berisiko kehilangan pasokan air dari bawah.

Gambut Kering Bisa Menolak Air

Persoalan berikutnya adalah sifat hidrofobik, yaitu kondisi ketika permukaan bahan cenderung menolak air. Gambut yang sangat kering dapat mengalami perubahan sifat permukaan sehingga air tidak mudah masuk ke dalamnya.

Dalam kondisi tersebut, air hujan bisa membentuk butiran dan menggelinding di permukaan, menyerupai air di atas daun talas. Fenomena ini berkaitan dengan sudut kontak air yang besar. Dalam ilmu material, permukaan dengan sudut kontak lebih dari 90 derajat umumnya dikategorikan hidrofobik.

baca juga

Kondisi gambut yang sulit menyerap air kembali kerap disebut kering tak balik atau irreversible drying. Istilah ini tidak berarti gambut sama sekali tidak mungkin dibasahi lagi dalam segala kondisi. Artinya, setelah mengalami pengeringan berat, gambut dapat kehilangan kemampuan menyerap air seperti sebelumnya sehingga pembasahan kembali menjadi lebih sulit.

Karena itu, hujan tidak selalu langsung mengembalikan kelembapan gambut hingga ke lapisan yang terbakar. Air yang jatuh ke permukaan belum tentu meresap secara merata dan mencapai bara di bawah tanah. Penelitian tentang pemadaman kebakaran gambut juga menunjukkan bahwa sifat hidrofobik dan distribusi air yang tidak merata dapat menghambat penetrasi air menuju bagian yang membara.

Menjaga Gambut Tetap Basah Lebih Penting daripada Menunggu Api

Kesulitan memadamkan kebakaran gambut menunjukkan bahwa penanganan tidak cukup dilakukan dengan menyiram permukaan yang terlihat terbakar. Air harus mampu mencapai lapisan yang menyimpan bara dan mendinginkan bagian tersebut secara memadai. Jika hanya bagian permukaan yang basah, titik panas di bawah tanah masih berpotensi bertahan.

Penelitian eksperimental yang diterbitkan dalam Fire Technology pada 2024 menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan air menembus gambut dapat membantu proses pemadaman. Namun, efektivitas pemadaman tetap bergantung pada kondisi lapangan, kedalaman pembakaran, dan karakteristik tanah.

baca juga

Karena itu, pencegahan perlu menjadi prioritas. Pengelolaan muka air tanah, pemantauan titik panas, pengawasan kanal, serta pembasahan kembali lahan gambut yang terdegradasi merupakan bagian penting dari upaya mengurangi risiko kebakaran. Masyarakat juga perlu memahami bahwa tidak terlihatnya kobaran api bukan bukti bahwa bahaya telah berakhir.

Pada akhirnya, api di lahan gambut sulit padam karena kebakaran dapat bersembunyi di bawah permukaan, sementara gambut yang mengering bisa semakin sulit menyerap air. Menjaga kelembapan gambut dan mengelola tata air secara tepat bukan sekadar upaya melindungi tanah, melainkan langkah penting untuk mencegah kebakaran berulang, kerusakan ekosistem, dan pencemaran udara akibat asap.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.