Gunung Malabar selalu terasa berbeda sejak langkah pertama memasuki jalurnya. Pendakian melalui Cinyiruan, Pangalengan, menghadirkan suasana yang perlahan berubah. Hamparan kebun teh menyambut seperti karpet hijau yang diam mengamati manusia.
Udara dingin menyusupkan firasat aneh yang sulit dijelaskan. Setelah melewati semak dan pepohonan, lanskap berubah. Kebun sayur warga muncul, diolah petani dengan ketenangan khas pegunungan.
Di sanalah cerita lama mulai berdenyut pelan. Nama Si Hideung Wisesa mulai berbisik dalam pikiran pendaki.
Di jalur menuju pos satu, suasana hutan terasa lebih sunyi dari biasanya. Seekor anjing hitam muncul tanpa suara dari balik pepohonan. Bulunya hitam mulus, matanya tenang, dan langkahnya ringan.
Ia tidak menggonggong, tidak menunjukkan agresi sedikit pun. Anjing itu berjalan mendahului seolah paham tujuan pendaki. Kehadirannya justru memberi rasa aman yang aneh.
Beberapa pendaki mengira ia anjing milik warga. Namun tak satu pun warga mengaku memilikinya. Seolah anjing itu milik jalur itu sendiri.
Ketika jalur bercabang, keraguan sering muncul tanpa aba-aba. Pada saat itulah anjing hitam berhenti dan menoleh perlahan. Ia lalu berjalan ke satu jalur dengan yakin. Tanpa isyarat lain, pendaki mengikuti langkahnya.
Anehnya, jalur itu selalu benar. Setelah beberapa ratus meter, anjing itu berhenti di titik tertentu. Dari balik rimbun, anjing hitam lain muncul menggantikan.
Pergantian itu berlangsung tenang, seperti ritual tak tertulis. Hingga pos satu, ada empat anjing yang mengawal. Mereka seperti estafet bayangan penjaga hutan.

Setelah pos satu, penjaga berikutnya tampak sedikit berbeda. Bulunya tetap hitam, tetapi bagian lehernya berwarna putih. Anjing itu lebih dekat dan tampak lebih bersahabat. Ketika diberi sepotong roti, ia menerimanya tanpa rakus.
Saat itulah suasana berubah kembali. Dari belakang, muncul seorang kakek tanpa suara langkah. Kepalanya berikat udeng, pakaiannya sederhana.
Ia menyapa dalam bahasa Sunda dengan suara tenang. Senyumnya tidak berlebihan, tapi terasa menenangkan.
Kakek itu berkata kalau anjing-anjing tersebut tidak berbahaya. Mereka akan menemani siapa pun yang datang dengan niat baik. Jika pendaki ragu di persimpangan, anjing akan menunjukkan jalan.
Namun kakek itu juga mengingatkan batasan. Jangan berkata kasar dan jangan berteriak di hutan. Jangan merusak pohon atau mengambil tanaman warga.
Gunung, katanya, peka terhadap sikap manusia. Anjing hanya menjalankan tugas menjaga keseimbangan. Gonggongan mereka adalah peringatan, bukan ancaman.
Menurut kakek itu, peringatan sebaiknya tidak diabaikan. Jika diacuhkan, anjing bisa menggigit sebagai bentuk penegasan. Bukan karena marah, melainkan karena aturan.
Kakek itu juga mengatakan anjing dapat dibawa pulang. Namun jangan heran jika mereka menghilang sesampainya rumah. Mereka akan kembali ke Malabar tanpa terlihat.
Sebelum pertanyaan terucap, kakek itu melangkah mendahului. Dalam sekejap, sosoknya lenyap tanpa jejak. Hutan kembali sunyi seperti menelan cerita yang baru saja terdengar.

Cerita lama warga mengaitkan anjing itu dengan Gerald Alfred Grup. Ia dikenal sebagai ahli kina dan pengawas kebun di kaki Malabar. Gerald hidup sendiri tanpa keluarga. Kesepiannya ditemani seekor anjing putih polos.
Anjing itu selalu mengikuti setiap langkah Gerald. Mereka menyusuri kebun, hutan, dan jalur gunung bersama. Tahun-tahun berlalu dalam keheningan yang setia. Hingga suatu hari, Gerald meninggal dunia. Sejak itu, dunia anjing itu runtuh perlahan.
Anjing putih itu meraung setiap hari di sekitar kebun. Suaranya dianggap mengganggu oleh warga. Akhirnya, anjing itu diusir dan naik ke gunung menyusup di antara semak. Namun beberapa hari kemudian, ia kembali ke makam Gerald.
Yang mengejutkan, bulunya berubah menjadi hitam pekat. Warga percaya kesedihan menghitamkan kesetiaannya. Anjing itu tidur di atas makam tanpa bersuara. Di bawah pohon beringin, kisah itu mengendap lama. Sejak saat itu, warga menamainya Si Hideung Wisesa.
Hideung berarti hitam, lambang duka dan keteguhan batin. Wisesa berarti kuasa, kebijaksanaan, dan kendali tak kasatmata. Nama itu dipercaya mengikat peran mistis anjing tersebut.
Ia bukan sekadar hewan penjaga. Ia dipercaya menjadi penghubung antara manusia dan alam. Keanehan lain kemudian muncul perlahan.
Setiap sepuluh tahun, jumlah anjing hitam bertambah satu. Semuanya berwarna hitam dan berjenis kelamin jantan. Jumlahnya kini lima ekor.
Gerald Alfred Grup meninggal pada tahun 1973. Artinya, lebih dari 50 tahun telah berlalu. Namun anjing-anjing itu tetap muncul seperti biasa. Mereka tidak pernah terlihat menua. Mereka tidak pernah terlihat makan atau berburu. Kehadiran mereka muncul dan menghilang begitu saja.
Beberapa pendaki mencoba membawa pulang anjing tersebut. Anjing itu menurut dan jinak di perjalanan. Namun setibanya rumah, ia menghilang. Di saat yang sama, anjing itu sudah berada di jalur Malabar.
Pada malam tertentu, gonggongan terdengar menggema dari hutan. Suaranya tidak menyeramkan, justru terasa mengingatkan. Pendaki yang bersikap buruk sering tersesat tanpa sebab jelas. Pendaki yang menjaga sikap biasanya tiba dengan selamat.
Kabut kadang membuka jalur secara aneh. Jejak kaki anjing terlihat samar di tanah basah. Hutan seolah bernapas mengikuti langkah mereka. Malabar terasa hidup dan mengawasi. Si Hideung Wisesa menjadi simbol penjagaan gunung.
Semua kisah ini hidup dari cerita lisan. Belum ada penelitian resmi yang membuktikannya. Tidak ada dokumen yang benar-benar menguatkannya. Sebagian menganggapnya kebetulan yang dirangkai imajinasi. Sebagian lain memilih percaya dengan penuh hormat.
Gunung Malabar tetap berdiri tanpa menjelaskan. Namun, anjing-anjing hitam itu nyata ada di sana.
Catatan Penting
Cerita Si Hideung Wisesa sendiri adalah fiksi imajinatif yang dibangun berdasarkan setting geografis nyata (Gunung Malabar, jalur Cinyiruan) dan tradisi lisan budaya pendaki lokal.
Elemen seperti anjing hitam penjaga, Gerald Alfred Grup, dan pertumbuhan jumlah anjing setiap sepuluh tahun tidak punya dokumentasi resmi yang dapat dijadikan referensi historis, sehingga bukan berasal dari sumber akademik.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


