Arus perubahan zaman kian melaju tanpa jeda. Di tengah lanskap ekonomi yang terus bertransformasi, ruang digital menjelma menjadi medan baru bagi aktivitas perdagangan. Pola konsumsi masyarakat bergeser, cara berjualan pun dituntut beradaptasi.
Bagi pelaku UMKM, ketertinggalan dalam memanfaatkan teknologi bukan lagi sekadar hambatan, melainkan ancaman bagi keberlangsungan usaha itu sendiri.
Kesadaran akan realitas tersebut mendorong tim KKN Universitas Tidar (Untidar) Tahun 2026 untuk mengambil peran aktif di Desa Tampirkulon, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang.
Melalui program Pendampingan UMKM, mahasiswa KKN berupaya menjembatani pelaku usaha lokal dengan dunia digital yang kian menjadi nadi perekonomian modern.
Program pendampingan ini dilaksanakan selama satu pekan, terhitung sejak Senin, 12 Januari hingga Sabtu, 17 Januari 2026. Bagi tim KKN, digitalisasi tidak dimaknai sebatas mengikuti arus tren, melainkan sebagai kebutuhan mendasar agar usaha warga mampu berkembang serta memiliki daya saing di tengah persaingan pasar yang semakin terbuka dan kompetitif.
Langkah awal kegiatan diawali dengan pendataan UMKM secara komprehensif bersama perangkat desa. Berkolaborasi dengan 6 kepala dusun, tim KKN menyusuri tiap wilayah untuk menjangkau pelaku usaha secara merata. Dari proses tersebut, terhimpun data sebanyak 40 UMKM aktif yang menjadi sasaran utama pendampingan.
Mayoritas UMKM di Desa Tampirkulon merupakan usaha rumahan berbasis pangan. Produk-produk tradisional seperti keripik tempe, rempeyek, pothil, dan yangko selama ini dikenal sebagai oleh-oleh khas daerah yang menjadi denyut utama ekonomi warga.
Potensi produk tersebut sejatinya cukup menjanjikan. Namun, masih terkungkung oleh pola pemasaran konvensional yang mengandalkan relasi personal dan penjualan lokal.
Menjawab tantangan tersebut, tim KKN Untidar memusatkan pendampingan pada aspek digitalisasi usaha yang bersifat aplikatif dan relevan dengan kebutuhan lapangan.
Pendampingan meliputi pendaftaran lokasi usaha pada Google Maps, perancangan logo usaha, pembaruan desain kemasan produk, hingga pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai fondasi legalitas usaha.
NIB menjadi salah satu fokus utama karena posisinya yang strategis dalam ekosistem pengembangan UMKM. Selain berfungsi sebagai identitas legal pelaku usaha, NIB juga membuka akses terhadap berbagai proses lanjutan, seperti pengurusan sertifikasi halal dan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).
Dengan legalitas yang jelas, UMKM diharapkan lebih siap melangkah menuju skala usaha yang lebih besar dan pasar yang lebih luas.
Dalam proses pendampingan, tim KKN juga mencermati persoalan identitas visual produk. Beberapa UMKM sebelumnya telah memiliki logo hasil program Corporate Social Responsibility (CSR) dari salah satu perusahaan bahan makanan (tepung).
Namun, desain yang cenderung seragam dan berbasis template membuat logo tersebut belum sepenuhnya merepresentasikan karakter serta keunikan masing-masing usaha.
Padahal, di era digital, identitas visual memegang peran penting dalam membangun citra, diferensiasi produk, dan kepercayaan konsumen.
Pendampingan yang dilakukan secara langsung ke rumah produksi UMKM ini mendapat sambutan positif dari para pelaku usaha. Nur, salah satu pemilik usaha keripik tempe di Desa Tampirkulon, mengaku pendampingan yang diberikan membuka wawasannya mengenai pentingnya legalitas usaha, khususnya Nomor Induk Berusaha.
“Saya baru paham kalau NIB itu bukan sekadar urusan izin, tapi juga penting untuk pengembangan usaha ke depannya,” tuturnya.
Melalui program Pendampingan UMKM ini, KKN Untidar berharap pelaku usaha di Desa Tampirkulon tidak hanya memperoleh luaran berupa logo, kemasan, atau akun digital semata, tetapi juga tumbuh kesadaran kolektif akan pentingnya adaptasi terhadap perubahan zaman.
Digitalisasi diyakini dapat menjadi gerbang awal untuk memperluas akses pasar, meningkatkan nilai tambah produk, serta memperkuat kemandirian ekonomi desa.
Kolaborasi antara mahasiswa KKN, perangkat desa, dan pelaku UMKM menjadi cermin bahwa penguatan ekonomi lokal dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana namun bermakna.
Dengan pendampingan yang berkelanjutan dan semangat untuk terus belajar, UMKM Desa Tampirkulon diharapkan mampu tumbuh kokoh di tengah dinamika era digital yang terus bergerak tanpa henti.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


