dinamika perundungan di indonesia menggunakan a silent voice sebagai cermin - News | Good News From Indonesia 2026

Dinamika Perundungan di Indonesia: Menggunakan “A Silent Voice” sebagai Cermin

Dinamika Perundungan di Indonesia: Menggunakan “A Silent Voice” sebagai Cermin
images info

Ilustrasi Artikel | MyAnimeList,Pexels | admin,RDNE Stock project


Semasa penulis masih mengenyam bangku SD, ada satu teman penulis yang secara penampakannya seperti ‘tidak meyakinkan’. Teman tersebut dapat diketahui berinisial “E”. Memang, dia terkesan kumal dan kurang berkarakter bila ditinjau secara umum.

Sosok E ini dijumpai seringnya jajan ke kantin sendirian, asyik dengan dunianya sendiri. Ketika guru menyuruh untuk membentuk kelompok belajar, E kerap mengalami “pupuk bawang”, yaitu keadaan tidak diperhitungkan sebagai anggota kelompok.

Itu pun biasanya harus ada yang mau mengalah agar diterima masuk kelompok. Padahal, performa belajar E sejatinya normal seperti mayoritas anak yang lain, tidak ada indikasi disabilitas.

Sekadar informasi, penulis punya saudara perempuan dengan disabilitas pada motorik kasar. Seluruh anatomi kakinya berkembang tidak dengan semestinya.

Secara imajinatif, jika kaki manusia itu umumnya lurus-tegak dan menapak bumi, kaki dari saudara penulis menunjukkan abnormalitas dengan tampak seperti ‘tumbuh mata kaki baru’, sehingga dilihatnya memiliki dua mata kaki dalam satu tungkai. Alhasil, bentuk kakinya itu tidak bisa lurus, menyulitkannya berjalan dan perlu dibantu dengan alat.

baca juga

Sehubungan dengan saudara penulis, pernah ada satu kejadian ironis ketika ia duduk di bangku TK. Dikisahkan dia ini mengikuti pelajaran berenang yang diadakan oleh suatu sekolah.

Mengingat kondisinya tersebut, tentu para tenaga pendidik seharusnya telaten dalam mengurus saudara penulis. Sampai akhirnya, terjadilah momen yang bikin naik darah itu.

Ketika pelajaran telah usai, bukannya ditolong untuk segera bersih diri, ternyata ada oknum guru yang malah membiarkan saudara penulis tidak terurus—ditinggal sendirian duduk di luar dengan basah kuyup hingga menggigil kedinginan.

Akhir cerita, keluarga memutuskan untuk tidak melanjutkan kegiatan akademik di sana demi mencegah hal semacam itu terulang lagi.

Dari ilustrasi tersebut, perundungan atau bullying sangatlah dekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Merujuk GoodStats (5/10/2025), kasus perundungan di Indonesia terdeteksi meningkat drastis sejak 2020 hingga 2024. Tercatat jumlah kasus per 2020 adalah 91, naik tajam jadi 573 per 2024! Ini memperlihatkan betapa gentingnya dinamika perundungan nasional.

Manifestasi perundungan yang paling banyak adalah perundungan fisik sekitar 55,5%, mencakup pemukulan, penendangan, dan bentuk kekerasan sejenis.

Pada posisi berikutnya, perundungan verbal atau psikis adalah terbanyak kedua sekitar 29,3%, mencakup cemoohan, pengucilan, hingga perendahan akan martabat individu yang berpengaruh terhadap stabilitas mental.

Mirisnya, tren cyberbullying atau perundungan daring di internet ikut memperkeruh keadaan. Laporan SAFEnet pada kuartal pertama 2024 menunjukkan adanya peningkatan kasus lebih dari 100% sejumlah 480 kasus.

Lonjakan kasus tersebut memberikan kita ilham sekaligus konfirmasi bahwa perundungan itu bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dilakukan oleh siapa saja, hingga dalam media mana kita menyatakannya. Bukan suatu kemustahilan jikalau kasus perundungan mungkin saja terus meningkat dari sejak dikalkulasinya kasus yang tercatat.

Teringat akan Kisahnya Nishimiya Shouko dan Ishida Shouya

Adakah Kawan GNFI di sini yang pernah menonton A Silent Voice? A Silent Voice merupakan anime dalam bentuk movie berdurasi sekitar 130 menit yang divisualisasikan oleh Kyoto Animation, resmi tayang pada 17 September 2016. Diciptakan oleh Yoshitoki Ooima, A Silent Voice pertama kali diterbitkan sebagai manga (komik) one-shot pada Februari 2011. Benar, anime ini diadaptasi dari manga yang beliau buat, dengan disutradarai oleh Naoko Yamada.

A Silent Voice menceritakan tentang dinamika kehidupan seorang anak perempuan yang tunarungu bernama Nishimiya Shouko beserta anak laki-laki yaitu Ishida Shouya. Ketika itu, Shouya bertemu dengan Shouko yang pertama kali datang ke sekolahnya dan berada di kelas yang sama.

Pada awalnya, semua anak di kelas tersebut—termasuk Shouya sendiri—tidak pernah menyangka bahwa mereka akan punya teman dengan disabilitas.

Selama berinteraksi dengan anak-anak yang lain, Shouko sebenarnya bisa diajak berkomunikasi, meski memang tidak begitu lancar. Ia diperlihatkan memakai alat bantu dengar dan memiliki yang disebut ‘buku komunikasi’ agar mudah dalam menyampaikan sesuatu.

baca juga

Mengingat kestabilan emosi khas anak yang belum dewasa dan lugu, mendapati kondisi Shouko yang demikian membuat mereka kerap menjahilinya. Masalahnya, tingkat kejahilan mereka kian tak terkendali.

Tokoh utama dalam hal ini adalah Shouya, dan juga Naoka Ueno—perempuan yang merupakan partner in crime-nya Shouya untuk merundung Shouko.

Hari-hari Shouko selalu berjalan dengan gangguan tiada henti. Setidaknya, ada tiga bentuk perundungan yang paling membekas dalam cerita: mengolok-olok suara Shouko saat pelajaran membaca, mencoret-coret buku komunikasi dengan isian yang tidak pantas dan dibuang ke kolam. Bahkan, Shouya—dibantu Nao—suka mempermainkan Shouko dengan melempar alat bantu dengarnya jauh entah ke mana hingga telinga Shouko sampai berdarah.

Akumulasi kejadian tersebut akhirnya diketahui oleh pihak sekolah dan orang tua Shouko. Shouya sebagai “dalangnya” pun terkena hukum tabur-tuai: dia dicap berandalan dan dijauhi, bahkan oleh teman satu gengnya sendiri.

Kisah berlanjut saat SMA, yang mana Shouya menjumpai Shouko lagi di sekolah yang sama pula. Ia sedari dulu ingin sekali berteman dengan Shouko, berusaha memperbaiki apa yang pernah dilakukannya.

Uniknya, Shouya bahkan bisa dipertemukan dengan kawan lamanya yang telah berpisah. Namun bagaikan bom waktu, memori bahwa Shouya dulunya yang seorang tukang bully kembali terungkit, mengakibatkan ikatan pertemanan jadi cepat merenggang.

Singkat cerita, karena tidak ingin dianggap beban lagi, Shouko memutuskan bunuh diri dengan melompat dari balkon apartemen. Shouya yang kebetulan berada di tempat langsung menghentikannya.

Apa daya, walaupun dapat menyelamatkan Shouko, ia justru terjatuh sampai koma berhari-hari di rumah sakit. Momen sakratulmaut berupa mimpi yang terjadi antara Shouya dan Shouko adalah titik balik krusial guna mengubah semuanya. Pada akhirnya, Shouya, Shouko, dan teman-temannya merekonsiliasi hubungan yang sempat renggang itu.

Pembelajaran

A Silent Voice kiranya dapat mengintrospeksi Kawan GNFI, bahwa jikalau perundungan tidak segera diatasi, cepat atau lambat akan muncul korban jiwa. Bila jeli memahami plotnya, anime ini secara gamblang mengejawantahkan Bystander Effect, yaitu situasi “kebisuan kolektif” tatkala menyaksikan seseorang dipersekusi agar tidak merasakan inti kesulitan yang berlangsung.

Sederhananya, walau tahu korban dirundung pelaku, namun orang lain cenderung menahan diri biar tidak kecipratan masalah.

baca juga

Lantas, bagaimana untuk mengantisipasi Bystander Effect? Jawabannya adalah belajar berempati. Menyadur alodokter.com, upaya menumbuhkan empati bisa dengan memperbanyak bersosialisasi, peka dengan bahasa tubuh lawan bicara, hingga coba menempatkan diri terhadap kondisi yang sedang dialami oleh lawan bicara.

Noboru dkk. (2021) dalam diseminasinya berjudul, “School-based education to prevent bullying in high schools in Indonesia” turut menekankan supaya makin digalakkannya pendidikan moral, agama, serta kewarganegaraan ditengah segala ketidakpastian sosial, terutama di era digital kini.

Akhir kata, mari kita bertanya ke diri sendiri:

Sudahkah aku menolong orang yang kena bullying?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

PR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.