mengapa kita sering mengatakan spill dan core begini cara generasi z ubah bahasa indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Mengapa Kita Sering Mengatakan "Spill", dan "Core"? Begini Cara Generasi Z Ubah Bahasa Indonesia

Mengapa Kita Sering Mengatakan "Spill", dan "Core"? Begini Cara Generasi Z Ubah Bahasa Indonesia
images info

Foto oleh form PxHere


Pernahkah Kawan tanpa sadar mengucapkan kata spill, core, healing, POV, atau delulu saat berbincang dengan teman? Beberapa tahun lalu, istilah-istilah tersebut mungkin terdengar asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.

Namun kini, kata-kata itu dengan mudah ditemukan dalam percakapan sehari-hari, unggahan media sosial, bahkan mulai masuk ke berbagai konten media digital.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa bahasa Indonesia sedang mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan budaya digital.

Media sosial, khususnya TikTok, telah menjadi salah satu ruang yang paling berpengaruh dalam membentuk kebiasaan berbahasa masyarakat. Platform ini bukan hanya tempat berbagi video pendek, tetapi juga menjadi ruang lahirnya berbagai tren, ekspresi, hingga kosakata baru yang kemudian digunakan oleh jutaan orang.

Dalam hitungan hari, sebuah istilah yang awalnya hanya digunakan oleh satu kreator dapat menyebar luas dan menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.

baca juga

Salah satu contohnya adalah kata spill. Dalam bahasa Inggris, spill berarti "menumpahkan". Namun, di media sosial Indonesia, maknanya bergeser menjadi "membocorkan" atau "membagikan informasi".

Kalimat seperti "Spill dong skincare-nya!" atau "Spill tempat makannya!" kini sangat lazim ditemui. Menariknya, sebagian besar pengguna memahami makna tersebut tanpa perlu menerjemahkannya secara harfiah.

Hal serupa juga terjadi pada istilah core. Jika dalam bahasa Inggris kata ini berarti "inti" atau "pusat", di TikTok maknanya berkembang menjadi penanda gaya hidup, suasana, atau identitas tertentu.

Muncul berbagai istilah seperti office core, clean girl core, study core, hingga village core. Penggunaan kata core tidak lagi sekadar merujuk pada arti kamus, tetapi menjadi cara baru untuk menggambarkan karakter atau estetika seseorang.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bukanlah sesuatu yang kaku. Bahasa selalu berubah mengikuti perkembangan masyarakat yang menggunakannya. Seiring berubahnya cara manusia berkomunikasi, bahasa pun ikut beradaptasi.

Dahulu perubahan bahasa berlangsung melalui interaksi langsung dalam kehidupan sehari-hari. Kini, proses tersebut terjadi jauh lebih cepat karena didukung oleh media sosial dan algoritma digital.

Generasi Z menjadi kelompok yang paling besar pengaruhnya dalam perubahan ini. Sebagai generasi yang tumbuh bersama internet, mereka terbiasa berkomunikasi melalui media digital sejak usia muda. Kreativitas mereka dalam menciptakan istilah baru, memodifikasi makna kata, hingga menggabungkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris melahirkan bentuk komunikasi yang khas.

Tidak sedikit kosakata yang awalnya hanya digunakan di TikTok kemudian menyebar ke Instagram, X, YouTube, bahkan percakapan di dunia nyata.

Selain spill dan core, masih banyak istilah lain yang mengalami perkembangan serupa, seperti POV, FOMO, brainrot, delulu, relate, red flag, hingga bestie.

baca juga

Sebagian merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, sementara sebagian lainnya mengalami perubahan makna setelah digunakan secara berulang oleh komunitas digital.

Proses ini menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya sedang membangun kesepakatan makna baru terhadap berbagai istilah tersebut.

Tidak sedikit orang yang khawatir bahwa maraknya penggunaan bahasa gaul dan istilah asing akan merusak bahasa Indonesia. Kekhawatiran tersebut memang dapat dipahami, terutama jika penggunaan bahasa asing mulai menggantikan kosakata bahasa Indonesia dalam situasi formal.

Namun, dari sudut pandang linguistik, perubahan bahasa merupakan sesuatu yang wajar. Hampir semua bahasa di dunia berkembang melalui proses serapan, inovasi, dan perubahan makna.

Bahasa Indonesia sendiri sejak dahulu telah menyerap kosakata dari bahasa Sanskerta, Arab, Belanda, Portugis, hingga Inggris. Artinya, perubahan bukanlah tanda kemunduran, melainkan bagian dari dinamika bahasa.

Yang perlu diperhatikan adalah kemampuan masyarakat dalam menempatkan penggunaan bahasa sesuai konteks. Menggunakan istilah seperti spill atau core dalam percakapan santai tentu berbeda dengan penulisan karya ilmiah, dokumen resmi, atau komunikasi akademik yang tetap mengutamakan kaidah bahasa Indonesia baku.

Kesadaran terhadap konteks inilah yang menjadi kunci agar perkembangan bahasa tidak mengurangi fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa media sosial tidak hanya mengubah cara kita memperoleh informasi, tetapi juga mengubah cara kita berbicara. TikTok telah menjadi ruang tempat bahasa berkembang secara kolektif.

baca juga

Setiap pengguna memiliki kesempatan yang sama untuk menciptakan istilah baru, menyebarkannya melalui konten, lalu melihatnya digunakan oleh ribuan bahkan jutaan orang. Bahasa yang dahulu berkembang dalam rentang waktu bertahun-tahun kini dapat berubah hanya dalam hitungan hari.

Pada akhirnya, kata-kata seperti spill dan core bukan sekadar tren sesaat. Kehadirannya mencerminkan bagaimana Generasi Z beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus menunjukkan bahwa bahasa Indonesia terus hidup mengikuti perubahan zaman.

Selama digunakan secara bijaksana dan sesuai konteks, kemunculan kosakata baru justru menjadi bukti bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa yang dinamis, terbuka terhadap perkembangan, dan mampu mengikuti ritme masyarakat digital.

Alih-alih menganggapnya sebagai ancaman, fenomena ini dapat dipandang sebagai bagian dari perjalanan bahasa Indonesia yang terus tumbuh bersama generasi yang menggunakannya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

TA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.