dari polstat stis ke pidie jaya saat kumpulan data menjadi cahaya harapan bagi korban banjir sumatra - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Polstat STIS ke Pidie Jaya: Saat Data Menjadi Cahaya Harapan bagi Korban Banjir Sumatra

Dari Polstat STIS ke Pidie Jaya: Saat Data Menjadi Cahaya Harapan bagi Korban Banjir Sumatra
images info

Dari Polstat STIS ke Pidie Jaya: Saat Data Menjadi Cahaya Harapan bagi Korban Banjir Sumatra


Di tengah hamparan lumpur yang mengering, Yoga Prawira sibuk mengamati kondisi sekitar di Gampong Manyang Lancok, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Sesekali, jemarinya bermain di atas layar ponsel pintar. Di sekelilingnya, terdapat rumah-rumah yang hanya terlihat atapnya, efek dari timbunan lumpur yang sedemikian tinggi.

Di Pidie Jaya, Yoga bersama rekan-rekannya sesama mahasiswa tingkat tiga di Politeknik Statistika (Polstat) STIS tengah melakukan pendataan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pendataan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana yang dijalankan Badan Pusat Statistik (BPS).

Para mahasiswa yang jumlahnya 510 orang, termasuk Yoga dan rekan-rekannya di Pidie Jaya, mulai ditugaskan ke tiga daerah terdampak banjir Sumatra, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sejak Rabu (14/1/2026). Selama sekitar 12 hari, mereka mengumpulkan data dari lokasi bencana yang nantinya akan dimanfaatkan agar penyaluran bantuan kepada korban banjir dan pembangunan kembali infrastruktur bisa tepat sasaran.

Di lokasi bencana seperti Pidie Jaya yang pada November 2025 lalu dihantam banjir besar, melakukan pendataan bukan perkara mudah. Apalagi, para mahasiswa yang dikirim baru pertama kali melakukan kerja lapangan.

"Ternyata di sini bencana itu tergolong berat karena ada lumpur yang setinggi atap, debunya berkerumun," ujar Yoga kepada GNFI, Sabtu (17/1/2026) lalu.

Pada hari-hari pertama pendataan, para mahasiswa di Pidie Jaya harus menghadapi cuaca panas terik yang menyelimuti Aceh, belum lagi debu tebal dari lumpur banjir yang mengering. Bahkan, ada pula momen ketika mereka dihadapkan pada suasana yang jauh berbeda dengan kampung halaman atau lingkungan kampus mereka.

"Banyak hewan berkeliaran seperti kambing dan sapi. Itu mengejutkan karena di Jakarta tidak ada," kata mahasiswa asal Jakarta, Putri Yuli Yanti, sembari tersenyum lebar.

Terlepas dari berbagai situasi yang ada, pendataan tetap dijalankan. Setiap hari, para mahasiswa mengumpulkan dan mencatat data terkait kondisi masyarakat serta infrastruktur fisik yang terdampak banjir. Data rinci dan mutakhir yang terkumpul kemudian akan dijadikan dasar perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi.

"Kegiatan PKL ini bukanlah sekadar pemenuhan kewajiban akademik, tetapi juga merupakan panggilan kemanusiaan dan merupakan bagian penting dari proses pembelajaran berbasis praktik yang akan dirancang untuk membentuk Saudara nantinya menjadi calon insan statistik negara yang profesional, berintegritas, dan memiliki jiwa pengabdian kepada bangsa, negara, dan masyarakat," kata Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti.

baca juga

Pendataan oleh Mahasiswa Polstat STIS Disambut Positif

Kehadiran mahasiswa Polstat STIS dalam rangka pendataan pascabencana di Aceh Tamiang disambut positif. Pendataan ini diyakini akan membantu berjalannya proses rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak bencana, khususnya Pidie Jaya.

"Kehadiran adik-adik mahasiswa dalam rangka pendataan itu mempercepat proses R3P (Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana) di Kabupaten Pidie Jaya," tutur Kepala BPS Kabupaten Pidie Jaya, Fakhriadi, S.P., M.S.M.

Saat banjir besar melanda Sumatra, sejumlah kecamatan di Pidie Jaya turut terendam. Tak hanya Meureudu tempat Yoga dan Putri melakukan pendataan, ada pula kecamatan lain yang tak luput dari banjir seperti Meurah Dua dan Ulim.

Sekitar dua bulan setelah peristiwa banjir, Pidie Jaya belum sepenuhnya pulih. Aktivitas masyarakat memang sudah berangsur normal dan kegiatan perekonomian kembali aktif, akan tetapi masih ada warga yang tinggal di pengungsian dan banyak bangunan yang masih tertimbun serta belum dibersihkan dari lumpur.

Hal tersebut diakui sendiri oleh Geuchik Gampong Mesjid Tuha, Dedy Kuesnedy, yang menjelaskan bahwa kondisi gampong yang dipimpinnya belum sepenuhnya pulih. Maka dari itulah, ia pun menyambut baik pendataan oleh mahasiswa Polstat STIS di gampong di Meureudu yang dipimpinnya itu.

"Data ini akan langsung terkoneksi dengan pemerintah pusat dan harapan kami, dengan data yang dihimpun adik-adik mahasiswa ini, dapat memberi dampak yang sangat besar bagi masyarakat kami untuk mencapai pemulihan pascabanjir," kata Dedy.

Di samping mengumpulkan data, kegiatan ini punya makna penting lain. BPS berharap agar pendataan di wilayah bencana juga menjadi ruang belajar kehidupan, asah profesionalisme, serta punya rasa empati dan kepemimpinan sejak dini.

Agaknya, nilai-nilai itu juga yang langsung terserap oleh mahasiswa sejak hari-hari pertama mereka turun ke lokasi bencana. Salah satu pelajaran penting yang didapat: Bantuan sangat dibutuhkan oleh mereka yang menjadi korban bencana.

"Turun ke lapangan itu terasa sekali hidup susahnya. Ternyata teman-teman yang terdampak banjir itu butuh bantuan kita," pungkas Yoga.

baca juga

 

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.

AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.